Sambil Menyaksikan Gerhana Bulan Total Malam Kelak, Ini Tata Cara Sholat Gerhana Bulan

0
260
Tuntunan Sholat Gerhana Bulan. (Gambar : Net)

RedAksiBengkulu.co.id – Dilansir BMKG, Gerhana Bulan adalah peristiwa ketika terhalanginya cahaya Matahari oleh Bumi sehingga tidak semuanya sampai ke Bulan. Peristiwa yang merupakan salah satu akibat dinamisnya pergerakan posisi Matahari, Bumi, dan Bulan ini hanya terjadi pada saat fase purnama dan dapat diprediksi sebelumnya. Sedang dalam Bahasa Arabnya, Gerhana Bulan Total ini dinamakan Khusufil Qomari.

Momen langka ini masih dianggap sebagian masyarakat sebagai hal-hal mistik, namun sebenarnya fenomena alam ini terjadi tentunya karena kuasa Allaah Subhana Wa Ta’ala.

“Dan dari sebagian tanda-tanda-Nya adalah adanya malam dan siang serta adanya matahari dan bulan. Janganlah kamu sujud kepada matahari atau bulan tetapi sujudlah kepada Allaah Yang Menciptakan keduanya”, (Qs. Fushshilat : 37)

Atas hal ini, hendaknyalah sebagai Muslim melaksanakan Sholat Khusuf (Sholat Gerhana Bulan) seperti yang disunnahkan oleh Rasulullaah Sholallaahu ‘Alaihi Wasalam. Adapun dalil-dalil disyariatkannya dengan Sholat Khusuf adalah ;

Yang pertama, hadits yang diriwayatkan oleh Abu Mas’ud Al Anshary :

Sesungguhnya matahari dan bulan itu merupakan dua tanda diantara tanda-tanda kekuasaan Allaah. Allaah menjadikan keduanya untuk menakut-nakuti hamba-hamba-Nya. Dan sungguh tidaklah keduanya terjadi gerhana karena kematian atau kelahiran seorang manusia pun. Apabila kalian melihat sebagian dari gerhana tersebut, maka sholatlah dan berdo’alah kepada Allaah hingga gerhana tersebut hilang dari kalian” (HR. Bukhari No. 1041, Muslim No. 911).

 Yang kedua, hadits dari Abu Musa Radhiyallaahu ‘anhu :

“Ketika terjadi gerhana matahari, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lantas berdiri takut karena khawatir akan terjadinya hari kiamat, sehingga Beliau mendatangi masjid kemudian shalat dengan berdiri, ruku’, dan sujud yang begitu lama. Aku belum pernah melihat Beliau melakukan shalat sedemikian itu. Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya ini adalah tanda-tanda kekuasaan Allah yang ditunjukkan-Nya, gerhana tersebut tidaklah terjadi karena kematian atau hidupnya seseorang. Tetapi Allah menjadikan yang demikian untuk menakut-nakuti hamba-hamba-Nya. Apabila kalia melihat sebagian dari gerhana tersebut, maka bersegeralah untuk berdzikir, berdo’a dan memohon ampunan kepada Allaah ta’ala” (HR. Bukhori No. 1059, Muslim No. 912).

Dalil yang menerangkan tentang sifat Shalat Gerhana adalah hadits dari ‘Aisyah Radhiyallaahu ‘anha :

Terjadi gerhana matahari pada saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup, kemudian Beliau keluar menuju masjid untuk melaksanakan sholat, dan para sahabat berdiri dibelakang Beliau membuat barisan shof sholat, lalu Beliau bertakbir dan membaca surat yang panjang, kemudian bertakbir dan ruku’ dengan ruku’ yang lama, lalu bangun dan mengucapkan : ‘sami’allahu liman hamidah’. Kemudian bangkit dari ruku’ dan tidak dilanjutkan dengan sujud, lalu membaca lagi dengan surat yang panjang yang bacaannya lebih singkat dari bacaan yang pertama tadi. Kemudian bertakbir, lantas ruku’ sambil memanjangkannya, yang panjangnya lebih pendek dari ruku’ yang pertama. Lalu mengucapkan : ‘sami’allahu liman hamidah, rabbanaa wa lakal hamd’, kemudian sujud. Beliau melakukan pada raka’at yang terakhir seperti itu pula maka sempurnalah empat kali ruku’ pada empat kali sujud” (HR. Bukhori No. 1046, Muslim No. 2129).

 

Tata Cara Shalat Gerhana 

Adapun tata cara Shalat Gerhana adalah sebagai berikut :

Tuntunan Sholat Gerhana Bulan. (Gambar : Net)

Niat Shalat Gerhana Bulan :

“Ushallii Sunnatal Khusuufil-Qomari Rak’ataini Lillahi Ta’alaa”

Artinya : (Saya niat (melaksanakan) Shalat Sunnah Gerhana Bulan dua rakaat karena Allaah Ta’ala)

  1. Takbiratul ihram
  2. Membaca Do’a Iftiftah kemudian Berta’awudz, dan membaca Surah Al-Fatihah dilanjutkan membaca surat yang panjang, seperti Surah Al-Imran, Al-Baqarah dan lainnya dengan zahr atau bersuara
    (Seperti pada HR Bukhari dan Muslim berikut : “Nabi shallallahu ’alaihi wasallam menjaherkan bacaannya ketika Sholat Gerhana”. (HR. Bukhari No. 1065 dan Muslim No. 901)
  3. Kemudian Ruku’ (namun disunnahkan memanjangkan ruku’nya)
  4. Lalu bangkit dari Ruku’ (I’tidal) sambil mengucapkan ‘sami’allahu liman hamidah, rabbanaa wa lakal hamd
  5. Namun setelah I’tidal, tidak langsung sujud, akan tetapi dilanjutkan dengan membaca Surah Al Fatihah dan surat yang panjang. Hanya saja berdiri yang kedua ini lebih singkat dari yang pertama
  6. Kemudian Ruku’ lagi (Ruku’ kedua) yang panjangnya lebih pendek dari Ruku’ pertama
  7. Setelah bangkit dari Ruku’ (I’tidal) lagi, kemudian berhenti.
  8. Selanjutnya, Sujud (disunahkan pada saat Sujud untuk berdoa akan hajat yang akan disampaikan kepada Allaah SWT)
  9. Lalu duduk diantara dua sujud, dilanjutkan Sujud lagi
  10. Takbir lagi lalu bangkit dari Sujud kemudian mengerjakan raka’at kedua seperti bagaimana saat gerakan dan baacaan raka’at yang pertama. Hanya saja dalam bacaan dan juga gerakan-gerakannya jauh lebih singkat dari pada rakaat yang sebelumnya.
  11. Selanjutnya Tasyahud Akhir dan sebagai penutupnya,
  12. Salam. (Lihat : Al Mughni karya Ibnu Qudamah 3/313, dan Al Majmu’ karya Imam Nawawi 5/48)

Wallahu a’lam.

Di sisi lain, BMKG memprediksi, di 2018 ini akan terjadi 5 kali gerhana, yaitu:

  1. Gerhana Bulan Total (GBT) 31 Januari 2018 yang dapat diamati dari Indonesia
  2. Gerhana Matahari Sebagian (GMS) 15 Februari 2018 yang tidak dapat diamati dari Indonesia
  3. Gerhana Matahari Sebagian (GMS) 13 Juli 2018 yang tidak dapat diamati dari Indonesia
  4. Gerhana Bulan Total (GBT) 28 Juli 2018 yang dapat diamati dari Indonesia, dan
  5. Gerhana Matahari Sebagian (GMS) 11 Agustus 2018 yang tidak dapat diamati dari Indonesia

Salah satu tupoksi BMKG sebagai institusi pemerintah adalah memberikan informasi dan pelayanan tanda waktu, termasuk di dalamnya adalah informasi-informasi Gerhana Bulan Total (GBT) 31 Januari 2018.

Masih menurut BMKG melalui Kepala BMKG Stasiun Jambi, Nurangesti Widyastuti seperti yang dilansir Antara menyampaikan, fenomena alam ini disebut juga sebagai fenomena Super Blue Blood Moon.  Peristiwa itu, katanya, akan berlangsung setelah matahari terbenam dan seluruh masyarakat Indonesia bisa menyaksikan peristiwa yang jarang terjadi tersebut.

Fenomena ini mengombinasikan tiga fenomena alam secara bersamaan. Yaitu Blue Moon (bulan biru), Super Moon (Bulan Super Besar) dan Total Lunar Eclipse (Gerhana Bulan Total). Kejadian yang sangat langka itu baru terjadi kembali dalam kurun waktu 152 tahun.

“Kita akan menyaksikan Super Moon yang sangat masif yang besarnya 14 % dari bulan yang biasa kita saksikan. Terangnya cahaya 30 persen lebih terang dari biasanya. Super Moon terjadi karena posisi bulan berada pada jarak terdekat dengan bumi, dikarenakan oleh posisi orbitnya yang oval, bukan berbentuk lingkaran,” jelasnya.

Sedangkan Blue Moon juga merupakan kejadian cukup langka karena ini merupakan bulan purnama kedua yang terjadi dalam satu bulan Januari 2018. Fase kejadian ini tidak memiliki hubungan dengan warna biru sang rembulan. Blue Moon, akan terjadi bersamaan dengan Gerhana Bulan Total.

“Bulan Purnama kedua merupakan peristiwa biasa. Akan tetapi ketika Bulan Purnama (Bulan Biru) ini terjadi berbarengan dengan Gerhana Bulan Total, inilah yang tidak biasa,” demikian paparnya.

 

 

Redaksi

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.