Bilik Suara Dari Kardus, Aktivis Lingkungan FK3I : Pemborosan Uang Negara

0
133
Inilah bilik suara yang lama di gudang logistik milik KPU Rejang Lebong [Foto : Muhamad Antoni/RedAksiBengkulu]

RedAksiBengkulu.co.id, REJANG LEBONG – Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu, Restu S Wibowo mengatakan, Pilpres 2019 kelak bilik suara yang digunakan adalah menggunakan bilik suara dari kertas. Bilik suara kertas ini maksudnya menggunakan bahan berbentuk kardus. Ini artinya setelah tahapan pecoblosan Pemilu 2019 selesai, ada kemungkinan untuk musim Pemilu selanjutnya tidak bisa digunakan kembali.

“Jadi bilik suara dari kardus itu sepertinya sekali pakai,” kata Restu kepada RedAksiBengkulu.co.id.

Ditambahkan dia, pendistribusian bilik suara maupun alat kelengkapan pencoblosan lainnya akan didistribusikan ke seluruh TPS sebelum Pilpres termasuk TPS dalam kategori sulit. TPS sulit maksudnya, TPS yang jaraknya jauh dan aksesnya cukup sulit dijangkau.

“Ada 15 TPS yang masuk dalam kategori sulit. Tapi semua itu tetap akan didistribusikan”, ujarnya.

Di sisi lain, penggunaan bilik suara berbahan kertas ini menjadi sorotan aktivis lingkungan Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) Korwil Rejang Lebong Tedi Riski mengungkapkan, langkah KPU menggunakan bilik suara berbahan kertas atau kardus tersebut dinilai membebani keuangan negara dan bentuk pemborosan anggaran negara.

“Bilik suara berbahan kertas yang cuma sekali saja penggunaannya, tentu menambah beban anggaran negara. Karena tidak bisa dipakai berkelanjutan ketika Pemilu selanjutnya,” kata Tedi. 

Bilik suara kertas ini, sambungnya, tidak efektif karena secara logika pengolahan kertas berbahan dasar dari kayu. Kayu diolah menjadi bubur kemudian diproses menjadi kertas.

“Itu artinya akan banyak pohon yang ditebang menjadi kertas. Termasuk salah satunya untuk bahan pembuatan bilik suara”, tegas Tedi.

Menurutnya, itu jelas tidak sesuai dengan kampanye pemerintah terkait kelestarian alam dan ramah lingkungan. Yang mana salah satunya penghematan penggunaan kertas dan plastik.

“Perlu adanya kajian ulang terkait penggunaan bilik suara berbahan kertas agar lebih efisien dan ramah lingkungan”, demikian Tedi.

 

Laporan : Muhamad Antoni

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.