Pondok Pesantren Al Fatah Tabarenah Curup, Pondokan ‘Penempa’ Hafidz Qur’an dan Ulama

Laporan : Aji Asmuni

RedAksiBengkulu.co.id, REJANG LEBONG – Sekitar 3 kilometer arah ke barat dari pusat Kota Curup, tepatnya di Desa Tabarenah Kecamatan Curup Utara Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu, ada sebuah pondok pesantren (ponpes) yang menjalankan tradisi pesantren Salaf dengan sistem watonan (massal) dan sorogan (individu). Ponpes itu bernama Al Fatah, dibawah Yayasan Fafirru Ilalloh –  Curup, Rejang Lebong. Pesantren ini didirikan untuk ‘menelurkan’ Penghafal (Hafidz) Qur’an dan ulama-ulama dari lokal, khususnya Provinsi Bengkulu.

Dari Kota Curup, selepas jembatan Desa Tabarenah,  beberapa meter  kemudian ada jalan ke kiri dan papan nama pondok pesantren itu pun terlihat. Pesantren Al Fatah ini adalah cabang dari Yayasan Pendidikan Al Fatah, Temboro, Kecamatan Karas Kabupaten Magetan – Jawa Timur , dibawah asuhan Kiai Haji Gus Bed.

Ditemui RedAksiBengkulu.co.id, Indra Syafri selaku ketua yayasan mengungkapkan, santrinya baru ada 6 orang yang mukim (nginap) di pondokan, diantaranya 3 santri dari Curup, 2 santri dari Kepahiang dan 1 santri dari Lebong. Sedangkan santri yang tak mukim 9 orang. Keseluruhan santri yang berjumlah 15 orang itu semuanya laki-laki dan belum menerima santriwati (santri perempuan). Karena keterbatasan luas lahan pondokan yang hanya sekitar 600 meter persegi, sehingga tidak memungkinkan untuk dibangun asrama santriwati.

Pesantren yang baru didirikan pertengahan Juni lalu ini diasuh oleh Ustadz M. Ali Musthofa dibantu tenaga pengajar lainnya Ustadz Muhammad Idris dan Ustadz Zainuri. Di pesantren ini para santri belajar hingga tingkat (kelas) 5. Barulah pada kelas 6, santri belajar di Pesantren Al Fatah Temboro, Magetan – Jawa Timur.

Untuk program pendidikannya, Bahasa Arab, Nahwu , Shorof, Tauhid, Tajwid, Qhosos, Ilmu Hadist, Tarikh, Fiqih dan Ushul Fiqih dan Ilmu Mawaris (Faroidh) untuk kelas 5.

Sedangkan untuk program Tahfidzul Qur’an terbagi 3 metode. Yaitu, Sabaq (menyetorkan hafalan baru kepada ustadz penunggu kholaqoh yang banyaknya sesuai dengan kemampuan santri). Manzil (mengulang hafalan lama minimal ¼ juz lebih banyak lebih bagus).  Sabqi (mengulang hafalan yang baru disetorkan beberapa hari sebelumnya minimalnya ¼ juz).

“Program pendidikannya sama dengan program yang ada di Pesantren Al-Fatah, Temboro, Magetan – Jawa Timur. Setelah santri berada di kelas 6, santri itu ujian dan wisudanya di Pesantren Al Fatah Temboro,” kata Indra.

Setiap Kamis minggu pertama dan ketiga, para santri menjalani I’tikaf ke masjid-masjid di Curup dengan didampingi pengasuh pondok. Tujuannya, kata Indra, selain bentuk cara bersosialisasi dan upaya memakmurkan masjid, i’tikaf itu juga sebagai implementasi ilmu-ilmu syariat Islami kepada masyarakat.

“Secara tidak langsung, santri itu diajarkan untuk menyi’arkan syariat Islam sesuai dengan al-qur’an dan hadist sebagaimana yang sudah didapatkan selama di pondok. Dan juga sebagai ‘pemicu’ agar masyarakat khususnya anak-anak di sekitar lingkungan masjid untuk meramaikan (memakmurkan) masjid,” tambah Indra.

Mengenai biaya, di pesantren ini biaya santri per bulannya hanya Rp 300.000 per santri yang mukim. Sedangkan bagi santri yang tidak mukim (pulang pergi) Rp 50.000 per santri per bulan. Untuk biaya pendaftaran santri baru Rp 300.000 per santri. Uang pendaftaran itu akan dibelikan kitab Rp 150.000 dan selebihnya untuk uang maslahat ustadz/ustadzah sesuai dengan keputusan musyawarah pondok.

Di sisi lain, kendati pesantren ini masih merintis, namun pesantren ini tidak serta merta meminta bantuan dalam bentuk mengajukan proposal kepada pihak-pihak tertentu. Karena kata Indra, pesantren yang dibangun dan dijalankan ini memang bukan untuk profit, melainkan untuk menciptakan ulama-ulama dari daerah yang nantinya akan menyi’arkan Islam sesuai dengan syariat dan tuntunan Al-Qur’an dan Hadist.

Selama ini, sambungnya, sudah ada donatur tetap maupun tidak tetap yang sudah turut membantu menginfaq-kan sebagian rejeki dan hartanya. Jika ada pihak yang ingin menjadi donatur, lanjut Indra, dengan senang hati pihaknya akan menerima bantuan itu. Hanya saja bentuk keikhlasan donatur yang diinginkan benar-benar ikhlas tanpa ada kepentingan apapun. Sehingga finansial yang dibutuhkan dan digunakan untuk keperluan pondok benar-benar berkah.

“Maaf, bukannya idealis atau tidak butuh bantuan dari pihak luar. Tentu kami masih banyak butuh dana guna membangun pesantren ini untuk lebih baik lagi sarana dan prasarananya. Akan tetapi, kami memang agak selektif dalam finansial mengingat nawaitu dan pekerjaan (ibadah) kami ini ingin diberkahi Allaah Subhanawata’ala,” demikian Indra.

Comments

comments

Facebooktwittermail

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *