LUAR BIASA !! Pemuda Desa Ini Bisa Melukis Tapi Bukan Di Atas Kanvas Melainkan Di Atas ….

Salah satu karya lukisan Adiat. (Foto : Hendra Afriyanto/RedAksiBengkulu)

RedAksiBengkulu.co.id, KEPAHIANG – Kebanyakan pelukis biasanya melukis di atas kanvas, kertas dan dinding/tembok. Meski ada pelukis yang ‘menguaskan’ ide-idenya di media selain kanvas, kertas dan dinding/tembok, namun hanya beberapa orang.

Di Desa Tanjung Alam Kecamatan Ujan Mas Kabupaten Kepahiang Provinsi Bengkulu, ada seorang pelukis yang media lukisnya dari daun pisang kering. Bukan berarti pelukis ini tak mampu beli kanvas dan cat lukis, namun seniman rupa yang bernama Adiat ini memang mencoba mencari jati dirinya sebagai perupa yang ingin memiliki karakter sendiri.

Kepada Hendra Afriyanto, Jurnalis RedAksiBengkulu.co.id, Adiat menceritakan, bakat melukis yang dimilikinya atas pengalaman sendiri alias otodidak. Adiat mulai menekuni melukis dengan daun pisang sejak usianya 12 tahun atau sejak ia duduk di bangku SD. Hingga kini, karyanya sudah mencapai puluhan. Satu diantara karyanya, ia melukis Anggota DPRD Kepahiang, Armin Jaya. Dan karyanya itu sekarang dipajang di kediaman Armin Jaya.

Satu sisi dari karya-karya Adiat ini sebagai penopang ekonomi keluarganya. Wajar saja demikian, karena Adiat yang usianya beranjak 20 tahun ini sayangnya harus putus sekolah hanya sampai di bangku kelas 3 SMP. Itu pun tidak ia selesaikan sehingga ia tidak ada ijazah SMP karena ekonomi keluarganya yang tak mampu membiayainya sekolah.

“Biasanya saya melukis ketika ada orang memesan dulu, baru saya buat. Saya tidak pasang tarif tinggi-tinggi. Selama ini saya dapat duitnya dari sisa bahan baku yang saya beli itulah lalu saya simpan uangnya dan saya gunakan untuk kebutuhan saya dan membantu keluarga”, kata Adiat.

Meski disadari Adiat memiliki kelebihan, namun ia sendiri masih mengakui banyak kelemahannya dalam mengembangkan karya rupanya. Kondisi dia yang tinggal di desa pedalaman itu, membuat ia merasa kurang pergaulan dan jarang mengikuti perkembangan informasi kekinian.

Namun pada dasarnya, Adiat ingin sekali karya-karyanya bisa dipajang di tempat-tempat lain dan beredar di mana-mana. Ia mengaku, kekurangan dan keterbatasannya selama ini menjadikan ia serasa terbelenggu. Namun ia tetap optimis, jika suatu saat nanti, ia bisa lebih baik lagi dalam mengembangkan karya-karyanya.

Adiat juga mengakui, jika ia pun sebenarnya butuh bimbingan dari Perupa-perupa lainnya yang jauh lebih baik dari dirinya. Hanya saja, ia mengaku belum ada kesempatan untuk menemui peluang itu karena satu sisi ia juga harus memikirkan kondisi keluarganya di desa. Bahkan Adiat pun masih menyimpang cita-citanya jika suatu saat ia bisa mengembangkan sayap dan karya-karya bisa dipasarkan bebas dan dinikmati oleh semua orang.

“Saya sadari, selama ini baru orang-orang di desa yang menikmati karya saya. Itu pun hanya beberapa orang. Maklumlah, untuk menilai sebuah karya seni di desa ini masih kurang dan orang-orang sekarang lebih dimudahkan dengan foto-foto yang terus berkembang teknologinya”, tutur Adiat, putra sulung pasangan Yanto dan Antri ini.

Namun sepertinya apa yang dicita-citakan Adiat perlahan mulai terbuka jalannya. Soalnya, kepala desa setempat Ferry Marzoni sudah mulai merangkul Adiat dan sepertinya ingin memberdayakan warganya menjadi jauh lebih baik lagi.

Di kediaman Adiat, Ferry Marzoni mengaku, jika ia akan terus memotivasi Adiat. Ferry juga mengakui bahwa warganya itu memiliki potensi yang luar biasa dan dari karya-karyanya itu berpotensi akan mengharumkan nama baik desanya.

“Saya tidak menjanjikan, tapi saya akan berjuang semaksimal mungkin supaya Adiat ini bisa mengembangkan potensi dirinya jadi lebih baik. Saya yakin, dimana ada kemauan, di situ akan ada jalan yang Insyaallaah Diridhoi Allaah SWT”, kata Ferry.

Kepala desa yang desanya disebut-sebut sebagai Desa Republik ini juga menambahkan, desanya akan mendirikan BUMDes. Salah satu usaha dari BUMDes itu kelak akan melibatkan keterampilan yang dimiliki Adiat.

“Desa kami sekarang kan sudah ada gedung serba guna yang juga diperuntukkan sanggar seni bagi pemuda desa. Saya sekarang sedang memikirkan dan mengupayakan supaya bakat yang dimiliki Adiat ini bisa terus berkembang”, demikian Ferry.

 

 

 

 

 

 

Laporan : Hendra Afriyanto
Editor : Aji Asmuni

Comments

comments

Facebooktwittermail

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *