Pertemuan Perempuan ‘Penyelamat’ Situs Warisan Dunia dengan Kepala BB TNKS. Ini Pesan Arief Tongkagie

Pertemuan KP2L Desa Pal VIII, KPPSWD Bengkulu dengan Kepala Balai Besar TNKS, Arief Tongkagie. (Foto : Dedek Hendry)

RedAksiBengkulu.co.id, REJANG LEBONG – Kelompok Perempuan Peduli Lingkungan (KP2L) Desa Pal VIII Kecamatan Bermani Ulu Raya Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu bersama dengan Komunitas Perempuan Penjaga Situs Warisan Dunia (KPPSWD) Bengkulu menggelar pertemuan dengan Kepala Balai Besar TNKS, Arief Tongkagie. Pertemuan untuk pertama kalinya itu digelar di Kantor Balai Besar TNKS Pengelolaan Taman Nasional Bidang III Bengkulu – Sumatera Selatan di Jalan Sukowati, Rejang Lebong Provinsi Bengkulu, Selasa (21/11/2017).

Pada kesempatan itu Arief berpesan, KP2L yang sudah dibentuk harus benar-benar solid dan mengerjakan segala sesuatunya dengan ikhlas. Arief juga mewanti-wanti bahwa diantara anggota kelompok jangan saling bersinggungan. Karena jika demikian, solidaritas itu akan luntur.

“Kalau ada yang ngomong begini begitu, gak kan lama itu. Pokoknya jalankan dulu supaya bisa jadi motivasi kepada (kelompok di daerah) yang lain. Karena apa yang sudah dilakukan ibu-ibu ini sangat besar manfaatnya untuk Taman Nasional, warisan dunia, hutan, lingkungan, ibu-ibu sendiri dan masyarakat”, begitu pesan Arief.

Dia juga mengungkapkan, bahwa apa yang dilakukan para ibu-ibu dan komunitas perempuan ini tidaklah mudah dan butuh waktu tidak sebentar. Karena dalam berproses para ibu-ibu secara tidak langsung akan merubah mindset masyarakat akan pentingnya hutan dan lingkungan hidup bagi kehidupan manusia.

“Sampaikan kepada para perambah bahwa merambah itu hanya sesaat. Setidaknya disampaikan dengan suami sendiri. Dan itu bisa menyebar lagi ke tetangga”, kata Arief.

Arief juga menjelaskan, bahwa zonasi di Taman Nasional terbagi beberapa bagian. Yakni Zona Inti, Rimba, Pemanfatan, Tradisional, Rehabilitasi, dan Khusus. Terkait konsentrasi pada Zonasi Pemanfaatan TNKS itu ada 3 aspek yang disebut 3P. Protektif, Pengawetan dan Pemanfaatan.

Pertama, jelasnya, memang harus dilindungi dulu kawasan TNKS. Kemudian maksud dari pengawetan yakni Sumber Daya Alamnya bisa dilakukan dengan cara penelitian, pengkajian. Lalu yang dimaksud dengan pemanfaatan yakni pemanfaatan jasa lingkungan. Misal, pemanfaatan air bersih,  energi, bisa dibangun pembangkit listrik dan jasa wisata alam.

Masing-masing zonasi ada fungsi tersendiri. Termasuk fungsinya sebagai habibat bagi satwa liar yang dilindungi seperti Harimau Sumatera. Kenapa dicontohkan Harimau Sumatera, karena keberadaan Harimau Sumatera di TNKS khususnya, merupakan indikator baik atau tidaknya kondisi zonasi di TNKS.

“Kalau jumlah Harimau itu setiap tahunnya bertambah, maka hutan itu kondisinya bagus. Sebaliknya pun demikian”, paparnya lagi.

Arief juga tentunya sangat mengapresiasi hadirnya KP2L di Bengkulu ini meski ia tidak bertatap muka secara langsung, namun ia mengikuti perkembangannya dari awal. Arief berharap KP2L ini sebagai trigger (pencetus) di Indonesia dan sebagai motivasi bagi daerah lain khususnya yang berada di sekitar kawasan Taman Nasional di Indonesia.

“Saya sangat intens melihat dari awal, saya dorong teman-teman di lapangan untuk mengkomunikasikan kepada kami diupayakan seoptimal mungkin pengaduan mereka tentang apa saja yang harus dilakukan”, lanjutnya.

Disinggung tentang apakah ada wacana atau rencana untuk mensosialisasikan atau mengajak masyarakat di daerah lain untuk melakukan hal serupa seperti yang dilakukan KP2L, Arief menjawab, kegiatan seperti ini jangan disebarkan oleh pihaknya. Akan tetapi hal semacam ini harus muncul dari bawah (masyarakat) bukan dari atas.

“Kami hanya memberikan stimulan, pengetahuan, wawasan tentang hutan (taman nasional)”, demikian Arief.

Sementara itu, Rita Wati, Ketua KP2L Desa Pal VIII Kecamatan Bermani Ulu Raya dalam kesempatan itu memaparkan seluruh kegiatan yang sudah dilaksanakan kelompoknya. Diantaranya, pembuatan pupuk organik untuk tanaman buah dan sayuran. Untuk pupuk organik ini, sambung Rita, sudah diujicobakan pada tanaman hortikultura yakni Sawi dan Cabe.

“Alhamdulillaah Sawinya sudah dipanen. Tapi kalau Cabenya masih berbunga”, kata Rita.

Untuk kegiatan lainnya yang dilaksanakan bersama instansi terkait di jajaran Pemkab Rejang Lebong dan Pemprov Bengkulu diantaranya penguatan kapasitas, penyuluhan pengelolaan lingkungan hidup. Ada juga bimbingan penghargaan penyelamatan lingkungan hidup dan penguatan dan peningkatan ekonomi produktif. Serta penilaian kelompok perempuan, koordinasi dan komunikasi dengan BB TNKS serta pelatihan keterampilan dan pemasaran.

 

 

 

 

Laporan : Aji Asmuni

Comments

comments

Facebooktwittermail

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *