Dikunjungi Politisi Senayan, Begini Kata Komunitas SaYak Bengkulu

Laporan : Aji Asmuni

Foto bersama Komunitas SaYak Bengkulu dengan Anggota Komisi X DPR RI Dewi Coryati di panggung terbuka Taman Budaya Bengkulu. (Foto : Aji Asmuni/RedAksiBengkulu)

RedAksiBengkulu.co.id, BENGKULU – Sejak 1 bulan terakhir kumpulan Perupa Kota Bengkulu yang tergabung dalam Komunitas SaYak sedang membenahi panggung terbuka di komplek Taman Budaya Bengkulu di Jalan Pembangunan Padang Harapan Kota Bengkulu. Rencananya panggung terbuka itu akan ‘dihidupkan’ kembali sebagai sarana berkesenian bagi komunitas seni di Kota Bengkulu.

Mengingat sejauh ini pemerintah terkesan kurang memerhatikan kesenian di Bengkulu. Itu dibuktikan dari pergerakan Komunitas SaYak dalam mengambil sikap membenahi panggung terbuka tersebut sebagai inisiatif pergerakan mandiri yang tidak ingin terus berpangku tangan terhadap pemerintah. Karena para komunitas seni menyadari semakin ditunggu perhatian dari pemerintah, akan semakin karam kreativitas mereka.

Menariknya, disela-sela aktivitas Perupa yang sedang memural panggung, tiba-tiba Politisi Senayan Dewi Coryati, pada Senin (15/5/2017) sore datang dan menghampiri Komunitas SaYak. Dewi yang hanya didampingi beberapa ajudannya itu langsung menyapa dan melihat aktivitas Perupa yang sedang mewarnai balkon panggung terbuka tersebut.

Ketua Komunitas SaYak Bengkulu, Dedi Suryadi atau yang akrab disapa Sucenk mengatakan, aktivitas yang sedang dilakukan ia dan rekan-rekannya saat ini merupakan bentuk keseriusan mereka untuk membangkitkan kegiatan seni, khususnya di Kota Bengkulu.

Sucenk juga menambahkan, bahwa apa yang dilakukan komunitasnya bukan semata-mata demi kegairahan di internal komunitas Perupa, melainkan untuk menaungi semua komunitas seni yang ada di Kota Bengkulu.

“Nanti itu, kalau panggung terbuka ini sudah selesai, semua komunitas seni, baik itu komunitas teater, musik, rupa dan lainnya, silakan mengeksplor karya-karya seninya. Termasuk juga komunitas seni di kampus-kampus, silakan datang”, kata Sucenk.

Disinggung darimana sumber pendanaan yang diperoleh untuk membeli cat-cat dan kuas dalam mewarnai balkon dan panggung tersebut, Sucenk menjawab, dari Organisasi Non Pemerintah atau Non Governmental Organization (NGo) Indonesia Nature Film Society (INFIS). Disinggung juga apakah ada kontribusi dari politisi atau pejabat yang sudah berkunjung selama ini, dijawab lagi oleh Sucenk, ada tapi tidak semua yang datang.

Terkait kunjungan Dewi Coryati yang notabene selaku Anggota Komisi X DPR RI yang membidangi pendidikan, kebudayaan, pariwisata, ekonomi kreatif, pemuda, olahraga dan perpustakaan sejak Agustus 2016 lalu, komunitasnya mengaku senang. Namun terlepas pejabat atau politisi, sambung pria berambut gondrong ini, siapa pun yang berkunjung, komunitasnya selalu terbuka dengan siapa pun.

Disinggung soal ada atau tidak kontribusinya kepada komunitas ini, Sucenk menegaskan, tidak begitu berharap. Namun jika memang ada yang ingin memberikan kontribusi atau bantuan, pihaknya pun tidak keberatan menerimanya.

“Kami welcome dengan siapa pun. Kalau ada yang mau bantu, ya kami terima. Tapi dengan catatan iklash dan jangan ada embel-embel di belakangannya. Karena kami bukan objek di musim politik”, terang Sucenk.

Sementara itu, pantauan RedAksiBengkulu.co.id, kunjungan Dewi Coryati ke Taman Budaya Bengkulu sepertinya memang tidak diagendakan. Karena tidak ada seremoni penyambutan secara formal. Bahkan Dewi Coryati yang hanya didampingi beberapa ajudannya itu terlihat lebih santai dan langsung membaur dan berkomunikasi dengan Perupa yang sedang mewarnai balkon panggung terbuka.

Apa tanggapan Dewi Coryati terhadap Komunitas SaYak, ia pun sangat apresiasi. Bahkan Dewi berharap jika panggung itu selesai, aktivitas kesenian oleh komunitas seni di Bengkulu lebih bergairah lagi.

Ketika disinggung apa upaya pemerintah dalam ‘merangsang’ komunitas seni di Bengkulu agar terus berkarya, Dewi menjawab, langkah pertama adalah komunikasi dan kordinasi antara komunitas seni dengan pemerintah harus berjalan dengan baik.

Dewi membantah jika dinyatakan bahwa pemerintah tidak peduli. Karena menurut dewi, pemerintah bukan tidak men-support (kegiatan berkesenian). Akan tapi terkadang antara pemerintah dengan masyarakat dalam hal ini khususnya komunitas seni di Taman Budaya Bengkulu, kurang saling memberi informasi.

“Tidak tahu masuknya (dukungan) dari mana? Anda (komunitas) sendiri, sudah 4 kali (ber) kegiatan, dan saya gak ngerti (menerima informasi kegiatan). Itu contoh ! Kurang apa saya sama perhatiannya Taman Budaya Bengkulu”, kata politisi yang diusung dari Partai Amanat Nasional (PAN) tersebut.

Bahkan, kata Dewi, hasil dari kunjungannya ke Bengkulu beberapa waktu lalu, langsung ditindaklanjutinya ke Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI. Dewi juga menambahkan, bahwa antara pemerintah dengan masyarakat,

“Saya sudah (membuat) MoU (nota kesepakatan) dengan 24 sanggar untuk membeli peralatan berkesenian. Intinya, harus ada komunikasi dua arah biar nyambung dan tersalurkan aspirasi itu”, demikian Dewi.

Comments

comments

Facebooktwittermail

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *