Kenapa Dinamakan Pameran Terpadek 4 Perupa Bengkulu ? Yang Tak Suka, Ayo Kita Diskusikan

Sambutan Kepala Taman Budaya Bengkulu, Buyung Asril (kiri), Koordinator Kegiatan, Dedi Suryadi alias Sucenk (tengah) dan salah seorang Perupa, Suyitno (kanan). (Foto : Dokumentasi Pantia)

RedAksiBengkulu.co.id, BENGKULU – Pameran Terpadek 4 Perupa Bengkulu yang digelar di Taman Budaya Bengkulu, resmi dibuka oleh Kepala Taman Budaya Bengkulu, Buyung Asril, Minggu (4/6/2017). Opening ceremony dibuka sekitar sejam sebelum waktu berbuka puasa.

Dalam pengantar kata pada Pameran Terpadek ini dijelaskan, pameran seni rupa ini sengaja dirancang melalui gagasan dan konsep unconventional yang berupaya untuk menyikapi atas berbagai fenomena yang terjadi di daerah. Hal ini tentunya melalui proses diskusi panjang yang melibatkan beberapa individu, mengingat kebutuhan ide yang diinginkan demi tercapainya beberapa tujuan yang disepakati bersama.

Hal ini juga bukan berarti tanpa pertimbangan konsekuensi mengenai respon atas apresiasi yang hadir nantinya. Pengantar ini berupaya untuk menjadi acuan untuk menggiring kepada suatu pemahaman. Dimana relevansi atas beberapa penjelasan yang dipaparkan merupakan point utama yang diharapakan dapat dipahami bersama.

Mengapa pameran ini disebut sebagai Pameran Terpadek dengan mengusung tema ‘Tabayyun’ ? Dan mengapa hanya 4 Perupa yang berpartisipasi dengan hanya 4 karya seni rupa? Pertama, ketika banyak lahirnya istilah-istilah baru dan klaim atas apa yang dipercaya, adalah telah menjadi suatu hal wajar dewasa ini atas klaim diri maupun kelompok atau sebuah produk yang diklaim sebagai yang terhebat, terbaik, terbagus, dan sebagainya.

Termasuk klaim diri atau suatu komunal sebagai praktisi seni (seniman). Dan bisa jadi ketika dibawa ke ranah ilmu ekonomi hal tersebut merupakan strategi marketing demi tercapainya suatu target. Dari istilah Terpadek yang dimaksud bukan merupakan arti yang sesungguhnya yang begitu ambisius. Tak lain istilah tersebut bersifat hanya sebatas upaya dari kreatifitas yang dibangun untuk menjadikan apa yang dilakukan menjadi menarik dan berbeda yang bisa dipertanggungjawabkan tanpa mengesampingkan nilai-nilai yang ada.

Kedua, secara singkat Tabayyun secara bahasa memiliki arti mencari kejelasan tentang sesuatu hingga jelas benar keadaannya. Sedangkan secara istilah adalah meneliti dan meyeleksi berita, tidak tergesa-gesa dalam memutuskan masalah baik dalam hal hukum, kebijakan dan sebagainya hingga jelas benar permasalahannya. Tema ini sengaja diusung sebagai refleksi bersama atas berbagai fenomena yang terjadi dengan berbagai macam persoalan.

Ketiga,  dengan hanya melibatkan empat orang perupa juga dengan hanya 4 karya yang dipamerankan dalam satu ruang, adalah sebagai suatu simbol yang merefleksikan kondisi yang sedang dialami. Bahwa dalam perkembangan seni rupa yang begitu pesatnya, yang semestinya dapat menjadi acuan untuk dapat bersaing dalam melahirkan wacana dan ide-ide baru. Sementara ada seni rupa daerah yang masih terbawa dengan gaya seni rupa lama yang tidak lagi aktual dan  masih berkutat dengan segala macam persoalan klasiknya.

Dengan bahasa yang sedikit pesimis, bukan tidak mungkin tanpa adanya gebrakan dan inovasi dalam melahirkan wacana dan ide-ide baru, menjadikan seni rupa daerah menjadi semakin tertinggal dan tidak mampu bersaing dengan seni rupa yang berkembang. Dan bisa jadi akan mengalami keterasingan dalam dinamika perkembangan seni rupa.

Minimnya wacana, ide dan gagasan, serta apresiasi yang terbilang masih jauh dari ekspektasi yang diharapkan merupakan persoalan yang menjadi tanggungjawab bersama dalam suatu daerah. Belum lagi polemik internal yang terjadi di kalangan praktisi itu sendiri yang sampai saat ini merupakan masalah klasik yang senantiasa hadir.

Pesatnya perkembangan dunia seni rupa saat ini secara tidak langsung telah memberikan tantangan tersendiri dan tugas besar bagi para praktisi seni (seniman) untuk terus berinovasi dalam memmacu kreatifitas. Dapat dikatakan bahwa dunia seni rupa saat ini telah mengalami periode dimana teori-teori baru telah berkembang dan hadir sebagai bagian dari perkembangan yang berlangsung.

Hal-hal yang terkait dengan dinamika perkembangan seni rupa tidak jarang menjadi polemik yang selalu menarik untuk dipertanyakan dan diapresiasikan sebagai wujud refleksi realita perkembangan seni rupa. Dari setiap perkembangan seni rupa daerah, tentu memiliki persoalan yang beragam sesuai dengan pengaruh kultur yang ada dan telah berkembang dari masa ke masa. Dan tentunya dari setiap persoalan-persoalan yang ada merupakan fakta yang  selalu menarik untuk disikapi dan dipelajari seksama.

Bergulirnya arus informasi yang merupakan dampak langsung dari perkembangan teknologi juga merupakan suatu hal yang harus disikapi secara bijak. Hal ini juga dapat dikaitkan dengan berkembangnya dunia seni rupa secara universal. Mengingat peran dari digitalisasi telah menjadi suatu kebutuhan sebagai media penunjang dari eksistensi seni rupa dan kesenian dalam cakupan yang lebih luas.

Keterbukaan informasi dengan segala hal yang terkandung di dalamnya tentu memerlukan kebijakan dalam memilahnya sesuai kebutuhan. Terlebih dengan banyaknya informasi yang hadir dari berbagai sumber tidak serta merta merupakan suatu hal yang bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Karenanya, dari perkembangan yang terjadi bukan lagi suatu hal aneh ketika banyak lahirnya istilah-istilah baru dan klaim atas apa yang dipercaya.

Suasana opening ceremony. (Foto : Dokumentasi Panitia)

Koordinator kegiatan Dedi Suryadi alias Sucenk menuturkan, kegiatan ini belum bisa dikatakan sukses karena belum adanya saran dan kritik dari masyarakat (pengunjung) yang datang. Sucenk berharap pada agenda diskusi yang digelar Senin (5/6/2017) pukul 16.30 WIB kelak, akan ada bahasan yang menarik. Baik dari praktisi rupa maupun dari penikmat seni.

“Semoga pada diskusi besok, kami berharap ada perdebatan yang menarik namun tetap tujuannya membangun. Sehingga akan melahirkan benang merah dari tema Tabayyun ini”, terang Sucenk.

Untuk narasumber pada diskusi kelak, lanjutnya, akan hadir Ahmad Sarjoni yang tak lain salah seorang praktisi rupa asal Bengkulu. Serta akan ada juga praktisi seni lainnya yang akan mengupas tentang seni di Bengkulu dari diskusi itu nantinya.

Buka puasa bersama (Foto : Dokumentasi Panitia)

Sementara itu, usai acara dibuka oleh Kepala Taman Budaya Bengkulu, dilanjutkan buka bersama puasa. Menu berbuka puasa yang ada berasal dari donatur serta masing-masing pengunjung.

Untuk diketahui, karya-karya rupa dari 4 Perupa Bengkulu itu adalah karya dari Meidy Kurniawan (Forum Rupa Bengkulu), Muhammad Juang Putra Cendekia alias Utha (Tattoo Artis Bengkulu of Solidarity/TOBS), Suyitno (Komunitas SaYak) dan Muhammad Affif (Komunitas Seni Jering Mudo/KSJM).

Keempat Perupa tersebut memiliki spirit kekaryaan dan karakter yang beragam. Mengingat keseluruhan Perupa itu lahir dan berproses dengan latar belakang seni rupa yang berbeda.

Karya Meidy Kurniawan (Forum Rupa Bengkulu)
Karya Muhammad Juang Putra Cendekia alias Utha (Tattoo Artis Bengkulu of Solidarity/TOBS)
Karya Muhammad Affif (Komunitas Seni Jering Mudo/KSJM)
Karya Suyitno (Komunitas SaYak)

 

 

 

 

 

 

Laporan : Aji Asmuni
Rilis : Panitia

Comments

comments

Facebooktwittermail

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *