Gayanya ‘Nyentrik’, Dorong Gerobak Lintas Kabupaten. Padahal Cuma Jajakan Kue Tradisional

“Mamang ini agak nyentrik jualannya. Beda dengan mamang (tukang jualan) gerobak lainnya, ya!”, begitu tutur salah seorang konsumennya, Ime kepada Majid.

Abdul Majid adalah penjual makanan tradisonal. Yakni Lepek (Lepet, Lepat), Oncong-oncong dan Nagosari.  Lepek (Bahasa Bengkulu) adalah makanan berbahan baku ubi kayu/singkong yang dicampur gula merah lalu dibungkus daun pisang. Oncong-oncong (Bahasa Bengkulu), bahan bakunya beras ketan dengan campuran kelapa dan pisang matang yang diadon jadi satu lalu dibungkus daun pisang. Begitu juga dengan Nagosari berbungkus daun pisang, namun bahan bakunya dari tepung beras dan ditengahnya ada irisan pisang.

Majid ketika singgah ke pelanggannya di Desa Pulo Geto Kecamatan Merigi Kabupaten Kepahiang. (Foto : Hendra Afriyanto/RedAksiBengkulu)

Setiap hari Majid, sapaan akrabnya, berjualan sejauh hampir 10 kilometer ke arah Kepahiang.  Tapi jarak sejauh itu ia tempuh dengan berjalan kaki. Banyak pedagang (makanan) keliling di era kini berinovasi dengan kendaraan, baik motor maupun mobil.  Sementara Majid yang sebelumnya tinggal di Kelurahan Karang Anyar dan kini ia tinggal di RT 3, RW 2 Kelurahan Talang Benih Kecamatan Curup Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu, setiap hari berjualan lintas kabupaten. Ketiga jenis makanan itu dijualnya seharga Rp 1.000/buah.

Gerobak yang digunakan Majid untuk menjajakan dagangannya terlihat tidak sama dengan gerobak pedagang pada umumnya. Majid membuat gerobak dengan desain tersendiri dari besi pipa (paralon) berdiameter 2 inchi. Dan besi itu hanya sebagai kerangkanya. Sedang tempat kue-kue dimasukkan ke box atau kotak plastik putih besar yang ada tutupnya.

Selain gerobak, penampilannya ketika berjualan, Majid juga terlihat beda dengan penjual gerobak pada umumnya. Majid selalu menggunakan sepatu sport dan berkaus kaki. Kepalanya selalu ditutupi Caping dengan dilapisi handuk kecil yang menutupi rambut dan kuduknya. Majid juga selalu mengenakan celana setengah tiang (selutut), serta kaos lengan panjang. Sesekali ia juga memakai sarung lengan bermotif Tatto saat ia mengenakan kaos lengan pendek.

Ternyata Majid sudah berumur. Umurnya saat ini sudah 53 tahun dan boleh dikatakan paruhbaya.  Anaknya 3 dan syukurnya bersekolah semua. Hujan, terik, debu ia lalui setiap hari dengan berjualan mendorong gerobaknya. Ketika hujan tak berpayung, debu pun kadang tak menutup hidung demi menghabiskan 400 – 500 buah yang ia bawa setiap hari.

“Kadang habis, kadang bersisa banyak. Namanya juga dagang, kadang senang habis barang, kadang seret”,  tuturnya sambil melepas handuk yang melapisi Caping untuk mengelap keringatnya.

Benar untung yang ia cari dan itu pun tergantung hoki dalam berdagang. Tapi ada sisi menarik lain dari Majid. Ternyata ia tak sekedar mencari untung, melainkan bersilaturahim. Setiap pelanggannya ia sambut baik dan bahkan diajak berkomunikasi.

“Tak ada salahnya kan saya ngobrol dengan pelanggan tentang kehidupan. Kadang kami ngobrol tentang anak-anak kami. Kadang ngobrol soal situasi kondisi yang lain. Bagi saya, pelanggan saya adalah saudara saya”, tutur Majid.

Setidaknya, kata Majid, ketika ia mengakrabi pelanggannya ia tidak bersusahpayah meminta air minum saat bekal minumnya habis di jalan.

“Saya juga sering minta air minum sama pelanggan saya. Mereka juga baik-baik semua”, sambung Majid.

Majid mulai berjualan siang hari dan kadang ia tiba di rumahnya lagi hingga pukul 21.00 WIB. Tentu itu semua ia lakukan selain sebagai tanggungjawab seorang ‘imam’ di keluarganya, ia juga memilki cita-cita yang sederhana. Yakni hanya ingin menyekolahkan 2 putri dan seorang putranya itu sampai universitas.

 

 

 

 

 

 

Laporan : Hendra Afriyanto
Editor : Aji Asmuni

Comments

comments

Facebooktwittermail

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *