Masih Adakah Harimau Sumatera di Hutan TNKS Bengkulu ?

0
589
Jejak Harimau di Hutan TNKS Rejang Lebong Provinsi Bengkulu. (Foto : Dok Kantor Bidang BTNKS Wilayah III Bengkulu - Sumsel)
Polhut yang sedang berjaga di Hutan TNKS Rejang Lebong. (Foto : Dok Kantor Bidang BTNKS Wilayah III Bengkulu – Sumsel)

RedAksiBengkulu.co.id, REJANG LEBONG – Kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) memiliki luasan mencapai 1,3 juta hektar. Hutan yang dinobatkan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO pada tahun 2004 itu terbentang di 4 provinsi. Yaitu Provinsi Jambi, Sumatera Barat, Sumatera Selatan dan Bengkulu

Di Taman Nasional ini menyimpan hampir 4.000 spesies tumbuhan termasuk habitat bunga terbesar Rafflesia Arnoldi dan bunga tertinggi yaitu Amorphophallus. Selain itu juga sebagai habitat fauna dilindungi yakni Badak Sumatera, Gajah Sumatra, Beruang Madu, Tapir dan tentunya sebagai habitat Harimau Sumatera.

TNKS sendiri saat ini tengah mengalami tekanan seperti perburuan liar, perambahan hutan yang membuat populasi Harimau Sumatera terancam keberadaannya. Kadang sering juga terjadi konflik Harimau dengan manusia. Dari dokumen proyek Sumatran Tigers dan World Wildlife Fund (WWF) mencatat, angka perkiraan 50 Harimau diburu dan ditangkap secara ilegal setiap tahun dari tahun 1998 – 2002.

Di Kabupaten Rejang Lebong, luasan Hutan TNKS mencapai 26.000 hektar yang terbentang di 5 kecamatan. Yakni Kecamatan Padang Ulak Tanding, Sindang Kelingi, Selupu Rejang, Curup Timur dan Bermani Ulu Raya. Dari luasan itu aktivitas perambahan tentunya menjadi ancaman bagi flora dan fauna di kawasan TNKS.

Kepala Bidang BTNKS Wilayah III Bengkulu – Sumsel Iwin Kasiwan menuturkan, selama 2 tahun (2015-2016), tidak pernah terjadi kasus perburuan dan konflik terhadap Harimau Sumatera di Rejang Lebong.

“Sejauh ini kami belum ada mendapatkan laporan konflik Harimau dengan warga (manusia)”, tuturnya.

Iwin juga meyakini populasi Harimau di kawasan TNKS Rejang Lebong masih tetap ada meskipun pihaknya terkadang kesulitan melacak keberadaan satwa yang dilindungi tersebut.

“Kami optimis masih ada. Hanya saja kami menduga ada pergeseran wilayah lintasan yang disebabkan adanya aktivitas illegal logging,” paparnya.

Keberadaan Harimau ini juga menjadi perhatian Pelestari Harimau Sumatera Kerinci Seblat (PHSKS) melalui Field Manager Tiger Protection and Conservation unit TNKS, Nurhamidi. Hanya saja dia mengatakan, sejak 2 tahun terakhir deteksi timnya di wilayah tersebut memang tidak pernah dilakukan.

“Kami sudah lama tidak masuk ke sana. Mungkin untuk data lengkap boleh ditanyakan langsung ke petugas wilayah setempat”, ujarnya.

Sementara itu, dituturkan Staf  Balai Taman Nasional Kerinci Seblat (BTNKS) Pengelolaan Taman Nasional Wilayah III Bengkulu, Insan Ramdani, keberadaaan Harimau sendiri bisa dilihat dari dua faktor. Pertama, pakan dari Harimau itu sendiri dan tinggi atau tidaknya aktivitas manusia.

“Misalkan hutan itu dirusak. Tapi tidak jadi masalah tutupan hutan tersebut rusak, asalkan pakannya masih ada. Sehingga Harimau sendiri akan tetap di jalur wilayah jelajahnya. Permasalahan sebenarnya adalah adanya aktivitas manusia dan biasanya mempengaruhi jumlah pakan”, kata Insan.

Data Tim Lapangan TNKS menunjukan, wilayah jelajah Harimau di Rejang Lebong terdeteksi di Trans Bukit Batu Desa Kasie Kasubun Kecamatan Padang Ulak Tanding. Akan tetapi ia menyakini bahwa kondisi di lapangan sebenarnya Harimau di wilayah tersebut sudah tidak terlihat lagi.

“Di daerah itu aktivitas Illegal Logging-nya termasuk tinggi. Ini juga yang mempengaruhi daya jelajah Harimau. Kami menduga wilayah jelajah Harimau itu kini  bergeser ke arah Kabupaten Sarolangun atau di Kabupaten Muratara”, bebernya.

Selain itu tipikal masyarakat lokal juga berpengaruh dalam ketersediaan pakan Harimau. Melalui analisa di wilayah di Kabupaten Rejang Lebong dan Lebong faktor tersebut juga menyebabkan keberadaan Harimau sulit terdeteksi.

“Tipikal masyarakat lokal yang masih senang mengkonsumsi daging Kijang, Rusa maupun Kambing Hutan, menyebabkan ketersedian pakan menjadi kurang,” terangnya.

Saat ini kondisi TNKS di Kabupaten Rejang Lebong sudah mulai terancam. Data dari TNKS tercatat, dari luasan 26.000 hektar, saat ini (2016) kerusakannya mencapai 5.000 hektar.

“3.800 hektare sudah direhabilitasi. Sedangkan 1.200 hektar lagi belum. Laju perambahan juga bisa menjadi penyebab areal teritorial Harimau,” tutup Insan.

 

Laporan : Muhamad Anton
Editor : Aji Asmuni

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.