Aksi Hari Bumi oleh Komunitas Danau Movement
Selain Sampah, Paku Bekas Poster di Pepohonan Kawasan Danau Dendam Dicabuti

0
230
Aksi bersih-besih Danau Dendam Tak Sudah oleh Komunitas Danau Movement. [Foto : Dedi Suryadi/Sucenk]

RedAksiBengkulu.co.id, BENGKULU – Dari aksi bersih-bersih Danau Dendam Tak Sudah di Kota Bengkulu yang dilakukan oleh gabungan komunitas yang menamakan diri Danau Movement, Minggu (23/4/2018), alhasil, sampah yang dikumpulkan sebanyak 1 bak mobil pick up. Sampah-sampah itu berupa botol plastik, plastik bungkus makanan ringan dan kelapa.

Spanduk imbauan jaga dan lestarikan kawasan danau. [Foto : Panitia Danau Movement]
Sampah-sampah yang dipungut dari aksi memperingati Hari Bumi yang diperingati setiap 22 April itu akan dibuang langsung ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah, Air Sebakul.

“Kelapa bekas kelapa muda juga banyak. Walau sampah kelapa itu sampah organik, tapi tetap saja sampah yang harus dibuang pada tempatnya”, kata Dedi Suryadi alias Sucenk.

Sucenk menambahkan, selain sampah, mereka juga mencabut paku-paku yang selama ini tertanam di pepohonan sepanjang kawasan Danau Dendam. Yang mana paku-paku itu berasal dari poster-poster dari beragam iklan termasuk poster kandidat yang dipaku ke pohon.

“Pohon bukan media penyandang poster ‘jualan’. Beriklanlah dengan bijak dengan tidak merusak alam”, lanjutnya.

Tanam pohon di pinggiran danau. [Foto : Panitia Danau Movement]
Mengenai bibit pohon kayu keras yang ditanam, tambah Sucenk, bibit poon jenis Mahoni dan Ketaping sudah ditanam di pinggiran danau dengan diberikan pagar pengaman supaya tidak di rusak ternak atau ulah tangan-tangan jahil.

Dedi Suryadi/Sucenk (kiri) selaku koordinator kegiatan dan Tokoh Masyarakat Lembak (Danau) Syaiful Anwar (kanan) pada malam apresiasi seni. [Foto : Panitia Danau Movement]
Sementara itu, dalam sarasehan yang juga digelar dalam rangka Hari Bumi itu, Tokoh Masyarakat Lembak, Syaiful Anwar berpesan, Danau Dendam Tak Sudah adalah danau kebanggaan dan milik semua masyarakat Bengkulu. Dalam hal ini, memiliki bukan berarti seenaknya masyarakat mau mengintervensi danau dan berbuat tidak wajar terhadap danau tersebut.  Mengingat, sambung Syaiful, danau yang masuk dalam kawasan Cagar Alam itu juga memiliki histori dan legenda daerah yang masyarakat juga harus jaga dan lestarikan.

 

“Ibarat kita punya sesuatu (barang) yang kita kagumi atau kita sayangi, secara manusiawi pasti kita tidak akan merusak sesuatu (barang) itu kan ? Begitu pula dengan danau kita. Kita punya danau juga harus kita pelihara. Ada amanah leluhur yang harus kita jaga dari kepunahan dan kerusakan”, begitu kata Syaiful.

Terlepas dari kegiatan di atas, sekedar berbagi pengetahuan dan wawasan untuk kita, di Danau Ranau, danau yang terletak di antara Kabupaten Lampung Barat Provinsi Lampung dengan Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan Provinsi Sumatera Selatan, saat ini menjadi tujuan wisata dan menjadi target PAD pemerintah setempat.

Pasalnya, pemerintah setempat memanfaatkan danau tersebut sebagai sarana perlombaan olahraga air dan perlombaan seni budaya lainnya serta sebagai ajang mempromosikan produk-produk lokal daerah. Danau Ranau sendiri merupakan danau terbesar kedua di Sumatera setelah Danau Toba Sumatera Utara. Namun dalam hal ini, bukan persoalan status besar kecilnya luas danau. Namun di daerah luar sana, masyarakat dan pemerintah sudah jauh lebih dulu bekerjasama guna memajukan daerah dengan memanfaatkan potensi alam yang ada.

 

Sekilas Tentang Danau Dendam Tak Sudah

Dilansir wikipedia.org  Danau Dendam Tak Sudah (DDTS) adalah sebuah danau yang terletak di Kota Bengkulu. Danau ini berlokasi di Kelurahan Dusun Besar, Kecamatan Singaran Pati, Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu. Danau Dendam Tak Sudah memiliki luas keseluruhan 557 hektar dan luas permukaan air 67 hektar.

Lenskap Danau Dendam Tak Sudah, Kota Bengkulu. [Foto : Dedi Suryadi/Sucenk]
Tahun 1936 danau ini sudah ditetapkan sebagai Cagar Alam dengan luas 11,5 hektar oleh Pemerintah Hindia Belanda. Selanjutnya, pada 1979, kawasan Cagar Alam ini dipeluas menjadi 430 hektar. Lalu pada 1999, wilayah Cagar Alam diperluas lagi menjadi 577 hektar. Konon, danau ini diperkirakan terbentuk dari aktivitas gunung berapi di daerah tersebut.

 

Danau Dendam Tak Sudah sebenarnya bernama Danau Dam Tak Sudah. Karena di danau itu pada tahun 1939 atau pada masa Pemerintahan Kolonial Belanda mulai dibangun bendungan (Dam) terbesar sebagai tanggul penghalang air supaya Kota Bengkulu tidak terendam banjir. Selain itu bendungan tersebut juga sebagai pengatur air bagi persawahan warga di sekitar danau.

Namun hingga tahun 1942 pembangunan Dam itu tak selesai seperti yang diharapkan. Akibatnya, luka dan dendam penduduk Bengkulu seperti tak berkesudahan. Sehingga masyarakat menyebutnya Danau Dam Tak Sudah.

Di sisi lain, penamaan danau ini juga ada kaitannya dengan legenda dari masyarakat Suku Lembak. Menurut cerita yang dituliskan selama ini, mengenai kisah percintaan sepasang kekasih yang mengikat janji sehidup semati. Sayang, kisah asmara dua insan ini tidak direstui oleh orang tua perempuan.

Sang perempuan pun dijodohkan dengan lelaki lain. Karena tak ingin dijodohkan dan masih setia dengan pasangannya yang  lama, sepasang kekasih itu pun memilih jalan pintas kisah percintaan  mereka dengan bunuh diri di danau tersebut. Lagi-lagi konon, sepasang kekasih itu menjelma menjadi lintah raksasa yang masyarakat setempat menyebutnya dengan Lintah Tikar.

Terkait legenda inilah, asal kata ‘Dendam’ ini melekat hingga kini. Artinya, penamaan kata ‘Dendam’ atau menambahkan kata ‘Den’ sebelum kata ‘Dam’. Sedang secara histori pembangunan bendungan adalah Dam Tak Sudah. Apapun namanya sama saja dan tetap dimengerti dan dipahami bahwa satu-satunya danau di Kota Bengkulu, danau itulah. Namun yang paling penting bagi kita sekarang, keberadaan danau dan habitat serta ekosistem di dalam hutan dan sekitar danau yang harus dijaga dan dipelihara sampai kapan pun.

Di danau ini memiliki beberapa jenis flora khas. Di antaranya Anggrek Matahari, Plawi, Bakung, Gelam, Terentang, Sikeduduk, Brosong, Ambacang Rawa, dan Pakis. Anggrek dengan bunga putih dipadu warna ungu dan bintik-bintik hitam menjadi daya tarik bagi wisatawan yang datang ke danau itu. Selain flora, ada fauna khas, seperti Kera ekor panjang, Lutung, Burung Kutilang, Babi, Ular Phyton, Siamang, Siput dan berbagai jenis ikan termasuk ikan langka, seperti Kebakung dan Palau.

 

Laporan  : Aji Asmuni

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.