Mau Dibangun Bank Sampah, Tapi Sebagian Warga Ini Menolak

0
120
Ilustrasi Bank Sampah

RedAksiBengkulu.co.id, REJANG LEBONG – Di RT 5 RW 2 Kelurahan Air Putih Baru, Kecamatan Curup Selatan Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu rencananya akan dibangun Bank Sampah. Namun ada belasan warga setempat yang menolak pembangunan Bank Sampah itu. Padahal saat ini Bank Sampah itu sedang dalam proses pembangunannya.

Ketua RT 5, Zainal Abidin mengatakan, alasan penolakan karena tidak ada sosialisasi dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Rejang Lebong. Selain itu, warga khawatir akan dampak lingkungan yang ditimbulkan.

“Warga kami takut akan dampak lingkungan yang terjadi nantinya”, kata Zainal, Selasa (18/9/2018).

Hearing penyelesaian masalah Bank Sampah antara warga dengan instansi terkait di Kantor Kelurahan Air Putih Baru, Selasa (18/9/2018). [Foto : Muhamad Antoni/RedAksiBengkulu]
Meski Bank Sampah ini akan berazas manfaat, mengingat manajemen pengelolaannya dikembalikan ke masyarakat, namun warga setempat tetap menolak karena tidak dilandasi sosialisasi.

“Kami warga sini menilai, justru nantinya bank sampah itu tidak akan bermanfaat. Karena tidak ada yang mau mengurusnya. Jadi, wajar kalau warga menolak daripada menghamburkan uang negara”, ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Rejang Lebong, Amran, mengatakan, Bank Sampah dibangun dengan APBD senilai lebih dari Rp100 juta. Perihal sosialisasi memang belum disampaikan ke masyarakat.

“Ketika akan dibangun, baru diberitahu. Karna kami berbeda dengan pola pemberdayaan dari lembaga lain,” kata Amran.

Lokasi pembangunan Bank Sampah di RT 5 RW 2. [Foto : ist]
Soal penolakan Bank Sampah dari warga, lanjut dia, pihaknya menerima setelah sebelumnya dilakukan rapat dengan warga di Kantor Kelurahan Air Putih Baru, Selasa (18/9/2018). Pihaknya pun akan menghentikan pembangunan Bank Sampah dan berencana mencari lokasi baru.

“Kami menerima penolakan tersebut meskipun saat ini Bank Sampah sedang dibangun. Kami akan hentikan pembangunannya dan nanti akan dialihkan ke lokasi baru. Ini juga akan kami bicara ke rekanan yang membangun Bank Sampah tersebut”, ujarnya.

Maksud dan tujuan pembangunan Bank Sampah, lanjutnya, untuk mengelola sampah masyarakat agar bisa didaur ulang. Termasuk juga jenis sampah yang bisa dijadikan pupuk kompos. Kelak, dalam pengelolaan itu dilibatkan masyarakat dalam manajemen pengelolaannya.

Di lain sisi, Koordinator Wilayah Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) Kabupaten Rejang Lebong, Tedi Riski, mengatakan, pihaknya mendukung mengenai program Bank Sampah yang direncanakan pemerintah daerah. Hanya saja kata dia, dalam pengelolaannya diperlukan penguatan kapasitas masyarakat terlebih dahulu. Masyarakat harus diberikan pemahaman telebih dulu. Seperti, keterampilan dalam memilah sampah non organik dan organik serta menunjukkan manfaat yang akan dihasilkan dari sampah-sampah tersebut.

“Kalau itu tidak dilakukan, maka masyarakat akan berfikir bahwa Bank Sampah akan menimbulkan dampak lingkungan”, kata Tedi.

Ditambahkannya, permasalahan sampah di Rejang Lebong sendiri menurutnya sudah sangat mengkhawatirkan. Tercatat dari data DLH Rejang Lebong, bahwa setiap harinya ada  123 Kubik sampah dibuang di TPA di Desa Jambu Keling Kecamatan Bermani Ulu Raya.

Tahun 2016, produksi sampah di Rejang Lebong sebanyak 40.404 kubik, sedangkan pada 2017 naik menjadi lebih dari 45.000 kubik.

”Artinya, pemerintah daerah harus menyelesaikan masalah tersebut karena setiap tahun produksi sampah di Rejang Lebong meningkat cukup signifikan,” pungkasnya.

Dilansir jatim.tribunnews.com, salah satu daerah yang pemerintah daerahnya sudah menerapkan program Bank Sampah adalah Kabupaten Lamongan Jawa Timur. Pemkab setempat mencanangkan program Lamongan Green and Grean (LGC) Plus. Di tahun 2017, program ini cukup efektif mengurangi sampah hingga 16,72 persen sebelum masuk ke TPA Tambakrigadung.

Itu karena LGC terintegrasi di dalamnya pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui Tempat Pengumpulan Sampah (TPS) 3R (reduce, reuse, recycle). Alhasil, di 2017 sudah terbentuk 1.158 Bank Sampah. Dari ribuan Bank Sampah itu, Lamongan dinilai telah sanggup menurunkan emisi gas rumah kaca di sektor sampah hingga 18,25 %.

 

Laporan : Muhamad Antoni

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.