Sedang Gotong Royong, Warga Temukan Sampah Medis Dekat Sungai Musi PLTA Ujan Mas

0
124
(Foto : Hendra Afriyanto/RedAksiBengkulu)
Warga dari 3 desa yaitu Desa Tanjung Alam, Desa Air Hitam dan Desa Cugung Lalang Kecamatan Ujan Mas Kabupaten Kepahiang Provinsi Bengkulu, bergotong royong memperbaiki jalan lintas desa mereka, Selasa (9/1/2018). (Foto : Hendra Afriyanto/RedAksiBengkulu)

RedAksiBengkulu.co.id, KEPAHIANG – Warga dari 3 desa yaitu Desa Tanjung Alam, Desa Air Hitam dan Desa Cugung Lalang Kecamatan Ujan Mas Kabupaten Kepahiang Provinsi Bengkulu, Selasa (9/1/2018) bergotong royong memperbaiki jalan lintas desa mereka. Ketika sedang bekerja, warga menemukan sampah medis yang diduga berasal dari Puskesmas Cugung Lalang berupa jarum suntik, botol obat dan bekas obat. Terlihat juga sampah kertas yang ada tulisan Puskesmas Cugung Lalang.

Sampah-sampah itu berserakan di pinggir jalan lintas tepatnya di dekat jembatan Sungai Musi. Yang mana sungai tersebut merupakan sarana Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Musi Ujan Mas.

Limbah medis ketika ditemukan di pinggir jalan. (Foto : Hendra Afriyanto/RedAksiBengkulu)

Dituturkan warga dari Desa Tanjung Alam yang juga anggota DPRD Kepahiang Armin Jaya, limbah medis itu didapati berserakan dekat sungai yang jaraknya dengan puskesmas sekitar 200 meter.

“Di jalan ini memang banyak sekali tumpukan sampah. Padahal sudah dipasang papan Larangan Buang Sampah yang dipasang pihak PLTA, namun kebiasaan buruk masyarakat masih terus buang sampah di dekat sungai ini”, kata Armin Jaya.

Warga yang bergotong-royong. (Foto : Hendra Afriyanto /RedAksiBengkulu)

Lebih ironi lagi, lanjut Armin, ada sampah medis yang dibuang di lokasi tersebut. Meski belum bisa dipastikan apakah benar sampah medis itu dari puskesmas terdekat atau bukan, pihaknya akan meminta klarifikasi atas sampah medis itu. Mengingat ada bukti yang ditemukan berupa sampah kertas yang ada tulisan Puskesmas Cugung Lalang.

“Jika memang benar, masyarakat bisa saja menuntut. Dan itu diatur dalam Undang-undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah”, katanya kepada RedAksiBengkulu.co.id, Selasa (9/1/2018).

Lanjut Armin, jika memang sampah medis itu bersumber dari Puskesmas Cugung Lalang, ia sangat menyayangkannya. Pasalnya Puskesmas Cugung Lalang merupakan puskesmas yang belum lama direhab dan statusnya baru saja naik tingkat menjadi Puskesmas Perawatan. Itu artinya, secara pelayanan dan pengelolaan limbah medis, puskesmas tersebut harus mempedomani SOP (Standar Operasional Prosedur).

“SOP sudah seharusnya dijalankan dengan baik. Jika seperti ini, dikhawatirkan akan berdampak pada masyarakat. Terlebih jika sampai ada penyebaran penyakit di masyarakat, bisa fatal akibatnya”, demikian kata politisi PKS.

Sementara itu, ketika ditemui di ruang kerjanya, Kepala Puskesmas Cugung Lalang Amar Ma’rup mengaku terkejut terkait sampah medis dari puskesmasnya yang di buang di pinggir jalan dan dekat sungai. Mengetahui hal itu, Amar langsung meninjau lokasi  pembuangan sampah medis tersebut.

“Wah, saya belum tahu. Kalau begitu, saya cek langsung ke lokasi”, kata Amar yang mengaku baru tahu soal sampah medis ini.

Kepala Puskesmas Cugung Lalang, Amar Mak’rup Kecamatan Ujan Mas memperlihatkan tong sampah medis dan non media. (Foto : Puskesmas/ist)

Soalnya, lanjut Amar, selama ini sampah medis tersebut sudah dipisahkan dengan sampah biasa. Untuk sampah medis, mereka mengaku sudah membuangnya di tempat khusus setiap harinya. Barulah setiap Sabtu, petugas RSUD Kepahiang mengambil sampah medis itu.

“Sedangkan sampah biasa kami buang di tong sampah di Desa Bumi Sari”, begitu kata Amar.

Untuk diketahui, menurut penjelasan hukumonline.com jika pegawai puskesmas membuang alat dan obat medis sembarangan, dapat dikatakan ia (sebagai bagian dari puskesmas) tidak melakukan kegiatan pengelolaan sampah sesuai norma, standar, prosedur, atau kriteria. Dan jika mengakibatkan gangguan kesehatan masyarakat, gangguan keamanan, pencemaran lingkungan, dan/atau perusakan lingkungan, maka dapat dipidana penjara dan denda. Selain itu, dapat juga dikenakan pidana berdasarkan Undang-Undang Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Namun perlu diketahui bahwa yang dihukum adalah pihak yang bertanggungjawab atas kegiatan pengelolaan limbah medis. Pengelola puskesmas mempunyai kewajiban menyediakan fasilitas pemilahan sampah. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyediaan fasilitas pemilahan sampah diatur di Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga. Dalam PP ini, pengelola fasilitas lainnya melakukan pemilahan sampah, pengumpulan sampah, pengolahan sampah. Dan puskesmas termasuk sebagai fasilitas lainnya.

Kegiatan pemilahan sampah, pengumpulan sampah, dan pengolahan sampah, termasuk sebagai penanganan sampah yang merupakan bagian dari penyelenggaraan pengelolaan sampah. Mengacu pada Pasal 40 ayat 1 UU Nomor 18 Tahun 2008, jika puskesmas tidak melakukan kegiatan pengelolaan sampah sesuai norma, standar, prosedur, atau kriteria sehingga mengakibatkan gangguan kesehatan masyarakat, gangguan keamanan, pencemaran lingkungan, dan/atau perusakan lingkungan, maka dapat dipidana penjara paling singkat 4 tahun dan paling lama 10 tahun dan denda antara Rp100 juta hingga Rp5 miliar

Kemudian perlu diketahui juga, bahwa kemasan obat-obatan dan obat-obatan kadaluarsa termasuk sebagai sampah yang mengandung bahan berbahaya dan beracun dan limbah bahan berbahaya dan beracun. Jika yang dibuang oleh pegawai puskesmas tersebut adalah obat-obatan kedaluarsa dan kemasan obat-obatan yang merupakan limbah berbahaya, maka bisa terkena pidana sesuai ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH).

 

 

 

Laporan : Hendra Afriyanto

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.