Stop PHK Massal, Serikat Pekerja Danamon Bengkulu Resmi Dibentuk

0
273
Foto bersama karyawan Bank Danamon Bengkulu setelah acara Deklarasi Sepultura Danamon. [Foto : ist]

RedAksiBengkulu.co.id, BENGKULU – Sabtu (7/4/2018), sejumlah karyawan Bank Danamon Bengkulu resmi mendeklarasikan terbentuknya Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Serikat Pekerja (SP) Provinsi Bengkulu. Terbentuknya serikat pekerja ini guna menyampaikan Sepuluh Tuntutan Rakyat (Sepultura) Danamon, yang salah satunya berisi Stop Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) Massal.

Ketua SP Danamon Provinsi Bengkulu, James Byekher,  terbentuknya serikat pekerja tersebut guna memfasilitasi  seluruh permasalahan yang terjadi antara karyawan dan manajemen agar bisa seadil-adilnya sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan karyawan.

Hadirnya pengurus SP Danamon ini juga penting dalam rangka menjalankan fungsi serikat pekerja yaitu untuk melindungi, membela dan memperjuangkan hak, kepentingan dan kesejahteraan seluruh pekerja di Bank Danamon. Selain itu juga sebagai sarana membangun hubungan industrial yang harmonis dan berkeadilan sebagaimana amanat Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja.

Selama ini, lanjut James, pihak manajemen kurang memperhatikan kesejahteraan karyawan dan sering membuat keputusan sepihak yang sangat merugikan karyawan.

“Kepada pihak manajemen, darii Sepultura itu, Stop PHK massal. Untuk tahun ini memang belum ada PHK, tapi tahun sebelumnya itu ada PHK massal. Khusus Bengkulu, intinya kami menuntut untuk Stop PHK massal. PHK boleh tetapi bayarkan hak-hak karyawan”, jelasnya.

Tahun ini, sambung James, Alhamdulillaah dari 10 tuntutan itu yang terkait karyawan kontrak mulai 2018 ini dihapuskan dan semuanya diangkat untuk menjadi karyawan tetap.

“Kalau 2017 lalu itu memang bukan PHK. Tapi ada program pensiun dini lalu dicari-cari kesalahan untuk karyawan sehingga mereka membayarkan upah murah untuk karyawan,” bebernya.

Sementara itu, Pelaksana tugas (Plt) Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah yang hadir menjelaskan, setiap pekerja itu di satu sisi memang harus dilindungi dan disisi lain juga diberdayakan. Kalau produktifitas pekerja ini meningkat maka perusahaan akan makin berkembang dan sehat sehingga kebutuhan dan tuntutan pekerja pun bisa terpenuhi. Sementara di satu sisi, pihak perusahaan kadang tidak memperhatikan hak-hak pekerja sehingga akan memicu konflik antara perusahaan dan pekerja.

“Itu kerugian besar sebenarnya. Maka tadi saya katakan, serikat pekerja untuk meningkatkan produktifitas kerja dan bangun rasa memiliki terhadap perusahaan. Perusahaan juga akan berkembang dan semua karyawan nanti lebih sejahtera”, paparnya.

Sepultura yang disuarakan para karyawan bank itu sejak 2016 yakni ;

  1. Stop PHK Massal,
  2. Jangan Rampok Uang Cuti,
  3. Tolak Pengurangan Dana Pensiun DPLK Manulife,
  4. Hentikan Training Cara PHK Karyawan,
  5. Batalkan COCP dan Kembalikan COP + pilihan,
  6. Kembalikan Benefit Asuransi,
  7. Tolak Force Rank/Sipasti,
  8. Gabungkan T3K ke Dalam Gaji,
  9. Hentikan Praktek Perbudakan, Lembur dan Insentif Tidak Dibayar,
  10. Tolak outsourcing dan PKWT (Kontrak) di Bank Danamon.

 

Laporan : Julio Rinaldi

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.