Pasca Longsor PT PGE 2016 Lalu, 4 Kecamatan di Lebong Terdampak Sawah dan Kolamnya

0
354
Aliran Sungai Air Kotok saat hujan deras yang masuk ke areal sawah warga di Desa Bungin Kecamatan Bungin Kuning Kabupaten Lebong (Foto : M. Antoni/RedAksiBengkulu)
Aliran Sungai Air Kotok saat hujan deras yang masuk ke areal sawah warga di Desa Bungin Kecamatan Bungin Kuning Kabupaten Lebong (Foto : M. Antoni/RedAksiBengkulu)

RedAksiBengkulu.co.id, LEBONG – Sejak kejadian longsor di proyek PT. Pertamina Geothermal Energy (PGE) Hulu Lais Kecamatan Rimbo Pengadang Kabupaten Lebong Provinsi Bengkulu, muara Sungai Air Kotok mengalami pendangkalan. Yang mana diketahui bahwa kedalaman sungai sebelumnya mencapai 5 meter namun kini hanya berkisar 2 meter.

“Sungai itu kian hari mendangkal karena material longsor hampir 2 tahun ini. Sehingga kalau hujan besar, pasti banjir. Sawah dan kolam warga pasti terdampak. Ini harus dinormalisasi terhadap Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungai Kotok yang bermuara di 4 kecamatan di Lebong,” kata Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Lebong A Bursani kepada RedAksiBengkulu.co.id, Jumat (5/1/2018).

Lanjut dia, 4 kecamatan yang terdampak yaitu, Kecamatan Lebong Sakti, Lebong Utara, Bingin Kuning dan Lebong Utara. Karena di kecamatan itu apabila hujan mengalami banjir.

Pihaknya, tambah Bursani sudah berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Lebong dan PT. PGE agar segera menormalisasi dengan menyediakan alat berat untuk melakukan pengerukan sisa material banjir bandang yang terjadi pada pertengahan 2016 lalu.

“Kalau hanya mengandalkan APBD Lebong anggarannya tidak cukup. Makanya kami mengharapkan pihak PGE bisa mengeruk dengan menggunakan alat mereka”, ujarnya.

Lebih lanjut, kata Bursani, tanggul sementara yang dibuat Pemkab Lebong juga sering jebol jika hujan deras. Sehingga aliran air bercampur meterial bekas longsor sering kali memasuki sawah dan kolam warga.

Terpisah, Kepala Desa Bungin Yuswan Edi membenarkan dampak pendangkalan tersebut. Kata dia, ratusan hektar kolam warga dan lahan persawahan sering gagal panen akibat pendangkalan tersebut.

“Kalau banjir, air pasti masuk sawah dan kolam. Kondisi itu diperparah lagi ketika kolam dan sawah jadi rusak karena tanggul sementara yang dibangun sering kali jebol,” katanya.

Yuswan menambahkan, gagal panen terhadap kolam warga di desanya pun menjadi persoalan baru. Yang mana ada 300 hektar kolam warga terdampak belerang dari aliran Sungai Air Kotok tersebut.

Menurut Yuswan, ada 15 desa yang terdampak akibat jebolnya tanggul di aliran Sungai Air Kotok. Kondisi yang paling parah yaitu Desa Sukabumi dan Desa Bungin Kecamatan Bingin Kuning.

“Airnya bercampur belerang ketika banjir. Ikan warga susah berkembang jadinya”, demikian Yuswan.

 

 

Laporan : Muhamad Antoni

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.