Kengerian Dampak Yang Akan Dihadapi Perempuan Akibat Perubahan Iklim

0
216
Dua wanita sedang ini mencari sumber makanan di saat badai debu karena musim kering yang melanda sebuah daerah bernama Kalacha Bangladesh selama 3 tahun lamanya. [Foto : Gideon Mendel/concernusa.org]

RedAksiBengkulu.co.id, REJANG LEBONG – Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu dikenal sebagai daerah penghasil sayur sayuran atau komoditas hortikultura. Tentu masyarakat daerah ini didominasi sebagai petani. Arus globalisasi secara tidak langsung juga berdampak pada perubahan iklim. Tentu ini akan menjadi ancaman baru tidak hanya bagi petani kaum laki-laki namun juga kaum perempuan.

Dosen Jurusan Kehutanan Universitas Bengkulu (Unib), Guswarni Anwar mengatakan, dampak dari perubahan iklim akan mempengaruhi semua sistem yang ada di lingkungan, kesehatan manusia, pembangunan, kondisi hutan, air dan makanan. Terlebih perubahan iklim juga sangat rentan terhadap perempuan. Karena sejatinya terjadinya perubahan iklim berdampak pada aktivitas perempuan. Di antaranya dari segi waktu, jelas waktu yang dibutuhkan untuk bekerja akan bertambah. Bertambahnya waktu kerja bagi kaum perempuan akan merambat pada bertambahnya beban lain seperti anggaran belanja.

“Misal, seorang perempuan petani sawah.  Apabila terjadi dampak perubahan iklim hingga menyebabkan kekeringan bahkan berdampak pada gagal panen, perempuan akan kesulitan mengatur konsumsi rumah tangganya. Berkurangnya jumlah pangan juga akan berdampak pada kenaikan harga bahan-bahan pokok”, kata Guswarni.

Dalam sebuah materinya yang berjudul “Potensi Keterlibatan Perempuan Dalam Pengelolaan Hutan Untuk Ketangguhan Perubahan Iklim Dan Ketahanan Pangan” yang disampaikan Guswarni pada sebuah diskusi pada Selasa, (5/6/2018) lalu menyebutkan, beberapa data-data dampak perubahan iklim secara global.

  • Air bersih susah (kini hanya 1 dari 5 penduduk dunia yang dapat memperoleh air bersih). Pada 2020, 75 juta – 250 juta orang di Afrika kesulitan air bersih.
  • Sekitar 20 – 30% spesies menghadapi kepunahan saat rata-rata suhu global meningkat hingga 1,5-2,5°C.
  • Mencairnya es di Greenland mengakibatkan permukaan air laut meningkat hingga 6 m. Belanda sudah merancang rumah terapung.
  • Semakin tingginya frekuensi dan intensitas hujan badai dan angin topan (hurricane).
  • Terjadi migrasi besar-besaran. Diperkirakan sekitar 50 juta orang menjadi pengungsi akibat perubahan iklim pada 2010.
  • Ledakan berbagai penyakit tropis seperti malaria dan demam berdarah.
  • Pada 2003, sekitar 20.000 – 30.000 orang di Eropa kehilangan nyawa karena gelombang panas.
  • Gagal panen akibat kekeringan sehingga terjadi kelaparan besar-besaran.
  • Kebakaran hutan semakin sering terjadi.

Dari kengerian dampak perubahan iklim secara global itu, lanjut Guswarni, potensi keterlibatan perempuan dalam pengelolaan hutan untuk ketangguhan perubahan iklim dan ketahanan pangan perempuan memiliki peranan penting dalam pengelolaan sumber daya alam (SDA) atau hutan sebagai tanggungjawab terhadap kehidupan keluarganya. Yakni dengan cara menyediakan air bersih dan sumber energi serta peran perempuan dalam pertanian penting untuk ketahanan pangan.

“Pengambilan keputusan terkait pemanfaatan sumberdaya dan ketersediaan pangan sering ada di tangan perempuan yang juga menjaga agar perekonomian keluarga tetap sejahtera”, ujarnya pada diskusi yang digelar di Desa Pal VIII yang diinisiasi oleh KPPL Maju Bersama dengan mengundang perempuan dari berbagai desa serta perangkat desa.

Selain itu kata dia, perempuan adalah tonggak dalam pertanian skala kecil atau subsisten mulai dari produksi, distribusi, hingga konsumsi. Model produksi yang melibatkan perempuan sebagai pemegang kendali ini tidak hanya akan memastikan ketahanan pangan dan nutrisi dengan mutu baik terjaga, tapi juga pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan akan diterapkan. Dalam hal ini, perempuan memiliki kontribusi signifikan dalam menjaga ketahanan pangan dan kelestarian lingkungan melalui pengetahuan dan keterlibatannya.

Pada kesempatan itu juga, peserta diajak mendiskusikan kelebihan lain dari pola agroforestri dari aspek ekologi dan ekonomi. Termasuk bisa mengurangi resiko kerugian total akibat perubahan cuaca dan iklim, serangan hama dan penyakit, inefiensi pasar, penurunan kesuburan tanah dan terganggunya kesehatan pemilik/pengelola kebun.

Berdasarkan hal tersebut, keterlibatan perempuan bagi lingkungan, ketahanan pangan sangatlah penting bagi kelangsungan hidup umat manusia dan lingkungan. Namun ketidaksadaran membuat hak perempuan menjadi dikesampingkan. Keterlibatan perempuan baik di lingkungan maupun di kehidupan sehari-hari hanya menjadi pelengkap semata kadang tak luput dari kekerasan.

Tenaga Ahli Pendamping Desa di Kabupaten Rejang Lebong, Fery Murtiningrum mengatakan, keterlibatan perempuan dalam ketahanan pangan masih sangat minim. Menurut dia, selama ini tidak banyak yang dilakukan sebagian besar perempuan di sekitar hutan karena perempuan sering dianggap sebagai pengurus rumah tangga. Satu sisi, paradigma yang melekat di masyarakat selama ini bahwa pekerjaan berat seperti berkebun,  berburu dan mengumpulkan berbagai jenis hasil hutan, semata-mata hanya bisa di lakukan laki-laki

”Keterbatasan data dan informasi dalam kuantitas maupun kualitas sumber daya hutan yang berpengaruh pada kegiatan pengelolaan dan pengendalian sumber daya hutan itu yang selama ini menjadi masalah bagi perempuan,” kata Fery.

Ditambahkan dia, permasalahan lainnya adalah keterbatasan sumber daya dan belum optimalnya pengelolaan sumber daya alam. Kurangnya pengetahuan tentang teknologi pengelolaan, kurangnya modal dan keterbatasan sarana dan kondisi lingkungan.

Sejak bedirinya Kelompok Perempuan Peduli Lingkungan (KPPL) Desa Pal VIII Kecamatan Bermani Ulu Raya Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu ‘Maju Bersama’ , kelompok perempuan ini mulai menyadari pentingnya keterlibatan perempuan terhadap perubahan iklim dan ketahanan pangan. Yang dilakukan mereka adalah mulai melakukan kegiatan mitigasi untuk mengatasi dampak perubahan iklim yang sedang terjadi. Salah satunya dengan mengembangkan Agroforestri atau kebun campur yang memanfaatkan lahan di sekitar rumah.

Dikutip liveindonesia.id upaya KPPL Maju Bersama Desa Pal VIII untuk membangun kebun pembibitan terus dimatangkan. Selain untuk berpartisipasi dalam upaya pelestarian TNKS/Warisan Dunia KPPL juga memanfaatkan bibit untuk mengajak perempuan mengembangkan kebun kopi berpola agroforestri dan memanfaatkan lahan di sekitar rumah. Mempertimbangkan sejumlah kelebihan kebun berpola agroforestri, peserta yang hadir dalam diskusi pun memutuskan, mendukung rencana KPPL Maju Bersama.

Oleh KPPL Maju Bersama, Jaringan Perempuan Desa Sekitar TNKS, dan Komunitas Perempuan Penyelamat Situs Warisan Dunia (KPPSWD) mulai menyadari bahwa keterlibatan perempuan baik terhadap lingkungan yang baik, hak pengelolaan hutan, hak memberikan pendapat serta hak mendapatkan kehidupan yang lebih baik semakin disadari. Meskipun perempuan yang ikut serta ini tidak terlalu banyak, akan tetapi upaya-upaya yang dilakukan mereka dalam memanfaatkan dan menjaga kawasan Taman Nasional sangat berperan penting.

Rita Wati, selaku Ketua KPPL Maju Bersama mengaku jika kelompoknya kini semakin sadar akan adanya dampak perubahan iklim. Dipaparkannya, ketika dia masih kecil, pergantian musim sangat mudah diperhitungkan. Sehingga orang tuanya dulu tidak kesulitan untuk memperhitungkan masa tanam maupun masa panen.

Karena dua musim di Indonesia yakni musim hujan (September – Februari) dan musim kemarau (Maret – Agustus) kala itu berlangsung sesuai dengan periodiknya. Namun sejak adanya perubahan iklim secara global membuat musim di Indonesia pun berdampak tak beraturan. Perubahan iklim inilah lambat laun juga berdampak pada hasil pertanian bahkan berdampak pada sektor-sektor lainnya.

Begitu juga diakui oleh Prisnawati, kepala desa setempat. Dia mengatakan, menurut pemantauan dari aktivitas sehari-hari, ada perubahan terhadap tanaman mereka. Terutama untuk komoditas kopi. Yang mana sejak terjadi perubahan iklim menyebabkan tanaman kopi mudah sekali terserang jamur.

Kesadaran akan adanya perubahan iklim yang merubah kondisi pertanian masyarakat khususnya perempuan di desa yang berbatasan dengan kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) inilah menggugah inisiatif bersama. Saling berbagi pengetahuan yang berbasis lingkungan, pemanfaatan kawasan TNKS terus diupayakan sebagai wujud dari usaha untuk meminimlisir dampak perubahan iklim.

Sedangkan menurut Pitri Wulansari, Aktivis Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Provinsi Bengkulu mengatakan, keterlibatan perempuan terhadap perubahan lingkungan sangatlah penting. Yang mana kata dia, perempuan akan mengalami dampak dari perubahan iklim lebih besar daripada laki-laki.

“Ketersediaan pangan, akses pangan dan juga pemanfaatan pangan akan menjadi dampak terbesar pada perempuan apabila perubahan iklim terus terjadi”, kata Pitri.

Ditambahkannya, keterlibatan perempuan bisa dilakukan dengan upaya-upaya sperti mitigasi, melalui kegiatan reboisasi, rehabilitasi dan penghijauan.

“Perempuan juga harus bisa beradaptasi selain melakukan mitigasi, adaptasi dalam hal apa saja. Yaitu dengan menyesuaikan dari dampak perubahan iklim yang sudah terjadi”, ujarnya.

Di sisi lain, dampak perubahan iklim di Indonesia juga terdapat di Kabupaten Asmat Provinsi Papua. Pada Januari 2018, di daerah itu dikejutkan dengan Kejadian Luar Biasa (KLB) penyebaran penyakit Campak dan Gizi Buruk.

Seperti yang dilansir BBC News Indonesia dari laporan tim kesehatan menyebutkan, sepanjang Oktober – Desember 2017 terdapat 28 orang meninggal di Pedalaman Papua tersebut. 22 di antaranya adalah anak-anak. Rincian anak-anak yang meninggal, laki-laki 12 orang dan perempuan 10 orang. Sementara korban jiwa kategori usia dewasa sebanyak 2 orang laki-laki dan 4 orang perempuan.

“Kami sudah dapat laporan yang dari Pegunungan Bintang. Tapi dari sisi Kementerian Sosial, aspek kemanusiaan terutama, kalau suatu komunitas ada gizi buruk ada kemungkinan kejadian rawan pangan atau bahkan ketiadaan persediaan pangan dalam jangka waktu yang lama,” jelas Harry Hikmat, Dirjen Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial.

Harry juga menyebut, berdasarkan pengamatan kelangkaan pangan di Asmat adalah akibat dari kurangnya buruan mereka. Mengingat sebagian masyarakat Papua memang masih mengandalkan pola survive mereka dengan cara berburu dan berladang yang tak menetap (pindah-pindah). Karena sebagian mereka yang hidup di pedalaman sepenuhnya merupakan masyarakat peramu dan tidak memiliki keahlian berladang.

“Jadi mereka mencabut, atau mengambil tanaman yang secara alami tumbuh”, jelas Harry.

Berdasarkan kejadian itu, bisa dinilai bahwa akibat bahaya kerawanan pangan dapat menyebabkan kematian dari kaum perempuan. Meski jumlahnya tidak signifikan tetapi hal tersebut ikut menyumbang angka kematian terhadap perempuan akibat kelangkaan pangan. Lalu apa yang dapat dilakukan oleh perempuan untuk mengantisipasi hal tersebut.

Dalam sebuah penelitian mengatakan, perempuan lebih kuat berada di lingkungan keras dibanding laki-laki. Seperti yang dikutip dari vice.com, Virginia Zarulli, seorang Asisten Profesor di bidang Biodemografi di University of Southern Denmark menawarkan bukti baru bahwa, sejak awal memang ada perbedaan biologis bawaan, bukan perilaku, yang menjadi akar dari perbedaan daya tahan lelaki dibandingkan perempuan. Studi ini meneliti lebih jauh situasi seperti Donner Party, ketika manusia dihadapkan dengan kondisi ekstrem, seperti kelaparan atau kemunculan wabah penyakit.

“Ketika kamu ingin menganalisa alasan dibalik daya tahan sebuah spesies, biasanya kamu meletakkan sebuah organisme di dalam laboratorium dan membuat mereka bereaksi terhadap kondisi ekstrem dan melihat hasilnya. Jadi kami mencari data dari manusia yang akan mensimulasikan kondisi ekstrem macam itu dan menemukan beberapa populasi macam itu”, kata Zarulli.

Zarulli dan kolaboratornya memeriksa tujuh periode dalam sejarah di mana orang memiliki tingkat harapan hidup yang sangat rendah —20 tahun atau kurang — yang juga memiliki dokumentasi kredibel seputar angka kematian dan gender. Beberapa contoh tragis, Budak Liberia dari awal 1800 an yang bermigrasi ke Afrika memiliki tingkat mortalitas 1,68 tahun bagi lelaki dan 2,23 tahun bagi perempuan. Akibat sistem tanam paksa modern pada 1933 di Ukraina, wabah kelaparan menyebabkan harapan hidup jatuh ke angka rata-rata 7,3 tahun bagi lelaki dan 10,9 tahun bagi perempuan setempat.

Dalam kelompok-kelompok ini, perempuan memiliki angka mortalitas lebih rendah di semua kategori umur dengan pengecualian populasi Budak Trinidad. (Dalam kasus ini, Zarulli berpendapat budak lelaki dewasa dianggap lebih berharga)

Biarpun perempuan cenderung bertahan lebih lama di semua kategori, peneliti menemukan bahwa bayi perempuanlah yang memiliki daya tahan terbaik. Perbedaan inilah yang menyebabkan perbedaan besar dalam daya tahan antar gender. Karena bayi lelaki dan perempuan memiliki perbedaan kelakuan yang minimal dan belum ikut berpartisipasi dalam perilaku gender. Akhirnya dia merasa penemuan ini setidaknya dapat menjelaskan betapa faktor biologi memainkan peran utama mempengaruhi daya tahan perempuan yang unggul dibanding lawan jenisnya.

Dia juga mengatakan, mereka terkejut atas penemuan perihal bayi ini karena dalam konteks sejarah, anak-anak lelaki selalu diprioritaskan di atas anak perempuan.

“Biarpun adanya diskriminasi ini, fakta bahwa perempuan masih memiliki daya tahan yang lebih baik dibanding lelaki sangatlah mengejutkan. Ini menunjukkan adanya akar biologis mendalam dalam perihal daya tahan perempuan, terutama remaja perempuan”, ungkapnya.

Sementara itu, dijelaskan oleh komnasperempuan.go.id melalui lembar fakta dan poin kunci Catatan Tahunan (CATAHU) Komnas Perempuan Tahun 2018 yang dikeluarkan di Jakarta 7 Maret 2018, ada 348.446 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan dan ditangani selama tahun 2017. Yang terdiri dari 335.062 kasus bersumber pada data kasus/perkara yang ditangani oleh Pengadilan Agama, serta 13.384 kasus yang ditangani oleh 237 lembaga mitra pelayanan tersebar di 34 provinsi.

 

Laporan : Muhamad Antoni

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.