Untuk Kelima Kalinya Warga Desa Ini Keluhkan Air PDAM Macet Sejak 6 Bulan Lalu

Belasan warga Desa Pungguk Meranti Kecamatan Ujan Mas mendatangai PDAM Tirta Alami Kepahiang untuk kelima kalinya melayangkan protes atas hak warga terhadap fasilitas air bersih. (Foto : Hendra Afriyanto/RedAksiBengkulu)

RedAksiBengkulu.co.id, KEPAHIANG – Sedikitnya 12 orang warga Desa Pungguk Meranti Kecamatan Ujan Mas Kabupaten Kepahiang Provinsi Bengkulu kembali mendatangai PDAM Tirta Alami. Kedatangan belasan warga pada Rabu (26/7/2017) ba’da Zuhur itu untuk melayangkan protes atas hak warga terhadap fasilitas air bersih.

Warga yang dikomandoi Sekretaris Desa (Sekdes) setempat yakni M Halimin, mengajak warganya menemui Direktur PDAM Tirta Alami Karmolis guna mempertanyakan apa yang menjadi penyebab aliran air PDAM di desanya itu tersendat  sejak 6 bulan terakhir?

“Ada 200 KK (kepala keluarga) yang tidak bisa menikmati aliran air.Tapi di desa tetangga, Desa Pekalongan aliran PDAM mengalir tanpa kendala? Padahal sebelum 6 bulan lalu air PDAM di desa kami lancar. Lantas, bagaimana dengan tagihan air yang kami bayar”, tanya Halimin.

Kepala Desa Pungguk Meranti Arman ketika diwawancarai RedAksiBengkulu.co.id mengatakan, keluhan warga desanya itu sudah kelima kalinya disampaikan ke PDAM Tirta Alami namun tak pernah ditanggapi.

“Kami selama ini sudah lapor tak tak digubris dan tak ada tindaklanjutnya (dari PDAM)”, papar Arman.

Menanggapi hal ini, Pjs Direktur PDAM Tirta Alami Karmolis mengatakan, bahwa aliran air selama ini yang diambil dari sumber mata air Tik Gantung yang berada di desa tersebut kondisinya mengecil karena terjadi kebocoran. Sumber mata air tersebut hanya mampu mendistribusikan air dua desa, termasuk salah satunya Desa Pungguk Meranti.

Namun persoalan terkendalanya aliran air dari mata air tersebut, PDAM sudah berupaya untuk mencari alternatif sumber mata air dari Desa Batu Ampar Kecamatan Merigi. Hanya saja, sambung Karmolis, ada permasalahan soal air di Desa Batu Ampar tersebut, sehingga upaya alternatif tersebut tidak jadi dilakukan.

“Maunya kami alihkan dari sumber mata air dari Desa Batu Ampar. Tapi di desa itu juga konflik soal lahan sumber mata air belum juga klir. Belum ada serah terima atas pembangunan bak penampungan air PDAM ke Desa Batu Ampar oleh Dinas PU Kepahiang sejak 2015 lalu”, papar Karmolis.

Solusi dari PDAM, sambung Karmolis, paling tidak akan dilakukan aliran bergantian. Maksudnya, pelanggan PDAM di Desa Pekalongan dan Pungguk Meranti itu akan sama-sama mendapatkan air, tapi sementara ini akan dijadwalkan aliran secara bergantian”, demikian Karmolis.

 

 

 

 

 

 

Laporan : Hendra Afriyanto
Editor : Aji Asmuni

Comments

comments

Facebooktwittermail

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *