Kanopi : Merdekakan Bengkulu dari Energi Kotor, Stop Polusi Batubara !!

Spanduk bertuliskan “Merdeka dari Energi Kotor, Stop Polusi Batubara”, di 4 titik di Kota Bengkulu oleh Kanopi. (Foto : ist)

RedAksiBengkulu.co.id,BENGKULU – Rencana Pemerintah Daerah untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batubara sebesar 200 Mega Watt (MW) di Pulau Baai Kota Bengkulu Provinsi Bengkulu mendapat kritikan dari penggiat lingkungan Kanopi Bengkulu. Pasalnya, pembakaran batubara yang dihasilkan oleh PLTU akan mencemari udara.

“Bila pembangkit ini berdiri, sebanhak 2.900 ton batubara akan dibakar perhari dan dampaknya jelas, polusi udara akan menghantui masyarakat sekitar bahkan nelayan di Kelurahan Teluk Sepang akan terancam terusir dari wilayah ruang kelola mereka mencari ikan”, ujar Ketua Kanopi Bengkulu, Ali Akbar saat melakukan Aksi Simpatik di Kota Bengkulu, Rabu (16/08/2017) pagi.

Ali menambahkan, pembakaran batubara akan mencemari udara dengan polutan SO2, NOx dan PM 2,5 yang ditambah hujan asam, emisi logam berat seperti merkuri, arsenik, nikel, kromium dan timbal yang dapat memicu penyakit stroke, jantung insemik, kanker paru-paru hingga kardiovaskular.

“Oleh karena itu, pemerintah harus mengurangi ketergantungan terhadap batubara karena dapat menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan manusia. Batubara bukan solusi untuk memenuhi listrik di Bengkulu karena pembakarannya justru menjadi sumber polusi yang menurunkan kualitas hidup”, papar Ali.

Seruan Kanopi Bengkulu ditunjukkan dengan membentangkan spanduk yang bertuliskan “Merdeka dari Energi Kotor, Stop Polusi Batubara”, di 4 titik. Yaitu Simpang Lima Ratu Samban, Kantor Gubernur Bengkulu, DPRD Provinsi Bengkulu dan Kelurahan Teluk Sepang.

Dengan aksi seruan ini diharapkan pemerintah dapat menghentikan penggunaan batubara sebagai sumber energi listrik dan segera beralih ke energi bersih terbarukan seperti tenaga surya, tenaga angin, tenaga air, panas bumi, dan tenaga gelombang laut.

 

 

 

 

 

 

Laporan : Tata Riri
Editor : Aji Asmuni

Comments

comments

Facebooktwittermail

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *