Kisah Relawan PMI Kabupaten Rejang Lebong
Satu-satunya Yang Mewakili Sumatra di Daerah Bencana Gempa NTB

0
82
Relawan PMI Rejang Lebong ketika di Posko WASH (Water And Sanitation Health). [Foto : Dok. PMI Rejang Lebong]

RedAksiBengkulu.co.id – Di akhir Juli 2018 tepatnya pada Minggu 29 Juli 2018, wilayah Indonesia bagian Timur yakni Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dilanda gempa bumi pada pagi hari dengan kekuatan Magnitudo 6,4. Sepekan kemudian, provinsi yang dikenal dengan Kota Seribu Masjid ini kembali diguncang gempa lebih besar lagi ketika sedang masuk waktu sholat Isya, dengan besaran Magnitudo 7,0.

Menurut Pusat Data Informasi dan Humas BNPB dalam rilis resmi menyatakan kala itu, hingga 12 Agustus 2018 pukul 15.00 WITA, pasca gempa 7 Skala Richter (SR) sudah 576 terjadi gempa susulan. Terdata saat itu, 392 orang dinyatakan meninggal dunia. Jumlah sebaran korban jiwa ini dari Kabupaten Lombok Utara 339 orang, Lombok Barat 30 orang, Kota Mataram 9 orang, Lombok Timur 10 orang, Lombok Tengah 2 orang dan Kota Lombok 2 orang. Sebagian besar korban meninggal akibat tertimpa bangunan roboh saat gempa. Tercatat juga sebanyak 387.067 orang sudah mengungsi di ribuan titik pengungsian. Sebaran dari pengungsi ini ada di Kabupaten Lombok 198.846 orang, Lombok Barat 91.372 orang, Kota Mataram 20.343 orang dan Lombok Timur 76.506 orang.

Di waktu bersamaan, PMI Kabupaten Rejang Lebong melakukan aksi penggalangan dana dengan mengerahkan relawan-relawan PMI untuk menghimpun donasi lalu dikirimkan ke Lombok. Alhasil, dari donasi yang dikumpulkan masyarakat Rejang Lebong melalui penggalangan dana PMI selama lebih dari sepekan itu terkumpul kurang lebih Rp 32 juta. Uang yang dihimpun di beberapa titik di Kota Curup oleh para relawan itu dikirimkan ke PMI Provinsi Bengkulu lalu kemudian akan didonasikan ke Lombok melalui Posko PMI Pusat yang ada di Lombok.

Tak sampai di situ, bersyukur PMI Kabupaten Rejang Lebong memiliki kesempatan untuk mengirimkan relawannya berangkat menuju Lombok. Ada 6 relawan yang berangkat pada 15 Agustus 2018 lalu. Para relawan itu adalah, Januardi, Aero Sapta Negara, Joni Riansyah, Riki Edrian Pratama dan Evanson. Menariknya, Ketua PMI Kabupaten Rejang Lebong, Hendra Wahyudiansyah, turut berangkat ke Lombok.

Keberangkatan Relawan PMI Kabupaten Rejang Lebong ke Lombok ternyata satu-satunya PMI yang mewakili dari Provinsi Bengkulu bahkan dari Pulau Sumatra. Terlepas dari perihal ini, kedatangan para relawan ini tentunya memiliki visi misi kemanusiaan. Mereka yang status keberangkatannya secara mandiri ini, setidaknya ada sedikit bekal ilmu kepalangmerahan yang cukup mumpuni di bidangnya masing-masing sehingga bisa diimplementasikan untuk membantu warga Lombok.

Air bersih yang dihasilkan ditampung di kantung-kantung penyimpangan air (waterblader). [Foto : Dok. PMI Rejang Lebong]
Dituturkan Januardi, sejak setibanya mereka di Lombok, tepatnya di titik pengungsian di Posko Rest Area Kecamatan Kahyangan Kabupaten Lombok Utara, ia sendiri langsung bertugas di Posko WASH (Water And Sanitation Health). Posko WASH adalah posko yang bertanggungjawab atas tugasnya memfasilitasi air bersih bagi para pengungsi. Mulai dari proses sanitasi air bersih hingga pendistribusian ke titik-titik pengungsian.

 

Selama di Posko Water Treatment, Januardi melaksanakan prosedur mengolah air bersih yang sumbernya dari air sungai yang mengalir, lalu air difilterisasi supaya bebas dari bakteri untuk selanjutnya air tersebut layak dikonsumsi. Kata Jan, sapaan akrabnya, dalam 1 jam, 4.000 liter air bersih dihasilkan dan siap didistribusikan.

“Air bersih yang dihasilkan ditampung di kantung-kantung penyimpangan air (waterblader). Kapasitas waterblader pun bervariasi. Ada yang 5.000 liter, 10.000 liter hingga 15.000 liter. Kemudian air itu didistribusikan dengan truk tanki menuju ke titik-titik pengungsian”, papar Jan.

Pembuatan rumah percontohan. [Foto : Dok. PMI Rejang Lebong]
Sedangkan Aero Sapta Negara, sesuai dengan spesifikasi bidang keahlian yang dimiliki, selama di Lombok Utara ia berada di Posko Emergency Shelter. Di posko ini Aero melakukan pengumpulan data (assesment). Baik itu data korban, kerusakan bangunan, orang hilang, apapun seluruhnya didata. Sebab, kata Aero, dari asesmen ini sebagai pedoman pendistribusian bantuan.

 

“Asesmen dilakukan mulai dari tingkatan terkecil, yakni mulai per Kepala Keluarga (KK), Posko, Dusun, Desa, Kecamatan dan Kabupaten. Posko Asesmen ini sebagai ujung tombak pergerakan distribusi bantuan. Apapun itu yang akan didistribusikan, harus mengacu pada data. Asesmen dilakukan dengan menggunakan metode ODK Collect”, kata Aero.

Truk tanki air mendistribusikan air bersih dari Pos WASH menuju titik penampungan air di lokasi-lokasi pengungsian. [Foto : Dok. PMI Rejang Lebong]
Beda juga dengan Hendra Wahyudiansyah, Riki Edrian Pratama, Evanson dan Jhoni Riansyah. Sesampainya di sana, mereka di Posko Distribution Relief (DR). Di posko ini relawan mendistribusikan segala bentuk bantuan. Mulai dari makanan, pakaian, air bersih dan kebutuhan darurat lainnya. Hendra yang notabene sebagai ketua PMI Kabupaten Rejang Lebong dan juga boleh dikatakan ‘orang baru’ di dunia kepalangmerahan, tak malu menjadi sopir truk.

 

Dituturkan Hendra, momen itu merupakan kesempatan yang paling berharga dan ia sangat bersyukur bisa hadir dan membantu secara langsung di daerah (darurat) bencana. Kata Hendra, ia mengakui jika ia sendiri baru terjun di organisasi kemanusiaan. Bahkan Hendra sempat dibayang-bayangi khawatir, jika kehadiran ia di daerah darurat bencana itu tidak bisa berkontribusi untuk warga setempat.

“Jujur, secara struktur saya memang ketua di PMI. Tapi secara pengalaman dibanding teman-teman yang berangkat, saya sendiri punya (ilmu dan pengalaman) apa ? Ini sempat menjadi kekhawatiran saya, dan saya takut ini malah menjadi beban bagi mereka. Tapi bersyukur kenyataannya tidak demikian”, aku Hendra.

Lanjut Hendra, kehadirannya di Lombok menjadikan ia semakin mengetahui siapa relawan dan apa fungsi relawan ?  Selama lebih dari sepekan di Kahyangan, Hendra beraktivitas menjadi driver. Hendra ditugaskan untuk bertanggungjawab mengendarai truk tanki air dan mendistribusikan air bersih dari Pos WASH menuju titik penampungan air di lokasi-lokasi pengungsian.

“Setidaknya saya pernah punya pengalaman mengendarai truk. Inilah yang menjadi bekal saya bisa beraktivitas di sana. Saya buang posisi saya sebagai ketua karena saya pikir tidak ada guna saya duduk-duduk saja kalau saya tidak ikut membantu. Bahkan saya sejak awal minta sama kawan-kawan untuk sembunyikan identitas saya sebagai Ketua PMI. Tapi tetap ketahuan juga”, serunya lagi.

Pembuatan rumah percontohan. [Foto : Dok. PMI Rejang Lebong]
Hendra juga menceritakan, dengan hadirnya ia dan rekan relawan ke Lombok, ia jadi lebih mengetahui secara langsung seperti apa kondisi darurat bencana di daerah itu. Permasalahan yang memang sangat kompleks berbaur jadi satu antara situasi, kondisi serta emosional. Namun dari pengalaman itu, Hendra jadi lebih memahami arti dari relawan.

 

“Ini benar-benar pengalaman yang sangat berharga dan jarang sekali ditemukan. Dari pengalaman ini kami menjadi lebih tahu, seperti apa penanganan bantuan di daerah darurat bencana”, sambung Hendra.

“Mulai dari siapa yang beri bantuan apapun bentuknya, pendistribusian bantuan sampai ke penerima bantuan. Ada plus minus yang kami jumpai. Termasuk tantangan tinggal di daerah orang, meski relawan tetap ada risiko yang dihadapi”, demikian Hendra.

Pembuatan WC Umum. [Foto : Dok. PMI Rejang Lebong]
Sementara itu, menurut penuturan Riki, relawan yang bertugas di Posko Pendistribusian Logistik dan WASH, tidak mudah untuk menjadi relawan. Terlebih menjadi relawan di negeri orang. Kadang, lanjut Riki, menjadi relawan suka lupa diri dengan diri sendiri. Lupa menjaga kesehatan, lupa menjaga nyawa karena fokus membantu atau menyelamatkan orang. Padahal pada prinsipnya keselamatan seorang relawan tetap harus nomor satu.

 

“Misalnya, lupa makan. Kalau pun ingat makan, makan dalam suasana situasi darurat tetap saja rasa enak dan puasnya beda dibanding ketika kita makan di rumah”, katanya sembari menambahkan bahwa sewaktu di lokasi mereka sempat mengalami gempa susulan lagi dengan Magnitudo 5,1.

Relawan juga tidak terlepas dari etik dan etika ketika berada di situasi darurat bencana. Ada prosedur yang dijalani dalam melakukan upaya kemanusiaan.

“Namun lelah kami akhirnya terbayar atas keselamatan dan kebahagiaan mereka”, demikian Riki.

Di sisi lain, setelah gempa susulan yang guncangannya cukup besar yakni berkekuatan Magnitudo 5,1 pada Jumat, (31/8/2018) lalu pukul 09.37.15 WIB, merupakan gempa bumi tektonik. Hasil analisis BMKG menunjukkan, Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 8,37 LS dan 116,06 BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 23 km Barat Laut Mataram-NTB, pada kedalaman 10 km.

Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas Sesar Naik Busur Belakang Flores (Flores Back Arc Thrust). Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan, bahwa gempabumi di wilayah Selat Lombok ini dibangkitkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme kombinasi pergerakan naik-mendatar (oblique thrust fault).

Dampak gempa bumi berdasarkan informasi dari masyarakat menunjukkan bahwa guncangan dirasakan di daerah Lombok Utara, Lombok Barat dan Kota Mataram dalam skala intensitas II SIG-BMKG (IV MMI), di Lombok Tengah dan Timur, Denpasar, Kuta, Karangasem II SIG-BMKG (III MMI).  Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi tidak berpotensi tsunami.

Untuk diketahui juga, sejak 5 Agustus 2018 sampai 21 Agustus 2018 pukul 09.00 WIB, Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, ada sebanyak 1.005 kali gempa susulan dampak dari gempa bumi di NTB.  Sedangkan update data Sabtu (1/9/2018) pukul 17.00 WITA , terdampak gempa yaitu ;

  1. Meninggal Dunia = 560 jiwa
  2. Pengungsi = 396.032 jiwa
  3. Rumah Rusak = 83.392 unit.

Adapun Rumah Sebaran korban meninggal dunia akibat gempa di daerah NTB yaitu ;

  1. Kab. Lombok Utara
    Meninggal       :  467  jiwa
    Luka luka         :  829  jiwa
    Pengungsi       :  101.735 jiwa
    Rumah rusak  :  23.098 rumah
  2. Kab. Lombok Barat
    Meninggal       : 44 jiwa
    Luka luka         : 399 jiwa
    Pengungsi       : 116.453 Jiwa
    Rumah rusak  :  37.285 rumah
  3. Kota Mataram
    Meninggal       :  9 jiwa
    Luka luka         :  63 jiwa
    Pengungsi       :  18.894 jiwa
    Rumah rusak  :  2.060 rumah
  4. Kab. Lombok Timur
    Meninggal       : 31 jiwa
    Luka luka         : 112 jiwa
    Pengungsi       : 104.060 jiwa
    Rumah rusak  : 7.280 rumah
  5. Kab. Lombok Tengah
    Meninggal       : 3 jiwa
    Luka luka         : 2 jiwa
    Pengungsi       : 18.887 jiwa
    Rumah rusak  : 4.629 rumah
  6. Sumbawa
    Meninggal       : 7   jiwa
    Luka luka         : 53 jiwa
    Pengungsi       : 41.003 jiwa
    Rumah rusak  :  9.040 rumah

Sebagian besar korban meninggal akibat tertimpa bangunan roboh saat gempa. Kepada masyarakat terus diimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

 

Laporan : Redaksi
Sumber Data :  POSKOGASGABPAD dan sumber lainnya

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.