Mengunjungi Petani Gula Merah Aren Desa Air Meles Atas Kecamatan Selupu Rejang, Rejang Lebong - Bengkulu
Kondisi Gula Merah Aren Curup – Bengkulu ‘Yang Manis Nan Miris’

0
666
Petani Gula Merah Aren produksi Desa Air Meles Atas Kecamatan Selupu Rejang Rejang Lebong - Bengkulu. (Foto : Muhamad Antoni/RedAksiBengkulu))
Ilustrasi Gula Merah. (Foto : net)

RedAksiBengkulu.co.id, REJANG LEBONG – Salah satu sentra penghasil Gula Merah Aren terbesar di Kabupaten Rejang Lebong adalah Desa Air Meles Atas Kecamatan Selupu Rejang Kabupaten Rejang Lebong Bengkulu. Desa ini berbatasan dengan Cagar Alam Talang Ulu II.

Diketahui, ada 400-an Petani Aren di daerah ini. 350-an diantaranya petani lokal dan selebihnya petani bukan dari penduduk lokal. Pola tanam aren di ladang mereka tumpang sari. Menggunakan tumpang sari karena bagi mereka penghasilan dari penjualan Gula Merah Aren belum begitu diandalkan. Sehingga petani setempat bisa mengandalkan hasil pertanian dari tumpang sari tersebut.

Diungkapkan petani Aren setempat,Marno (30) mengatakan, per harinya dia menghasilkan hingga 13 kilogram Gula Merah Aren, hanya saja sejak dua bulan terakhir harga Gula Merah Aren anjlok.

“Sehari biasa ambil  air aren pagi dan sore. Kini harganya Rp10.000 per kilogram. Harga ini turun dari harga sebelumnya Rp14.000 hingga Rp18.000 per kilogramnya”, tutur Marno.

Turunnya harga Gula Merah Aren ini, menurut dia, dikarenakan beberapa daerah sebagai konsumen Gula Merah Aren Rejang Lebong sedang mengalami masa paceklik. Yakni dari Palembang Sumatera Selatan dan Kota Lubuklinggau yang menggunakan Gula Merah Aren asal Rejang Lebong untuk pembuatan kuah makanan khas Palembang yaitu cuka Pempek.

Kepala Desa Air Meles Atas Mahyono mengungkapkan, turunnya harga Gula Merah Aren tersebut karena wilayah konsumen terbesar Gula Merah Aren sedang mengalami masa paceklik sehingga permintaan Gula Merah Aren menjadi turun.

“Karena permintaan berkurang, sehingga harganya jadi turun. Karet, Sawit pun juga murah”, imbuhnya.

Dalam siklus daya beli Gula Merah Aren, sambungnya, pemintaan meningkat biasanya terjadi bulan Ramadhan. Ada juga bulan-bulan tertentu yang pemintaannya meningkat.

Selain turunnya harga, ancaman lainnya adanya Gula Merah Aren oplosan yang masuk ke daerah pemasaran tersebut. Meskipun gula oplosan itu muncul ketika datang bulan puasa (Ramadhan).

“Kami pernah menemukan jenis gula oplosan. Ciri-cirinya, warna tidak ada tetapi gula ini lebih tahan lama dan sangat keras. Padahal normalnya Gula Merah Aren kalau diendapkan dalam semalam saja dengan kondisi tidak tertutup, gula akan lembek (berair). Tapi kalau gula oplosan tidak lembek dan tetap keras”, bebernya.

Meskipun demikian, dia tetap meyakini Gula Merah Aren oplosan tersebut tidak akan mempengaruhi peredaran Gula Merah Arennya. Mengingat soal rasa Gula Merah Aren asal Desa Air Meles Atas sudah dijamin rasa dan kualitasnya oleh konsumen manapun.

“Ini soal rasa. Konsumen kami mengakui kualitas gula kami dan mereka sudah tahu Gula Merah Aren asli dengan oplosan. Itu bisa dilihat dari ciri-ciri fisik gula dan diketahui juga dari ketahanan kuah cuka yang mereka buat”, sambungnya.

Mahyono juga menjelaskan terkait Aren yang dicampur dengan deterjen, bahwa Gula Merah Aren sendiri jika tidak dicampur dengan cairan deterjen, hasilnya akan lebih bagus. Karena cairan deterjen itu dianggapnya tidak ada pengaruh dengan hasil Gula Merah Aren itu sendiri.

“Memang beberapa petani gula aren meyakini, bahwa Air Nira lebih bersih. Tapi pada proses memasak malah akan menyebabkan buih pada Air Nira lebih banyak. Sehingga Air Nira terbuang sia-sia, kalau tidak pakai deterjen hasilnya akan lebih bagus. Tapi kalau saya sendiri beranggapan, kalau rajin membersihkan wadah penampung Air Nira maka tidak perlu lagi menggunakan deterjen”, ungkapnya.

Sementara itu, Pohon Aren sendiri mampu hidup lebih dari 20 – 25 tahun. Setelah itu Pohon Aren tidak bisa lagi menghasilkan Air Nira dan mati dengan sendirinya. Pohon Aren sendiri bisa disadap Air Niranya pada umur pohon 5 – 9 tahun, tergantung kualitas kuncup bunga yang disadap. Pada kondisi normal, per harinya dalam kondisi normal pada musim hujan bisa menghasilkan 2 liter bahkan lebih. Akan tetapi kelemahannya musim hujan akan menyebabkan rasa Air Nira cenderung lebih asam.

Berbeda dengan musim kemarau volume Air Nira bisa diambil pada pohon yang produktif bisa mencapai 2 liter dengan tingkat keasaman lebih rendah. Dalam sekali proses perebusan Air Nira pada wadah kuali besar bisa mencapai 80 liter dengan bisa menghasilkan Gula Merah yang dicetak menggunakan tempurung kelapa dengan rata-rata dari 80 liter tersebut mencapi 10 – 13 kilogram Gula Merah tergantung dengan kualitas Air Nira yang dihasilkan.

 

 

 

 

 

 

Laporan : Muhamad Anton
Editor : Aji Asmuni

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.