Ada Apa di 25 November – 10 Desember 2017 di Bengkulu ?

Rilis : Yayasan PUPA Bengkulu

RedAksiBengkulu.co.id, BENGKULU – Yayasan Pusat Pendidikan dan Pemberdayaan Untuk Perempuan dan Anak (PUPA) Bengkulu akan menggelar Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap  Perempuan. Dalam kegiatan ini nantinya, Yayasan PUPA akan melibatkan seniman-seniman Bengkulu khususnya sekaligus akan menggelar pameran rupa dan lainnya.

Berikut Rilis dari Yayasan PUPA tentang Pengantar Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap  Perempuan.

Gambar : Yayasan PUPA Bengkulu.

Kenapa diberi nama Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap  Perempuan?

Pada tanggal 25 November -10 Desember adalah rentang waktu yang cukup panjang untuk merayakan banyak sekali penindasan, ketidakadilan juga kesewenang-wenangan yang dialami masyarakat, khususnya perempuan. Kampanye ini diawali dengan Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan di tanggal 25 November, dan diakhiri dengan Hari Hak Asasi Manusia (HAM) pada 10 Desember. Dipilihnya rentang waktu tersebut adalah dalam rangka menghubungkan secara simbolik antara kekerasan terhadap perempuan dan HAM, serta menekankan bahwa kekerasan terhadap perempuan merupakan salah satu bentuk pelanggaran HAM.

 

Kenapa Seniman Bengkulu Harus Terlibat?

Indonesia saat ini tengah dihadapkan pada kondisi darurat kekerasan seksual. Berdasarkan data Forum Pengada Layanan yang dirilis oleh Komnas Perempuan dalam catatan tahunan 2016, menunjukkan, bahwa Kekerasan di ranah komunitas mencapai angka 3.092 kasus (22%), di mana kekerasan seksual menempati peringkat pertama sebanyak 2.290 kasus (74%), diikuti kekerasan fisik 490 kasus (16%) dan kekerasan lain di bawah angka 10% ; yaitu kekerasan psikis 83 kasus (3%), buruh migran 90 kasus (3%); dan trafiking 139 kasus (4%). Jenis kekerasan yang paling banyak pada kekerasan seksual di ranah komunitas adalah perkosaan (1.036 kasus) dan pencabulan (838 kasus).

Fakta menunjukkan bahwa kekerasan seksual menempati posisi tertinggi untuk kasus kekerasan terhadap perempuan di Indonesia, kondisi tersebut tidak jauh berbeda dengan yang terjadi di Provinsi Bengkulu. Berdasarkan catatan pendokumentasian yang dilakukan oleh Yayasan PUPA, menunjukkan kekerasan seksual tetap mendominasi yaitu berada pada angka 65% dari 275 kasus yang terjadi sepanjang tahun 2016.

Melihat kenyataan bahwa ada begitu banyak kasus kekerasan yang sangat dekat dengan masyarakat terlebih pada perempuan, kami mencoba mengajak semua kalangan untuk ikut #gerakbersama  menghapus kekerasan seksual dan #ambilbagian lewat Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan.

Kampanye ini sebagai bentuk keterlibatan seluruh masyarakat untuk menjawab ragam  kasus kekerasan terhadap perempuan juga untuk menciptakan sebuah peristiwa kesenian dengan melibatkan diri secara individu untuk mengajak lebih banyak orang untuk menjadi sahabat bagi korban-korban kekerasan  dan sekaligus mengupayakan kehadiran negara bagi mereka.

 

Konsep Pameran Air mata – Mata air

 

Apa yang tidak paradoks dalam hidup ini?

Perempuan adalah penyatuan dualitas. Pada suatu waktu ia begitu lekat dengan luka, duka, dan lara. Tubuhnya ditempeli stereotip masyarakat yang kemudian membuatnya berada dalam kotak-kotak. Dirinya tercatat pula sebagai orang yang paling banyak menerima kekerasan. Entah itu fisik, psikis, ekonomi, budaya hingga kekerasan politik. Hal itu kemudian membawa perempuan berada dalam fase panjang keterasingan dengan duka yang dialaminya dan bahagia adalah niscaya. Separuh dirinya ialah air mata.

Di waktu-waktu lain ia adalah suka serta sumber bahagia. Ialah muasal kehidupan yang panjang. Pada dirinya kehidupan seseorang bermula. Perempuan ialah berkah semesta. Kekuatannya adalah cinta terpendam bagi siapa saja. Perempuan, mata air yang mengisi ceruk-ceruk kering bumi.

Ketika air mata dan mata air teramu jadi satu. Ketika dualitas berkelindan di dalam diri seorang perempuan juga ketika perempuan menyadari bahwa dirinya adalah paradoks, ia akan mengenali dirinya dengan berani. Proses menilik diri akan melahirkan perubahan sikap dan cara pandang perempuan terhadap segala sesuatu dan situasi yang terjadi di lingkungan sosialnya. Perubahan yang membuat perempuan bergerak, terlihat, dan ada.

Pameran Air mata – Mata air ingin menghadirkan banyak pertanyaan tentang perempuan juga sekaligus menjawab persoalan-persoalannya. Untuk itu, kami berharap pameran ini juga mampu menggiring wacana kepada masyarakat secara terbuka, dan mengajak lebih banyak lagi orang untuk ikut terlibat dalam peristiwa-peristiwa kesenian dengan segala persoalan-persoalannya, terutama luka dan suka para perempuan.

 

Hal-hal yang Harus Dipertimbangkan

Kami sangat berbahagia, jika dalam Kampanye ini, seniman dapat meluangkan materi, waktu, ide dalam mengupayakan gagasan penciptaan. Namun, kami tentu mengajak seniman untuk tidak (lagi) hanya menempatkan perempuan sebagai objek dalam karyanya, namun lebih pada bagaimana seniman menangkap peristiwa-peristiwa yang dialami perempuan korban. Juga bagaimana seniman melihat, mendengar dan merasakan kejadian-kejadian tersebut, terjadi dekat sekali. Selain untuk tidak menempatkan korban menjadi korban berlapis, juga untuk menolak stereotip dan dominasi antara laki-laki dan perempuan. Pameran ini tentu sebagai bentuk dukungan terhadap korban tanpa mengorbankan korban.

Mengutip Dewi Candraningrum*: Dalam dunia seni, tragedi dan penderitaan tak selalu kelam. Kesedihan tidak melulu monokromatik, tetapi juga bisa rakus akan warna. Untuk itu, kami persilahkan seniman untuk berdialog panjang dengan kegelisahannya menangkap peristiwa, dan mewujudkan Pameran Air Mata- Mata Air bagi masyarakat Bengkulu, untuk perempuan di seluruh penjuru.

*) aktivis perempuan dan seniman. Konsen diisu Sastra Inggris, Studi Gender, dan Sastra Perempuan.

Comments

comments

Facebooktwittermail

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *