Menjaga Tradisi Kejawen di Tanah Rejang, Berharap Berkah di Bawah Kaki Bukit Kaba

Desa Sumber Urip Kecamatan Selupu Rejang Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu merupakan salah satu desa penghasil hortikultura di Provinsi Bengkulu. Letak desa persis di bawah kaki (gunung) Bukit Kaba ini, mayoritas penduduknya 99 % suku Jawa dan bermatapencaharian sebagai petani.

Setiap tahun, desa ini menggelar syukuran akbar sebagai wujud rasa syukur mereka kepada Allaah Subhana Wa Ta’ala atas limpahan rejeki dari hasil pertaniannya. Syukuran itu namanya Sedekah Bumi.

Bagi mereka, Sedekah Bumi merupakan ritual yang wajib dilaksanakan setiap tahunnya. Kenapa ? Itu karena selain wujud rasa syukur kepada Sang Pencipta, sebagai suku pendatang di Tanah Rejang, mereka juga ingin adat istiadat Jawa tak lekang di tanah perantauan.

 

 

Ambengan. (Foto : Aji Asmuni/RedAksiBengkulu)

SORE sekitar pukul 15.30 WIB, Rabu (2/8/2017) ada sekitar 50-an warga desa berkumpul di balai desa. Mereka bukan sedang rapat atau bukan pula sedang antre sesuatu. Namun mereka sedang sibuk bekerja memasang rangkaian besi tenda untuk persiapan acara Sedekah Bumi esok harinya.

Namun sekitar 2 jam sebelumnya atau tepatnya ba’da Dhuzur, ada proses ritual khusus namun pada intinya guna mohon Ridho kepada Yang Maha Kuasa. Ritual itu berupa memanjatkan doa kepada Allaah Subhana Wa Ta’ala di dua titik sumber mata air yang berada di desa. Kenapa di sumber mata air? Kata kepala desa setempat, Yadi Sutanto, karena air sebagai simbol kehidupan.

“Inti dari ritual itu sebenarnya berdoa. Memohon ampunan dan ridho kepada Allaah supaya kegiatan Sedekah Bumi ini nantinya diberkahi dan dilancarkan acaranya. Kemudian diberikan keselamatan, kesehatan lahir dan bathin, dijauhkan malapetaka, dimurahkan rejekinya dan diberkahi hasil panen tanaman warga”, kata Yadi di kediamannya.

Selanjutnya, ba’da sholat Maghrib berjemaah di balai desa, perangkat desa, panitia penyelenggara Sedekah Bumi serta warga desa setempat menggelar syukuran. Diawali dengan membaca Surah Yaasiin, tahlilan lalu mendengarkan ceramah agama.

Keesokan harinya, Kamis (3/8/2017) ba’da Shubuh, warga desa hiruk pikuk beraktivitas kembali mempersiapkan acara. Pagi itu warga berdatangan membawa hasil bumi yang merupakan tanaman warga desa setempat. Sebagaimana diketahui desa tersebut merupakan desa penghasil hortikultura, semua jenis hasil bumi ‘disetor’ untuk diruwat di acara ini.

“Ada yang membawa makanan yang sudah dimasak. Ada juga yang membawa hasil kebun. Nanti, makanan itu dimakan sama-sama usai seremoni formal”, kata kades.

Jika di Tanah Jawa, hasil bumi dari warga yang dikumpulkan kemudian diarak keliling kampung dan dibagikan ke warga lagi itu dinamakan Gunungan. Sedang di Desa Sumber Urip ini dinamakan Ambengan.

Ambengan tidak disusun menyerupai gunung, melainkan hanya disusun di wadah lalu di jejerkan di lantai dan dihadapkan kepada warga dan tetamu undangan. Wadahnya pun tidak mengikat. Boleh talam (nampan), bakul anyaman bambu, bahkan ada juga yang disajikan di dalam kardus.

“Mirip sajian jenang seperti di tempat acara syukuran di rumah-rumah. Wadahnya apa saja yang penting pantas”, sambungnya.

Kades Sumber Urip, Yadi Sutanto (pakai songkok adat) didampingi sesepuh kampung, Waluyo (kanan kades). (Foto : Aji Asmuni/RedAksiBengkulu)

Puncak acara dari Sedekah Bumi ini adalah pagelaran Wayang Kulit semalam suntuk. Kenapa Wayang Kulit ? Karena menurut Orang Jawa, wayang merupakan simbol tradisi Jawa yang sisi Kejawen-nya kuat dan berkarakter. Bagi warga desa, wayangan juga dianggap sebagai ‘ruwatan’ desa atau ritual ‘buang sial’.

Sisi lain dari Sedekah Bumi yakni, ada kepanitiaan khusus pada pelaksanaan Sedekah Bumi, dan kepanitiaan itu di luar perangkat desa. Sisi menariknya, bahwa kepanitiaannya setiap tahun selalu berganti. Menurut kades, cara ini dinilai lebih demokrasi dan juga untuk kaderisasi agar tradisi itu terus terjaga.

“Saya maunya panitia tiap tahun ganti orang-orangnya. Itu biar warga desa tahu pelaksanaan Sedekah Bumi. Maksudnya, bukan cuma orang-orang itu saja yang sibuk ngurus acara tahunan ini”, kata Yadi Sutanto.

 

 

Kapan dan Seperti Apa Penetapan Waktu Sedekah Bumi ?

Menurut sesepuh kampung, Waluyo Miharjo, penentuan hari baik pelaksanaan Sedekah Bumi ini dikaji dari kalender Islam dan Jawa. Setiap tahun, di kalender Islam pasti akan melalui bulan Zulqaidah. Kenapa harus di bulan itu? Kata Mbah Waluyo, biasa disapa di desa, karena bulan ini merupakan Bulan Sela (Bahasa Jawa : Bulan Selo) antara Bulan Syawal dan Bulan Dzulhijjah (Bulan Haji).

Waluyo Miharjo, Sesepuh Kampung Desa Sumber Urip. (Foto : Aji Asmuni/RedAksiBengkulu)

Bulan Syawal dan Bulan Haji, bulannya umat Muslim merayakan Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha (Lebaran Qurban). Di kedua bulan itu, menurut sesepuh mereka, bulan sibuk kegiatan. Banyak warga yang menggelar syukuran.

“Makanya ditentukanlah Sedekah Bumi ini di bulan Selo. Karena di bulan Selo ini sedang tidak banyak acara dan warga bisa fokus ke acara Sedekah Bumi”, begitu katanya.

Sedangkan penentuan harinya, lanjut Waluyo, ditentukan menurut Kalender Jawa (Kejawen). Yakni pada Kamis Kliwon yang menyambung ke Jumat Legi.

“Dalam sebulan itu, pasti kita akan melalui hari tersebut. Tinggal lagi, apakah hari itu jatuh di minggu pertama, kedua, ketiga atau keempat?”, paparnya.

 

 

Kebutuhan Pelaksanaan Sedekah Bumi Dari Mana ?

Kepala Desa Yadi Sutanto menjelaskan, ritual tahunan Sedekah Bumi ini memang tidak sedikit biayanya. Selama ini, desa dalam memperoleh biaya untuk memenuhi kebutuhan pelaksanaan Sedekah Bumi diperoleh dari sumbangan warga. Dibeberkan Yadi, bahwa sumbangan itu diperoleh dari tiap-tiap rumah sebesar Rp 35.000.

Warga desa. (Foto : Aji Asmuni/RedAksiBengkulu)

Uang hasil sumbangan itulah nantinya untuk biaya pelaksanaan Sedekah Bumi termasuk nanggap Wayangan. Besaran sumbangan dimusyawarahkan bersama, antara perangkat desa, panitia dan warga. Setelah mufakat, barulah ditarik setiap rumah.

“Sumbangan itu per rumah bukan per Kepala Keluarga (KK). Kalau ada warga yang tidak mampu, tetap diberi keringanan, karena tidak ada paksaan dan keterikatan. Alhamdulillaah, sejauh ini tidak ada warga yang keberatan dan semua ikut karena sudah menjadi kesadaran warga”, katanya.

Di luar sumbangan tersebut, bagi warga yang mampu dan ingin menyumbang hasil bumi untuk acara Sedekah Bumi, panitia pun tetap menyambut dan menerimanya.

 

 

Jika Sedekah Bumi Tak Dilaksanakan, Apa Dampaknya Terhadap Desa ?

Jika Sedekah Bumi tidak dilakukan apakah ada kemungkinan ada petaka yang menimpa desa? Sejak desa ini berdiri 1917, Waluyo mengatakan, tradisi Sedekah Bumi selalu dilaksanakan. Namun sempat terhenti pada 1970-an. Baru kemudian dilaksanakan lagi pada 1983.

Warga desa (Foto : Aji Asmuni/RedAksiBengkulu)

Waluyo juga mengutarakan, pada saat desa tidak melaksanakan Sedekah Bumi, seingat dia dampaknya pada waktu itu kemarau panjang dan hasil bumi yang ditanam mereka tidak melimpah.

“Kalo saya rasakan zaman itu, pernah terjadi kemarau panjang. Terus tanaman kami hasilnya sangat sedikit”, terangnya.

Kemudian, sambungnya, pernah dulu pelaksanaan Sedekah Bumi yang biasanya dilaksanakan di balai desa, namun waktu itu dilaksanakan di rumah kades. Dan seingatnya, dampak yang dirasakan pernah terjadi kebakaran. Belum lagi musibah lainnya.

“Tapi itu ntah secara kebetulan atau memang dampak dari tidak dilaksanakan Sedekah Bumi, kembali lagi sama Yang Maha Kuasa”, kenangnya.

Sementara menurut pengakuan salah seorang warga setempat, Mardiani, ia meyakini dalam hal tradisi Kejawenannya, jika Sedekah Bumi tidak dilaksanakan, akan ada dampak yang terjadi.

“Ya namanya tradisi Jawa, kalau tidak diikuti khawatir ada-ada saja balak yang terjadi. Meski kita sadari bahwa segala sesuatu itu Allaah-lah yang mengatur bukan tergantung dilaksanakan tidaknya Sedekah Bumi. Tapi ini kan masalahnya melestarikan adat atau tradisi Jawa”, kata Mardiani.

 

 

Salah Dalang Dianggap Berdampak pada Kondisi Desa ?

Dalang merupakan unsur inti dan vital dalam pewayangan. Sudah 7 tahun ini, Desa Sumber Urip dalam menggelar wayangan, selaku dalangnya adalah Sugiarto dari Merasi Kabupaten Musi Rawas Provinsi Sumatera Selatan. Kepala desa menganggap dalang ini dalam melakoni tokoh-tokoh wayang, mudah dipahami warga karena sangat menjiwai tokoh-tokoh atau lakon-lakon yang diperankan.

“Pak Sugiarto itu asyik dalam memainkan lakon-lakon wayang. Warga pun sangat suka begitu mendengar kabar kalo dalangnya dia”, kata kades.

Kades Sumber Urip, Yadi Sutanto (pakai songkok adat, 2 dari kiri). (Foto : Aji Asmuni/RedAksiBengkulu)

Ditanya apakah tidak pernah dengan dalang selain Sugiarto ? Bagaimana seandainya dalang itu berhalangan tidak bisa mendalang di desa ? Dan jika dalang itu tidak cocok melakoni wayang sehingga membuat warga tidak puas menikmati wayang tersebut, apakah ada dampak negatif pada keadaan desa ?

Kades menjelaskan, pernah dengan dalang lain tapi beda dalang beda pula cara membawa lakon pada wayangan. Begitu dengan dalang bukan Sugiarto, warga juga ada penilaian tersendiri. Dan sejauh ini, ketika desa menanggap Dalang Sugiarto, bersyukur sang dalang juga belum pernah berhalangan alias selalu hadir.

“Pemilihan dalang bukan dari sosok orangnya. Tapi dari cara dalang itu memerankan lakon-lakon wayang. Bagus tidaknya dalang ‘ngelakon’, itu dinilai dari yang menyaksikan wayang. Selama ini warga sudah cocok dengan dalang itu”, papar kades.

Persoalan dampak negatif ke kondisi desa jika beda dalang, sambung kades, itu Huallaahualam,  Allaah-lah Maha Berkehendak. Namun kades menjelaskan, jika dulu pernah dihadirkan dalang bukan Sugiarto, warga pun merasa kurang pas dan serasa ada yang kurang.

Sedang dampak pada kondisi desa, lanjut kades, pada dasarnya tidak bisa dikaitkan. Hanya saja, jika memang kondisi waktu itu pernah dirasakan sulit, baik itu hasil panen, maupun sering dilandanya musibah, itu hanyalah bersamaan waktu.

“Persoalan ada yang menganggap itu dampak dari dalang wayangan, kembali pada perspektif masing-masing individu”, begitu kata kades.

Sementara Waluyo menambahkan, dalam wayangan, sebaiknya dalang tidak memerankan lakon-lakon perang. Karena perang mengisyaratkan suatu keadaan yang tidak aman dan menimbulkan adanya kematian.

“Bagusnya dalam wayangan itu ceritanya tentang kondisi ‘Bumi Gemah Ripah Loh Jinawi, Toto Tentrem Kerto Raharjo’. Artinya gambaran suatu daerah yang kekayaan alamnya berlimpah, keadaannya yang tenteram dan sejahtera”, sambung Waluyo.

 

 

Kaitannya Sedekah Bumi dengan Gunung Kaba (Bukit Kaba) ?

Desa Sumber Urip merupakan desa yang berada persis di bawah kaki Gunung Kaba (Bukit Kaba) yang memiliki ketinggian 1.938 Meter Di Atas Permukaan Laut (MDPL). Bukit Kaba juga termasuk dalam kawasan Taman Wisata Alam (TWA) yang memiliki luas sekitar 13.940 hektar. Desa ini merupakan desa satu-satunya sebagai gerbang bagi para pendaki jika ingin ke puncak bukit.

Bukit Kaba. (Foto : Seword/Net)

Sejak berdiri, desa ini memang rutin mengadakan ritual ruwatan desa Sedekah Bumi. Dari data Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyebutkan, pada 26 Maret 1952 terlihat tiang abu letusan dan terdengar suara gemuruh. Kemudian pada 2 April di tahun yang sama juga terjadi hujan abu dan abu yang terbawa angin tersebar sampai sejauh 5 kilometer ke arah selatan. Letusan abu terjadi lagi pada 26 – 28 April.

Lalu, 4 Juni 2000 terjadi peningkatan kegiatan kegempaan yang dipicu oleh gempa tektonik Bengkulu berkekuatan 7.8 Skala Richter (SR). Dari kejadian itu terjadi gempa-gempa susulannya yang dirasakan masyarakat di kawasan Bukit Kaba khususnya.

Kemunculan gempa-gempa vulkanik sebelum awal Juni rata-rata 1 kali kejadian setiap harinya. Namun setelah gempa besar yang berasal dari gempa vulkanik itu, terjadi peningkatan aktivitas Bukit Kaba menjadi rata-rata 15 kali setiap hari. Sehingga gangguan dari gempa tektonik Bengkulu itu mengganggu sistem kantung fluida di dalam tubuh Bukit Kaba sekaligus mengganggu sistem rekahan yang ada dan memicu kemunculan gempa-gempa vulkanik dangkal berhiposenter 1-3 kilometer. Selanjutnya di Oktober – Desember 2009 juga terjadi peningkatan kegempaan.

Pun demikian, meski Sedekah Bumi sempat terhenti di tahun 1970-an, namun kaitannya dengan bencana alam yang ditimbulkan dari Bukit Kaba dari rekaman data peristiwa aktivitas gunung sehingga berdampak besar terhadap desa juga belum ada.

Kades setempat, Yadi mengungkapkan, bahwa Sedekah Bumi dilaksanakan sebenarnya lebih ke pelaksanaan tradisi ritual ruwatan desa bukan ke pencegahan bahaya yang ditimbulkan dari Bukit Kaba. Lantaran letak desa tepat di kaki bukit, sehingga jika ada peningkatan aktivitas di Bukit Kaba, otomatis desanyalah yang pertama kali berdampak.

“Dalam doa pada ritual Sedekah Bumi, kami juga pastinya memohon perlindungan kepada Yang Maha Kuasa agar terlindung dari bahaya yang ditimbulkan Bukit Kaba. Itu karena desa kami desa paling dekat dari Bukit Kaba”, kata kades.

Terlepas dari ritual Sedekah Bumi, sambung kades, masing-masing kami yang tinggal di desa juga pastinya berdoa mohon perlindungan dan keselamatan dari bahaya yang ditimbulkan dari Bukit Kaba.

 

Laporan : Aji Asmuni

Comments

comments

Facebooktwittermail

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *