Selain Di ‘Gedung Putih’ Kepahiang, Meriam Kuno Ada di Desa Kelobak. Konon Ada Mistisnya ?

Di rumah milik Aini di Desa Kelobak Kecamatan Kepahiang Kabupaten Kepahiang Provinsi Bengkulu inilah ada Meriam kuno yang juga disinyalir peninggalan sejarah juga. (Foto : Hendra Afriyanto/RedAksiBengkulu)

RedAksiBengkulu.co.id,  KEPAHIANG – Diketahui, ada 2 buah Meriam kuno yang diduga peninggalan sejarah yang hingga saat ini masih tergeletak di teras sudut gedung Setdakab Kepahiang Provinsi Bengkulu. Mirisnya, Meriam kuno itu sama sekali tidak dihiraukan. Padahal setiap hari selalu ada pegawai yang melintas teras tersebut.

Ternyata, Meriam kuno tak hanya di ‘gedung putih’ Kepahiang melainkan ada juga di salah satu rumah warga tepatnya di rumah milik Aini di Desa Kelobak Kecamatan Kepahiang Kabupaten Kepahiang.  Menariknya,  Meriam kuno itu seperti diperlakukan ‘spesial’. Karena selain terdaftar sebagai Cagar Budaya  yang bernama Meriam Kelobak, dengan Nomor Inventaris : BKL/KPY – 09/2016, meriam itu diperkuat dengan Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 420 -313 Tahun 2017. Kondisinya pun terlindungi dan dirawat dengan baik.

Sayang, ketika RedAksiBengkulu.co.id ingin melihat lebih dekat seperti apa bentuk Meriam kuno yang ada di Cagar Budaya Desa Kelobak itu, tidak bisa. Meski jurnalis sudah bertemu dengan juru kunci Meriam sekaligus penghuni rumah tersebut, namun menurutnya tidak boleh sembarang melihat Meriam itu.

“Tidak boleh lihat, harus beritahu (izin) kades dulu”, singkat Aini.

Kades Kelobak pun kebetulan sedang tidak berada di kediamannya. Namun RedAksiBengkulu.co.id terus mencoba ingin memastikan apakah bentuk fisik Meriam di rumah Aini itu sama dengan Meriam di Gedung Setdakab Kepahiang? Sehingga diperlihatkanlah foto Meriam yang ada di Gedung Setdakab Kepahiang kepada salah seorang warga setempat, Sahril.

Meriam kuno yang tergeletak di teras sudut gedung Setdakab Kepahiang selama bertahun-tahun atau sejak zaman Bupati Bando Amin C Kader. (Foto : Hendra Afriyanto/RedAksiBengkulu)

Ketika dilihat dengan teliti foto Meriam yang ada di Gedung Setdakab Kepahiang, Sahril membenarkan jika secara fisik bentuk Meriam kuno yang ada di dalam Rumah Aini itu sama. Hanya saja menurut Sahril, perkiraan panjang Meriam yang ada di Rumah Aini lebih pendek dibanding Meriam yang ada di Gedung Setdakab Kepahiang.

Sahril juga menjelaskan, jika ada pengunjung yang ingin memfoto atau mengabadikan gambar Meriam di rumah Aini, tidak bisa sembarang. Ada prosedur yang harus dilakukan karena dikhawatirkan akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dari si pengunjung jika tidak mengikuti prosedur.

“Memang harus ada prosedur. Juru kuncinya ibu Aini. Dia juga penghuni rumah itu. Kami warga sini juga tidak bisa seenaknya melihat Meriam itu”, terang Sahril.

Diceritakan juga oleh Sahril, bahwa sebelum bangunan rumah Aini dijadikan sebagai Cagar Budaya itu direhab, pernah terjadi sesuatu pada yang orang-orang (tukang) yang merehab rumah tersebut jatuh sakit. Terlepas benar atau tidak jatuh sakitnya orang-orang yang merehab rumah itu pengaruh dari adanya Meriam kuno tersebut, namun warga setempat sepertinya masih meyakini demikian ?

“Bangunan rumah itu pernah direhab. Orang yang (merehab) bangun(an) itu kini sering sakit. Bagi kami itu bagian sakral. Jadi kami tidak berani sembarangan (perihal Meriam kuno itu)”, cerita Sahril.

 

Berita Terkait :

Soal Meriam Terbengkalai Bertahun-tahun di Sudut Gedung Setdakab, Ini Kata Bupati Kepahiang
Kades ‘Republik’ Siap Rawat Meriam Terlantar Di Sudut Kantor Bupati Kepahiang
Hah…! Ada Benda Bersejarah Terbengkalai di Teras Gedung Pemkab Kepahiang

 

Diketahui, 2 buah Meriam kuno di teras ‘Gedung Putih’ Kepahiang itu panjangnya sekitar 1.5 meter. Sedang diameternya sekitar 30-40 cm.

Yang menjadi pertanyaan, apa yang menjadi pembeda Meriam kuno yang berada di 2 lokasi tersebut sehingga beda perlakuannya masih belum diketahui ? Sementara secara penglihatan fisik, Meriam-meriam kuno tersebut bentuknya nyaris sama, namun diduga sedikit beda di ukuran panjangnya. Sedang persamaannya, disinyalir Meriam-meriam di 2 lokasi itu merupakan benda peninggalan sejarah.

 

 

 

 

 

 

Laporan : Hendra Afriyanto
Editor : Aji Asmuni

Comments

comments

Facebooktwittermail

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *