Hutan TNKS di Kabupaten Lebong Dirambah Lebih Kurang 5 Hektar

0
97
Titik koordinat kawasan hutan yang dirambah yang masuk dalam kawasan TNKS. [Foto : Rafik Sanie]

RedAksiBengkulu.co.id, LEBONG Hutan di Kabupaten Lebong Provinsi Bengkulu yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) dirambah. Perambahan hutan ini ditemukan oleh anggota Lingkar Institute Provinsi Bengkulu yang berfokus pada Kebijakan Hukum dan Konservasi Harimau Sumatera di wilayah Hutan Konservasi.

Adalah Rafik Sanie yang menemukan areal hutan TNKS yang dirusak oleh oknum yang tidak bertanggungjawab tersebut. Penemuan hutan yang dibabat dengan sengaja itu ketika Rafik dan tim sedang melakukan survei pada 28 Mei hingga 1 Juni 2018 lalu.

Kondisi TNKS terkini yang baru saja diketahui sudah dirambah. [Foto :: Rafik Sanie]
Diketahui, luas areal yang dibabat di kawasan TNKS itu diduga lebih dari 5 hektar. Lokasi hutan itu berada di Desa Tik Kuto Kecamatan Rimbo Pengadang Kabupaten Lebong. Kata Rafik, jarak lokasi hutan yang dirambah bisa dicapai dengan berjalan kaki selama kurang lebih 2 jam dari Desa Tik Kuto atau jarak tempuhnya sekitar 7,5 kilometer. Akses menuju hutan yang dirambah itu diketahui sudah ada jalur lintasan motor.

 

“Di sekitar kawasan hutan itu terdapat 2 talang. Yaitu Talang Kedurang dan Talang Basemah,” kata Rafik kepada RedAksiBengkulu.co.id, Senin (4/6/2018).

Rafik menambahkan, pantauannya di lapangan, areal hutan yang sudah dirambah tersebut separuhnya sudah dilakukan pembakaran. Diduga kuat lahan itu untuk ladang baru. Selebihnya pepohonan sudah ditebang namun belum dibakar.

“Investigasi dan data informan kami di lapangan, yang melakukan perambahan diduga masyarakat Rimbo Pengadang. Dari bukaan lahan baru itu, kayu-kayunya dibawa keluar kawasan”, sambung Rafik.

Bukti pepohonan kayu besar yang sudah ditebang dan beberapa kayu yang dilindungi diantaranya kayu jenis Meranti juga ditebang dan kayunya sudah keluar dari kawasan hutan. [Foto : Rafik Sanie]
Bukti dari kayu-kayu sudah keluar dari areal hutan yang dirambah itu adanya tunggul-tunggul kayu keras, yang mana kayu-kayu tersebut termasuk jenis tanaman hutan yang dilindungi, diantaranya Meranti Merah (Shorea spp).

 

“Kalau jenis kayunya bervariasi. Ada Kayu Meranti.  Untuk kayu ukuran besar kami menemukan ada 75 tunggul batang”, ungkapnya lagi.

Mengetahui hal ini, Rafik langsung berinsiatif melapor ke Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (BBTNKS).

“Kami sedang menyusun laporannya terkait data, foto termasuk titik koordinat. Setelah ini kami akan surati dinas terkait termasuk ke pihak TNKS agar segera ditindaklanjuti,” lanjut Rafik.

 

Dugaan Keterlibatan Oknum TNI dan Ancaman Bencana

Di sisi lain, dari investigasinya, Rafik Sanie beserta tim menerima informasi bahwa ada indikasi keterlibatan oknum anggota TNI yang melakukan pengambilan kayu di kawasan hutan yang sudah jelas-jelas dilindungi negara dan dunia tersebut.

“Informan kami di lapangan menyampaikan ada keterlibatan oknum anggota TNI yang mem-back up pembukaan kawasan itu dengan melibatkan masyarakat setempat. Termasuk pengambilan kayu. Ini yang kami sangat sesalkan kalau memang ada keterlibatan oknum aparat dalam pembukaan kawasan itu”, tutur Rafik lagi.

Selain itu, tambahnya, dari data yang diperolehnya ancaman bencana besar tidak menutup kemungkinan akan mengancam Kabupaten Lebong jika hutan terus dirambah bahkan terus berlanjut ke dalam kawasan TNKS. Sedikitnya Rafik dan tim telah menemukan 25 titik longsor. Ancaman banjir bandang juga bisa saja terjadi dari tiga sungai yang ada di kawasan tersebut. Mengingat sungai-sungai itu muaranya langsung ke Sungai Ketahun yang melintasi Kabupaten Lebong.

“Ada hulu sungai yang membentang di lembah-lembah kawasan itu diantaranya Sungai Sulup, Sungai Semi’ep 1 dan Semi’ep 2. Ketiga sungai itu bermuara di Sungai Ketahun. Apabila terjadi banjir bandang, maka bencana besar akan mengancam Kabupaten Lebong,” demikian Rafik.

Untuk diketahui, dilansir Wikipedia.org, Indonesia memiliki sekitar 4.000 jenis pohon, yang berpotensi untuk digunakan sebagai kayu bangunan. Akan tetapi hingga saat ini hanya sekitar 400 jenis (10%) yang memiliki nilai ekonomi dan lebih sedikit lagi, 260 jenis, yang telah digolongkan sebagai kayu perdagangan.

Daftar nama-nama kayu atau kelompok kayu menurut nama perdagangannya, sesuai dengan Lampiran Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: 163/Kpts-II/2003 tanggal 26 Mei 2003 tentang Pengelompokan Jenis Kayu Sebagai Dasar Pengenaan Iuran Kehutanan; dengan beberapa penyesuaian.

Kayu Meranti dengan variasi jenisnya, termasuk dalam daftar Kelompok Jenis Meranti/Kelompok Komersial Satu. Yang mana Kayu Meranti ini berada di urutan 18, 19 dan 20 dalam daftar tersebut.

 

 

Laporan : Muhamad Antoni

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.