Pemerkosa Yuyun Yang Telah Bebas Itu Kini Tak Mau Pulang ke Desanya. Alasannya ….

Ilustrasi suasana nara pidana anak sedang mengaji ketika menjalani hukuman di penjara. (Foto : net)

RedAksiBengkulu.co.id, REJANG LEBONG –  Masih ingat dengan kasus Yuyun, siswi SMP yang meninggal dunia akibat diperkosa belasan pemuda di Desa Desa Kasie Kasubun Kecamatan Padang Ulak Tanding Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu, pada Mei 2016 lalu? Salah seorang dari 14 pelaku itu diantaranya adalah Jafar, yang ketika itu usia dia 14 tahun.

Jafar si terpidana waktu itu dijatuhi hukuman oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Curup, rehabilitasi selama 1 tahun di Lembaga Pendidikan Kesejahteraan Sosial (LPKS) Bambu Apus, Jakarta. Kini Jafar telah bebas pada Juli 2017 dan sudah diperbolehkan pulang. Namun Jafar tidak ingin pulang dan masih ingin berada di LPKS tersebut. Alasannya, karena Jafar masih ingin belajar.

Hal itu diungkapkan Hakim Hakim Anak pada Pengadilan Negeri Curup, Heny Farida, pada kesempatan pertemuan Forum Anak Berhadapan Dengan Hukum (ABH) di Dinas PPA, PP dan KB Rejang Lebong Provinsi Bengkulu, Kamis (9/11/2017).  Heny juga menyampaikan, bahwa pihaknya telah berhasil melakukan pembinaan sosial kepada Jafar terkait penanganan kasus anak.

Belum lama ini, sambung Heny, ia juga mendapatkan informasi bahwa Jafar menjadi pilot project keberhasilan rehab yang dijalaninya. Bahkan Jafar merupakan lulusan terbaik di LPKS Bambu Apus Jakarta.

“Setelah menjalani hukuman ini, ternyata Jafar tidak mau kembali ke desanya karena Jafar merasa bahwa di LPKS dia merasa menjadi lebih baik. Jafar kini sudah pintar membaca, mengaji maupun berketerampilan di bidang mesin,” papar Heny.

Bagi Heny, prestasi yang diraih Jafar selama direhabilitasi tidaklah mudah. Ini juga merupakan sebuah keberhasilan dalam membina ABH yang tepat terhadap anak.

“Saya menyarankan kepada Pembimbing Kemasyarakatannya untuk tidak pulang dan mengulang latar belakang keluarga Jafar. Karena Bapaknya Jafar sudah lebih dulu terjerat kasus asusila atas kekerasan seksual yang dilakukan Bapaknya Jafar kepada kakaknya Jafar”, jelas Heny.

Heny justru menyarankan, jika memang dia mau pulang, ketika Jafar berusia 21 tahun. Karena di usia itu Jafar sudah memiliki prinsip dan sikap yang kuat dalam pemikirannya.

Sekedar mengingatkan, Jafar dijerat Pasal 80 Ayat 3 dan Pasal 81 Ayat 1 junto Pasal 76d UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Ancaman hukuman 10 tahun penjara. Namun oleh majelis hakim, Jafar tidak dapat dikenakan hukuman seperti pada umumnya.

 

 

 

 

 

 

Laporan : Muhamad Anton
Editor : Aji Asmuni

Comments

comments

Facebooktwittermail

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *