Rahmat, Bocah Pengidap Penyakit Kulit Eritroderma
Empat Bulan Terbaring, Kian Hari Kulit Arinya Mengelupas Hingga Sekantong Plastik

Rahmat yang terbaring lemas didampingi neneknya. (Foto : Muhamad Anton/RedAksiBengkulu)
Rahmat yang terbaring lemas didampingi neneknya. (Foto : Muhamad Anton/RedAksiBengkulu)

RedAksiBengkulu.co.id, REJANG LEBONG – Di Jalan Musa Gang Masjid Jamik Satari Kelurahan Talang Rimbo Baru Kecamatan Curup Tengah Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu, ada bocah bernama Rahmat Juliansyah. Bocah berusia 9 tahun ini sejak 4 bulan terakhir didiagnosa oleh Rumah Sakit Umum M. Yunus (RSMY) Bengkulu mengidap penyakit Eritroderma.

Mengutip Alodokter.com, dr Nadia Nurotul Fuadah sebagai Interactive Medical Advisor menjelaskan, Eritroderma adalah kelainan kulit yang ditandai adanya eritema (kemerahan) menyeluruh yang mencakup 90% permukaan tubuh, berlangsung dalam beberapa hari sampai beberapa minggu. Penyebab  Eritroderma adalah alergi obat secara sistemik. Misalnya arsenic organic, emas, merkuri, penisilin, barbiturate, sulfonamide, anti malaria, sefalosforin, aspirin, kodein, yodium, isoniazid dan captoprit. Penyebab lain yaitu perluasan penyakit kulit, penyakit sistemik misal karena kanker paru-paru dan indiopatik yang hingga saat ini belum dikatahui penyebabnya.

Gejala yang ditimbulkan dari Eritroderma bervariasi. Awalnya kulit pada area kemaluan, alat gerak, atau kepala akan memerah kemudian meluas ke bagian tubuh lain. Setelah 2 – 6 hari akan muncul skuama (kulit yang mengelupas) mulai dari daerah lipatan tubuh dan meluas ke area lainnya. Selain itu, dapat pula ditemui perubahan kuku (rapuh), kebotakan, ruam kulit berwarna keputihan atau kehitaman, kulit terasa kering, kedinginan, menggigil, serta edema (pembengkakan) wajah dan leher semua gejala ini terjadi karena adanya peningkatan epidermis (lapisan kulit terluar) sehingga kulit menjadi tipis,  banyak panas, cairan dan protein yang hilang dari tubuh akan mengkonpensasikannya dengan cara meningkatkan laju metabolisme, meningkatkan kerja jantung.

Saat RedAksiBengkulu.co.id mendatangi kediamannya, Rahmat hanya bisa terbaring di ruangan rumahnya sembari menonton televisi. Sejak sakit, Rahmat yang tadinya duduk di kelas 3 Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) GUPPI Curup ini kembali berkeinginan sekolah lagi. Tapi apa daya kondisi tubuhnya tidak memungkinkan untuk dia sekolah.

“Iya om, Rahmat mau sekolah lagi. Belajar lagi dan main sama teman-teman,” tutur Rahmat lirih.

Ibu Rahmat, Fatmawati (38), menuturkan, kondisi anaknya itu mulai diketahuinya pada Juli 2017. Mulanya tubuh Rahmat merasa gatal dan timbul bintik-bintik kecil dan lama kelamaan bernanah. Kondisi tubuhnya pun ikut berpengaruh yang mana pada saat gatal bercampur panas Rahmat mengeluh merasa kedinginan.

“Dari kecil Rahmat sehat-sehat saja. Tapi mulai terasa sakit kurang lebih jalan 5 bulan ini kalau pas kambuh seperti orang kedinginan. Walaupun cuaca panas tapi badan Rahmat menggigil seperti orang demam,” katanya.

Selain itu, kian hari, kulit ari Rahmat kian mengelupas. Berat badannya juga kian menyusut ditambah lagi rambutnya terus rontok. Setiap hari juga sang ibu membersihkan kulit ari dan rambut Rahmat. Bahkan setelah dikumpulkan, kulit ari dan rambut itu sudah se kantong plastik (kresek/asoy).

Upaya pengobatan sudah dilakukan Fatmawati. Diantaranya berobat ke klinik, dokter umum bahkan rumah sakit. Tapi perubahan positif terhadap Rahmat belum terlihat. Malah kondisi Rahmat kian parah karena dibuktikan dengan mengelupasnya kulit hampir di sekujur tubuh Rahmat.

Oktober 2017 lalu, lanjut Fatmawati, setelah rembukan keluarga, diputuskanlah untuk membawa Rahmat ke RSUD Curup. Tapi di sana Rahmat hanya menjalani perawatan selama 3 hari. Selanjutnya Rahmat dirujuk ke RSMY Bengkulu.

“Di RSMY Bengkulu selama 15 hari, Dokter menyarankan untuk dirujuk ke Jakarta. Tapi karena tak ada biaya, kami putuskan untuk membawa Rahmat pulang ke rumah lagi. Itu makanya sampai kini Rahmat cuma menjalani rawat jalan dan memakan obat dari RSMY Bengkulu. Mestinya kini kami harus kontrol lagi. Tapi biayanya gak ada”, tambah Fatmawati.

Rahmat berobat memang menggunakan fasilitas Kartu Indonesia Sehat (KIS). Hanya saja, lanjut Fatmawati, untuk biaya operasional serta obat-obatan lainnya diluar tanggungan fasilitas kesehatan itu, Fatmawati bersama suaminya Robert (49) mengalami kendala. Sedangkan uang hasil pencarian suaminya yang hanya sebagai buruh bongkar pasang tenda itu jelas tak mencukupi. Sementara Fatmawati sendiri juga tidak bekerja atau membantu suaminya mencari nafkah.

“Kalau bapaknya Rahmat sedang tidak ada upahan pasang tenda, dia mencari buah pokat untuk dijual ke pasar. Itu juga untungnya cuma cukup makan sehari-hari. Kalau saya sendiri tidak bekerja karena harus fokus mengurus Rahmat di rumah,” tuturnya lagi.

Rahmat sendiri anak bungsu dari 3 bersaudara. Kakak-kakaknya sekolah di SMP dan SD. Keluarga ini tinggal di kontrakan yang sebulannya mereka harus bayar sewa Rp 250.000.

Sulitnya kondisi ekonomi mereka membuat mereka kesulitan mengobati Rahmat. Satu sisi Fatmawati berharap ada perhatian dari pemerintah, namun ia pun mengaku kebingungan harus mulai dari mana?

“Kalau harus membawa Rahmat berobat ke Bengkulu atau Jakarta, terus terang kami tak punya uang”, imbuhnya lirih.

Terpisah, dikatakan Ruwaidah, Wali Kelas Rahmat di MIS GUPPI Jalan Cokro Kelurahan Talang Rimbo Baru Kecamatan Curup Tengah mengatakan, Rahmat sosok murid yang sangat sopan, rajin dan aktif bersosialisasi terhadap teman-temannya.

“Kami memberikan kompensasi untuk tidak sekolah kepada Rahmat karena kami tahu betul kondisi dia saat ini. Sesekali kami membezuk Rahmat memberikan semangat dan motivasi supaya dia tetap kuat”, kata Ruwaidah.

Ditambahkannya, sebagai wali kelas, ia berharap Rahmat bisa sekolah lagi seperti sediakala. Rahmat masih terdaftar sebagai murid di MIS GUPPI meski sudah masuk 5 bulan ini tidak sekolah.

Di sisi lain, tips untuk mencegah penyakit ini menurut  Alodokter.com melalui dr Nadia Nurotul Fuadah, Interactive Medical Advisor, yaitu dengan istirahat yang cukup, konsumsi makanan bergizi dan berimbang tinggi protein dan kalori. Perbanyak asupan cairan, jaga kebersihan diri dan lingkungan, patuhi prosedur pengobatan yang dokter sarankan dan menghindari obat apapun tanpa pengawasan dokter.

 

 

 

 

 

 

Laporan : Muhamad Anton

Comments

comments

Facebooktwittermail

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *