Indahnya Keharmonisan Nyepi Di Suro Bali Kepahiang

Laporan : Hendra Afriyanto

Nyepi di Desa Suro Bali Kecamatan Ujan Mas Kabupaten Kepahiang Provinsi Bengkulu. (Foto : Hendra Afiyanto/RedAksiBengkulu)

RedAksiBengkulu.co.id, KEPAHIANG – Jika di Provinsi Bali, pada perayaan Hari Raya Nyepi, seluruh akivitas masyarakat dihentikan. Adalah suatu kewajaran karena masyarakat di Bali didominasi umat beragama Hindu.

Di Kecamatan Ujan Mas Kabupaten Kepahiang Provinsi Bengkulu, ada sebuah desa yang sebagian masyarakatnya didominasi umat Hindu. Desa itu adalah Desa Suro Bali. Meski didominasi Hindu, namun pada Hari Raya Nyepi di desa ini tidak seperti di Provinsi Bali.

Aktivitas desa masih berjalan seperti biasanya, karena di desa ini sebagian lagi banyak juga yang beragama Islam, Budha dan Kristen. Pun demikian, masyarakat di desa ini saling menghormati dan menghargai antar umat beragama. Khususnya pada perayaan Nyepi kali ini.

“Nyepi di sini tidak ada beda dengan hari-hari biasa. Walau kami sedang Nyepi, masyarakat non Hindu, tetap beraktivitas seperti biasanya. Setiap Nyepi, kami juga tidak pernah menutup akses jalan desa. Tidak ada yang khusus pokoknya dan semua biasa saja”, kata Tokoh Hindu, Ketut Santike kepada RedAksiBengkulu.co.id.

 

Baca Juga :

Desa Suro Bali, Desa ‘Bhinneka Tunggal Ika’ Indonesia di Sudut Kabupaten Kepahiang

 

Bedanya pada Hari Raya Nyepi, sambung Ketut Santike, masyarakat Hindu khusyuk dengan ibadahnya. Yang mana, masyarakat (khusus Hindu) berdiam diri di rumah dan melaksanakan ‘Catur Brata’.

Ucapan Selamat Hari Raya Nyepi dari aparat keamanan yang berjaga. (Foto : Hendra Afriyanto/RedAksiBengkulu)

Catur Brata adalah, Penyepian yang terdiri dari Amati Geni yang artinya tidak boleh menyalakan dan menghidupkan api. Amati Karya, maksudnya tidak boleh ada aktivitas, Amati Lelungan, tidak boleh berpergian  dan Amati Lelanguan, yang artinya tidak boleh ada aktivitas hiburan atau foya-foya.

“Mulai hari ini (Puncak Nyepi), sampai besok (Rabu 29 Maret 2017) sekira pukul 06.00 WIB, kami umat Hindu khusyuk ibadah”, sambung Ketut Santike.

Di sisi lain, salah seorang warga setempat, Doni Alpian yang notabene Muslim mengatakan, meski pihak desa tidak menutup akses jalan desa mengingat umat Hindu sedang Nyepi, namun ia wajib menghargai warga desanya yang sedang Nyepi.

“Meski diperbolehkan lewat pastinya kami tetap menjaga keharmonisan di lingkungan desa. Walau saya Muslim, saya tetap menghargai dan menghormati umat Hindu yang sedang ibadah”, tutur Doni.

Pantauan RedAksiBengkulu.co.id aparat keamanan dari Polsek Ujan Mas juga terlihat berjaga di desa. Suasana desa pun berjalan aman dan kondusif.

Comments

comments

Facebooktwittermail

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *