Kain Tenun Khas Bengkulu Ini Lebih Tua Dari Batik Besurek, Sayangnya Punah

0
629
Kain Tenun Delamak, asal Kabupaten Kaur termasuk Kabupaten Rejang Lebong ini merupakan kain khas adat tertua yang terbuat dari bahan dasarnya benang Kloi, jenis tumbuhan menjalar yang dijadikan sebagai benang. Motif kain ini yaitu, garis pantai, pucuk rebung, siku keluang, perahu dan manusia. [Foto : Firmansyah]

RedAksiBengkulu.co.id, BENGKULU – Batik Besurek adalah batik yang paling dikenal bagi masyarakat Bengkulu. Bahkan batik ini sudah menjadi seragam bagi pegawai pemerintahan dan pelajar di Provinsi Bengkulu. Namun, Batik Besurek ternyata bukanlah kain khas pertama kali diciptakan yang ada di Bengkulu.

Sebagaimana diketahui, motif Batik Besurek adalah kaligrafi tanpa makna. Batik ini masuk ke Bengkulu sekitar abad XVI, bersamaan dengan masuknya Islam.

Seperti yang dilansir kompas.com, jauh sebelum Islam masuk ke Bengkulu, ternyata Bengkulu memiliki Kain Tenun Delamak, asal Kabupaten Kaur termasuk Kabupaten Rejang Lebong. Bahan dasarnya benang Kloi, jenis tumbuhan menjalar yang dijadikan sebagai benang. Motif pada kain tenun Delamak ini pun beragam. Diantaranya, garis pantai, pucuk rebung, siku keluang, perahu dan manusia.

“Kain Tenun Delamak ini mendapatkan sentuhan dari Batik Besurek. Semacam berakulturasi”, jelas Muhardi, Kurator Museum Negeri Bengkulu.

Seiring waktu, Kain Tenun Delamak kian tertinggal oleh Batik Besurek. Kain tenun ini dan Ambin Dogan asli khas Bengkulu, punah. Penyebab punahnya karena meninggalnya para penenun dan tidak ada penenun di bawahnya yang mewarisi tenun khas Bengkulu tersebut.

Keberadaan Tenun Delamak ini pun diakui juga oleh Ahmad Barizi, seorang Kolektor dan juga Desainer asal Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu. Dia mengatakan, bahwa dua jenis kain tenun asli buatan masyarakat Suku Rejang, yakni Tenun Delamak dan Ambin Dogan. Jika Delamak, sambungnya, berukuran kecil. Sedangkan Ambin Dogan berukuran besar.

Dituturkannya juga, Tenun Delamak dan Ambin Dogan ini pada ratusan tahun lalu oleh masyarakat Suku Rejang digunakan untuk keperluan pernikahan, kelahiran anak, dan persidangan adat.

“Dalam Adat Rejang itu ada yang namanya sumpah dan sidang adat. Biasanya, dalam pengambilan sumpah atau sidang adat, ada kain yang wajib digunakan. Kain itulah kain Delamak dan Ambin Dogan”, terangnya.

Yang disayangkan Barizi, tak banyak generasi kini yang merasa khawatir dengan punahnya Kain Tenun Delamak dan Ambin Dogan. Bahkan banyak generasi muda Rejang kini yang tidak mengetahui bahwa ada kain tersebut lebih tua usianya dibandingkan Batik Besurek..

Ketika itu, atau sekitar 20 tahun lalu, Barizi mengaku khawatir dan gelisah dengan punahnya kain tenun tertua asal Bengkulu itu. Tidak sedikit upaya yang sudah dilakukannya demi kelestarikan Kain Tenun Delamak dan Ambin dogan.Salah satunya mengumpulkan ratusan jenis Kain Tenun Delamak dan Ambin Dogan bersama almarhum ayahnya.

“Salah satu upaya kami untuk menyelamatkan Kain Tenun Delamak dari kepunahan, ya kami kumpulkan satu per satu. Kami juga sudah berupaya memberi saran kepada pemerintah supaya menghidupkan kembali Kain Tenun Delamak. Kami siap bantu kok”, begitu kata Barizi.

Baca Juga : Perkenalkan, Batik Diwo Asal Kepahiang. Tapi Sayang …..

Di sisi lain, Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Bengkulu, Deff Tri menyatakan, saat ini Pemda Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu sedang menggodok Raperda Perlindungan dan Pengakuan Masyarakat Adat di Kabupaten Rejang Lebong.

“Regulasi yang sedang digodok Pemkab Rejang Lebong merupakan kunci bagi upaya pelestarian Kain Tenun Delamak dan Ambin Dogan ini. Raperda itu nantinya juga harus memberikan jaminan bahwa pemerintah wajib melakukan upaya penegakan kembali warisan budaya, adat termasuk hukumnya”, terang Deff Tri.

Dari perda itu nantinya, lanjut Deff Tri, pelestari warisan adat seperti yang dilakukan Ahmad Barizi menjadi mudah dan wajib difasilitasi pemerintah daerah. Karena raperda itu berbicara pemenuhan hak-hak masyarakat adat yang mana di dalamnya juga mencakup memenuhi kewajiban pemerintah menghidupkan kembali warisan budaya yang nyaris punah, seperti Tenun Delamak dan Ambin Dogan tersebut.

“Itu harus dihidupkan kembali agar sejajar dengan kain-kain tenun lainnya yang terkenal dari wilayah lain di seluruh nusantara” demikian Deff Tri.

Informasi tentang Kain Tenun Delamak ini juga bisa dilihat di youtube. Silakan klik link videonya :


Laporan : Aji Asmuni

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.