Cerita Inspiratif
Tempayan Retak

0
218
Ilustrasi Foto : Net

Alkisah di Negeri India, ada seorang tukang air yang memiliki dua tempayan. Namun dari kedua tempayan air itu satu diantaranya retak. Masing-masing tempayan itu bergantung pada kedua ujung bilah bambu yang licin dan mengkilap sebagai pikulan yang dibawa menyilang pada bahu si tukang air.

Kedua tempayan air itu mempunyai fungsi yang sama yaitu membawa air yang dilakukan si tukang air untuk mengisi bak mandi di rumah majikannya. Dari sumber mata air, kedua tempayan itu diisi penuh oleh si tukang air. Namun sesampainya di kamar mandi rumah majikan, air yang dituangkan ke bak mandi justru tidak pernah utuh sebagaimana isinya sebanyak 2 buah tempayan, melainkan hanya 1,5 tempayan. Dan kisah ini berjalan selama 2 tahun lamanya.

Bagi tempayan yang utuh ia merasa bangga dan merasa sudah menjalan amanah lantaran selalu membawa air secara penuh hingga ke bak mandi majikan si tukang air. Sebaliknya bagi tempayan retak ia merasa malu atas ketidaksempurnaannya dan merasa tidak percaya diri karena air yang dituangkan ke bak mandi majikannya hanya separuhnya setiap hari selama 2 tahun.

“Saya sungguh malu pada diri saya sendiri dan mohon maaf kepadamu (tukang air)”, ungkap si tempayan retak.

“Kenapa harus malu ?”, tanya si tukang air.

“Selama 2 tahun ini saya cuma mampu mengisi separuh dari kapasitas air yang seharusnya. Retakan di tubuh saya telah membuat air yang saya bawa jatuh sepanjang jalan menuju rumah majikan kita. Cacat pada tubuh ini saya telah membuatmu rugi dan saya merasa tidak menjalankan amanah sepenuhnya”, lanjut tempayan itu.

Baca Juga : Belajar Dari Tukang Bakso

Si tukang air merasa iba dengan pengakuan si tempayan retak. Namun si tukang air tetap ingin meyakinkan bahwa tempayan air sudah menjalankan amanah dan bahkan sudah memberikan sesuatu yang lebih dibanding tempayan air yang tak retak.

“Ketika kita kembali ke rumah majikanku besok, aku ingin kamu memperhatikan bunga-bunga indah di sepanjang jalan”, kata si tukang air meyakinkan tempayan air yang retak.

Keesokan harinya, si tempayan retak memperhatikan dan baru menyadari bahwa ada bunga-bunga indah di sepanjang sisi jalan. Dan itu membuatnya sedikit terhibur. Namun di akhir perjalanannya, si tempayan retak kembali bersedih dan lagi-lagi karena air yang dibawanya banyak yang terbuang di sepanjang jalan tersebut.

“Memang benar banyak bunga dan sepanjang jalan menuju rumah majikan terlihat indah. Tapi atas pekerjaan ini, saya tetap tidak bisa membawa air dengan penuh”, ucap tempayan retak lagi dengan wajah sedih.

Baca Juga : Sepatu Terakhir

“Kamu sudah menyadari banyak bunga-bunga di sepanjang jalan di sisimu, bukan ? Itu karena aku selalu menyadari akan cacatmu. Aku memanfaatkan tetesan air yang jatuh dan secara tidak langsung air yang jatuh dari sela-sela keretakan tubuhmu untuk menyiram bunga yang sudah aku tanam selama ini. Setiap hari ketika kita melintasi jalan menuju rumah majikanku, setiap hari pulalah kamu menyirami benih-benih bunga itu. Selama dua tahun ini pula aku telah memetik bunga-bunga indah untuk menghias meja majikanku. Tanpa kamu, sepanjang jalan ini mungkin akan terus gersang”, papar si tukang air dengan mengelus tempayan air yang retak.

========================================================

Kisah di atas menginspirasi kepada kita bahwa tidak ada segala sesuatu di dunia ini yang sempurna. Termasuk juga seluruh Hamba-Nya. Karena kesempurnaan hanya milik Allaah Subhana Wa Ta’ala. Namun yakinlah, dibalik setiap kekurangan, kelemahan dari diri seorang Hamba-Nya ada manfaat bagi sesama.

Setiap orang mendambakan menjadi yang terbaik. Sebagai seorang muslim, orientasi hidup untuk menjadi yang terbaik bukanlah dinilai dari ukuran manusia semata, tetapi karena ridha Allaah Ta’ala.

Menjadi pribadi yang bermanfaat adalah salah satu karakter yang harus dimiliki oleh seorang Muslim. Setiap Muslim diperintahkan untuk memberikan manfaat bagi orang lain.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda :

خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, Ath-Thabrani, Ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh Al-Albani di dalam Shahihul Jami’ No:3289)

 

 

[Cerita ini disadur dari : KisahInspiratif.com yang dipublis kembali versi redaksibengkulu.co.id]

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.