Bunga Rafflesia Ternyata Juga Mekar di Desa Ini Untuk Pertama Kalinya

0
192
Rafflesia Arnoldi yang tumbuh dan mekar di Desa Dataran Tapus Kecamatan Bermani Ulu Raya Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu. [Foto : Tedy Riski]

RedAksiBengkulu.co.id, REJANG LEBONG –Bunga Rafflesia Arnoldi yang sedang mekar ternyata bukan hanya di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Bukit Kaba. Bunga terbesar di dunia itu juga mekar di Desa Dataran Tapus Kecamatan Bermani Ulu Raya Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu.

Tedy Riski, sekretaris desa setempat membenarkan mekarnya Rafflesia tersebut. Dia bersama warga lainnya sudah menelusuri hutan dan melihat langsung bunga yang tumbuh dan mekar di wilayah yang ditempuhnya lebih dari 4 kilometer.

“Posisi bunga itu hampir mendekati Desa Air Mundu Kecamatan Bermani Ulu. Jalan menuju ke lokasi juga terjal dan berbukit. Perjalanan memakan waktu 40 menit dengan berjalan kaki”, kata Tedi, kepada RedAksiBengkulu.co.id, Rabu (4/4/2018) malam.

Selain Rafflesia yang sedang mekar sempurna dengan diameter kelopak bunga mencapai 50 centimeter, kata Tedy, ada juga Rafflesia yang sudah membusuk dan masih ada satu bongkol yang belum mekar di sekitar lokasi itu. Tedy juga meyakini jika Rafflesia itu merupakan Rafflesia yang tumbuh dan mekar pertama kali di desanya.

“Sebelumnya pernah ditemukan Bunga Kibut/Bunga Bangkai (Amorphopallus) tak jauh dari desa dan berada di perkebunan warga. Tapi kalau Rafflesia ini kayaknya pertama kali tumbuh dan mekar,” lanjut Tedy.

Diketahui sebelumnya, ada Rafflesia Arnoldi yang mekar di kawasan hutan Taman Wisata Alam Bukit Kaba, di Desa Air Dingin Kecamatan Sindang Kelingi. Bunga terbesar ini pertama kali diketahui oleh warga setempat ketika masih berbentuk bongkol bunga alias belum mekar sempurna sekitar sepekan lalu. (Baca : Lebih Dari 20 Tahun ‘Hilang’, Bunga Langka Ini Kembali Mekar di TWA Bukit Kaba)

“Ini kali pertama setelah sekitar 20 tahun lamanya atau sejak 1990 lalu tak pernah tumbuh lagi di kawasan TWA Bukit Kaba. Karena dulu ketika sering mekar, habitatnya rusak akibat banyaknya aktivitas manusia”, kata Pelindung Ekosistem Hutan (PEH) BKSDA Seksi Konservasi wilayah I David Huta Haya, Selasa (3/4/2018).

Laporan : Muhamad Antoni

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.