Limbah Belerang dan Meterial Longsor Diduga Pemicu Gagalnya Panen Padi di Desa Ini

0
106
David, salah seorang petani yang sawahnya terancam gagal panen memperlihatkan belerang dan limbah material longsor. [Foto : ist]

RedAksiBengkulu.co.id LEBONG – Petani sawah di Kecamatan Bingin Kuning Kabupaten Lebong Provinsi Bengkulu, sejak 3 bulan terakhir ini tidak bisa melakukan aktivitas bersawah. Penyebabnya diduga karena lahan persawahan mereka tercemar limbah belerang dari aliran Sungai Air Kotok.

Dituturkan David, petani setempat, limbah belerang serta campuran material longsor tersebut diduga berasal dari proyek PT Pertamina Geothermal Energi (PGE) yang berada di Sungai Hulu Lais. Sawah yang digarap dia pun yang luasnya sekitar hektar itu kini juga tidak bisa ditanami padi karena aliran air bercampur belerang.  

“Saya sudah dua kali tanam benih padi dalam tiga bulan ini, tapi setiap hujan pasti air sungai bercampur belerang. Terang saja benih padi jadi rusak. Dan itu bukan saya saja, tapi petani lain juga demikian”, aku David.

Ditambahkan dia, sejak bencana longsor di kawasan PT PGE pada 2016 lalu, sejak itu juga normalisasi tanggul Sungai Air Kotok tidak pernah dilakukan. Sehingga ketika hujan, air sungai bercampur lumpur dan mengandung belerang. Selain berdampak pada sawah, intesitas hujan yang tinggi di Lebong sejak pekan lalu juga berdampak pada banjir yang menggenangi rumah warga.

“Aliran Sungai Air Kotok itu kini sering meluap. Ada sekitar 300 hektar lahan persawahan dan juga kolam ikan terdampak material longsor bercampur belerang. Dulu tidak pernah terjadi seperti ini. Tapi sekarang kalau hujan, pasti kondisi sawah kami terdampak”, sambungnya. 

David juga menjelaskan, jauh sebelumnya ketika lahan persawahannya tidak pernah terdampak banjir air belerang dan material longsor, sawahnya itu bisa menghasilkan padi sekitar 60 karung. Namun kini, jangankan untuk panen, benih padi itu bisa tumbuh hingga berbuah sudah sangat bersyukur.

“Risikonya tanam ulang benih lagi. Tapi jika seperti ini terus, persediaan benih lama kelamaan juga akan habis. Bahkan ada beberapa petani lain belum bisa menanam kembali karena kehabisan modal”, keluhnya.

David berharap pemerintah daerah maupun pihak PT PGE khususnya di proyek Hulu Lais untuk segera melakukan normalisasi agar kejadian serupa tidak terulang. Mengingat mayoritas pencaharian warga setempat hanya mengandalkan hasil sawahnya untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

 

Laporan : Muhamad Antoni

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.