Ratusan Hektar Sawah Di Tiga Desa Kekeringan dan Ancam Gagal Panen

0
115
Areal persawahan di Desa Rimbo Recap Kecamatan Curup Selatan yang mengalami kekeringan. [Foto : Muhamad Antoni/RedAksiBengkulu]

RedAksiBengkulu.co.id, REJANG LEBONG – Ratusan hektar sawah di Desa Rimbo Recap Kecamatan Curup Selatan Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu, alami kekeringan. Darwin, petani setempat yang luas sawahnya berukuran 250 meter persegi (M2) mengungkapkan, kekeringan sawah di daerahnya sudah terjadi sejak 2 bulan ini. Akibatnya, padi yang sudah ditanam terancam gagal panen.

“Padahal kami sudah gotong royong membersihkan saluran irigrasi. Tapi debet air masih saja kecil. Soalnya, sebagian petani di sini mengandalkan hujan supaya sawahnya tidak kering”, papar Darwin.

Dikonfirmasi soal ini, Kepala Desa Rimbo Recap Kecamatan Curup Selatan Ujang Ruyat mengatakan, sisi lain penyebab kering persawahan di desanya juga dikarenakan jebolnya saluran irigrasi di Kelurahan Air Putih Kecamatan Curup sejak setahun lalu.

“Tahun 2017 irigasi di Kelurahan Air Putih, jebol. Tapi kini Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Rejang Lebong sedang melakukan perbaikan. Bisa jadi, dampak dari perbaikan irigasi ini debet air jadi berkurang. Karena ada pengalihan air selama irigasi diperbaiki”, ujarnya.

Ketua Persatuan Petani Pemakai Air (P3A) Desa Rimbo Recap, Jarot mengatakan,  kondisi ini sudah dialami petani hampir setiap tahun. Ditambah lagi sumber air yang dimanfaatkan warga di tiga desa yakni Desa Suka Marga, Lubuk Ubar dan Rimbo Recap, hanya satu.

“Kini sawah di sini masuk masa tanam serentak. Setiap petani harus menggunakan air secara bergantian. Kadang pemanfaatan air untuk sawah dilakukan malam hari. Karena sumber air hanya satu, makanya harus bergantian mengaliri sawahnya”, terang Jarot.

Lanjut Jarot, sulitnya mengaliri air di wilayah ini karena perbedaan periode masa tanam padi di 3 desa. Di Desa Rimbo Recap sendiri, butuh 120 hari dari menanam hingga panen.

“Sedangkan di Desa Suka Marga dan Lubuk Ubar 95 hari sudah panen. Jadi, karena perbedaan waktu inilah, air lebih banyak dimanfaatkan Desa Lubuk Ubar dan Suka Marga”, kata dia.

Terkait penyelesaian air tersebut, sambung Jarot, pihaknya sudah beberapa kali mengadakan rapat antar warga guna mencari solusi penggunaan air di sawah. Hanya saja, dari pertemuan antar warga ini, ada tanggapan bahwa warga merasa tidak sanggup jika dilakukan sistem buka tutup air.

“Kalau musyawarah sudah sering dilakukan. Tapi warga tidak setuju kalau pembagian air diatur. Dan itu artinya hasil musyawarah pun gagal”, tutup Jarot.

 

Laporan : Muhamad Antoni

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.