Hasil Melimpah Tapi Jauh dari Kata Sejahtera. Adakah Solusi dari Pemerintah ?

0
165
Biji Kopi (Ilustrasi Foto : net)

RedAksiBengkulu.co.id, REJANG LEBONG – Tarsono, petani Kopi Desa Barumanis Kecamatan Bermani Ulu Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu mengeluh harga kopi masih dikendalikan oleh Tengkulak/Toke. Sehingga ketimpangan penghasilan kopi masih terjadi walaupun penghasilan petani Kopi seringkali dalam jumlah besar, namun kesejahteraan ekonomi masih jauh dirasakan.

“Kami bersyukur karena sudah diamanahkan mengelola Hutan Kemasyarakatan (HKm) dan itu kami tanami kopi. Sayangnya, harga kopi ini masih ‘dimonopoli’ para Toke. Kami petani ini tidak bisa berbuat apa-apa”, aku petani Kopi yang memanfaatkan Hutan Kemasyarakatan (HKm) Bukit Daun ini ketika menghadiri Deklarasi Kopi Rakyat Tanah Rejang di pelataran Sekretariat Kabupaten Rejang Lebong, Selasa (11/7/2017).

Salah satu produk kopi kemasan produksi petani kopi dari 5 desa di Rejang Lebong yang dikelola melalui koperasi kelompok tani (Poktan) binaan Akar Foundation. (Foto : ist)

Sementara diungkapkan Coordinator Program Akar Foundation Pramesti Ayu Kusdinar, saat ini kopi Rejang Lebong sendiri mengalami krisis identitas. Dari hasil kopi yang dikelola kelompok tani (Poktan) di 5 desa, yaitu Tebat Pulau, Barumanis, Tanjung Dalam, Tebat Tenong dan Air Lanang mencapai 800 hingga 1.300 ton per tahun. Dengan hasil yang sebesar itu masyarakatnya masih tidak sejahtera.

“Petani Kopi ini memang masih mengandalkan Toke karena faktor modal dari petani tidak ada. Sehingga wajar saja jika harga kopi sendiri sangat mudah dikendalikan oleh Toke”, katanya.

Lanjut dia, untuk mengantisipasi pengaruh Toke terhadap petani Kopi, saat ini pihaknya mendampingi petani Kopi khususnya yang mengelola HKm dengan mengelola koperasi dari 5 kelompok tani di 5 desa tersebut.

“Koperasi ini tujuannya untuk menciptakan kompetisi baru di desa dengan Toke. Sehingga petani kopi tidak melulu tergantung dengan Toke dan mereka bisa mengembangkan usaha kopi melalui koperasi bersama,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Badan Pembangunan Daerah (Bappeda) Rejang Lebong, Zulkarnain mengatakan, pemerintah daerah akan berupaya mendorong usaha kecil menengah (UKM) termasuk koperasi petani Kopi. Karena dengan begitu akan mengurangi pengaruh Toke.

“Kami akan berupaya membantu petani Kopi melalui program pemerintah dengan dana bergulir tanpa bunga melalui BUMDes. Itu akan membantu petani walaupun nilainya tidak terlalu besar”, singkatnya.

 

 

 

 

 

 

Laporan : Muhamad Anton
Editor : Aji Asmuni

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.