SUBHANALLAAH !!! Pengemis dan Pemulung Bungkuk Di Desa Ini Berqurban 2 Kambing

“ALLAAH Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, maka shalatlah untuk Rabbmu dan sembelihlah hewan” (Qs. Al-Kautsar ; 2). Dan yakinlah, bagi mereka yang berqurban, Allaah akan segera memberikan ganti biaya qurban yang dia keluarkan. Karena setiap pagi Allaah mengutus dua malaikat.
Yang satu berdo’a ; “Yaa Allaah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfaq”. Dan yang kedua berdo’a ; “Yaa Allah, berikanlah kehancuran bagi orang yang menahan hartanya (pelit)”. (HR. Al Bukhari 1374 & Muslim 1010).
Penggalan ayat Al-qur’an dan Hadits di atas tersirat, bahwa bagi Muslim yang kaya, diwajibkan untuk berqurban. Sementara sunnah hukumnya bagi yang kurang berkecukupan dalam kehidupannya sehari-hari.

Wak Ipin (kanan) dan Wak Akip (kiri). (Foto : Hendra Afriyanto/RedAksiBengkulu)

RedaksiBengkulu.co.id, KEPAHIANG – Umumnya, banyak yang berqurban kambing atau sapi orang yang mampu (kaya). Khusus untuk qurban sapi, sifatnya bisa perorangan bisa juga kolektif (berkelompok). Tapi banyak juga orang yang kesehariannya boleh dibilang kurang mampu namun ternyata ia mampu berqurban.

Adalah Saipin Bustami dan Akip. Keduanya sudah renta namun masih mencari sendiri. Wak Ipin sapaan akrab Saipin Bustami, sebagaimana diketahui kesehariannya sebagai pemulung, di Hari Raya Idul Adha tahun ini (1438 Hijriah) ia berqurban 2 kambing. Uang untuk beli kambing itu diperolehnya dari menyisihkan sebagian penghasilannya memulung barang bekas.  (Baca : Pria Tua Berbadan Bungkuk Ini Hidup Sendiri, Namun Ia Mampu Bangun ‘Istana’ Dari Hasil….)

“Setiap hari, dari hasil menjual kardus dan botol bekas, saya sisihkan Rp 2.000 – Rp 10.000. Dari simpanan itu saya berniat untuk bisa qurban tahun ini. Alhamdulillaah niat dan kerja keras saya dijabah Allaah SWT. Tahun ini saya bersyukur bisa qurban 2 kambing”, tutur Wak Ipin saat mengantarkan 2 kambingnya ke Masjid Darussaadah Desa Pulo Geto Kecamatan Merigi Kabupaten Kepahiang, Sabtu (2/9/2017).

Rumah Wak Ipin yang dibangunnya dari tabungannya dengan menyisihkan sebagian dari penghasilannya memulung barang bekas. (Foto : Hendra Afriyanto/RedAksiBengkulu)

Sedang Akip, seorang tuna wicara (bisu) akhirnya juga bisa berqurban 2 kambing. Akip yang kesehariannya mengemis di jalanan sepanjang jalan lintas Kepahiang – Curup itu juga menyisihkan sebagian dari hasil mengemis selama 3 tahun untuk berqurban.

Ada yang haru dari kisah Wak Akip, ia biasa disapa warga setempat, sehingga bisa berqurban 2 kambing tahun ini. Ternyata Wak Akip yang juga tetangga Wak Ipin ini diketahui juga menyisihkan uang Rp 2.000 setiap hari. Uang itu Wak Akip kumpulkan ke dalam karung sejak 3 tahun lalu. Itu diketahui setelah Wak Akip menceritakan kisahnya dengan bahasa isyarat kepada Imam Masjid Darussaadah Desa Pulo Geto, Samsul Bahri.

Cerita Samsul, sore pada 3 minggu sebelum Idul Adha, ia didatangi Wak Akip. Wak Akip pun mengajak imam masjid ke rumahnya. Sesampainya di rumah, Wak Akip memperlihatkan uang kertas yang hampir penuh sekarung.

“Uang dalam karung itu banyak pecahan Rp 2.000. Ada juga Rp 5.000 dan Rp 10.000. Tenyata maksud dari Wak Akip menunjukkan uangnya itu ternyata untuk beli kambing dan ia akan berqurban tahun ini”, terang Samsul Bahri.

Lanjut Samsul, ketika ia menghitung uang dalam karung yang mana kondisi uang itu banyak yang lusuh, sempat mengkhawatir jika uang itu kelak enggan diterima penjual kambing. Namun di sisi lain Samsul terharu dan bangga atas nawaitu dan perjuangannya dalam menyisihkan sebagian rejekinya sehingga bisa berqurban.

“Jujur saya sempat khawatir namun ada haru dan bangga. Tapi setelah saya menghubungi penjual kambing dan menceritakan kronologi sebenarnya, Alhamdulillaah penjual kambing dengan lapang dada menerima uang dari Wak Akip. Dan dibayarlah 2 kambing seharga Rp 5,5 juta.

Rasa kekhawatiran Samsul lepas sudah dan jumlah tabungan Wak Akip ternyata diketahui sebanyak Rp 6 juta. Itu artinya masih berlebih Rp 500.000 dari harga kambing yang dibelinya Rp 5,5 juta.

Diketahui hewan qurban yang disembelih di Masjid Darussadah Desa Pulo Geto berjumlah 14 Kambing dan 3 Sapi. Empat kambing diantaranya merupakan qurban dari Wak Ipin dan Wak Akip.

Penyembelihan kambing qurban. (Foto : Hendra Afriyanto/RedAksiBengkulu)

Ada 4 hikmah dari berqurban. (sumber ; muslim.or.id). Pertama, bersyukur kepada Allaah atas nikmat hayat (kehidupan) yang diberikan. Kedua, menghidupkan ajaran Nabi Ibrahim – khalilullah (kekasih Allah) – ‘Alaihis Salaam yang ketika itu Allaah memerintahkan beliau untuk menyembelih anak tercintanya sebagai tebusan yaitu Ismail ‘Alaihis Salaam ketika hari An-Nahr (Idul Adha).

Ketiga, agar setiap mukmin mengingat kesabaran Nabi Ibrahim dan Isma’il ‘Alaihimas Salaam, yang membuahkan ketaatan pada Allaah dan kecintaan pada-Nya lebih dari diri sendiri dan anak. Pengorbanan seperti inilah yang menyebabkan lepasnya cobaan sehingga Isma’il pun berubah menjadi seekor Domba. Jika setiap mukmin mengingat kisah ini, seharusnya mereka mencontoh dalam bersabar ketika melakukan ketaatan pada Allaah dan seharusnya mereka mendahulukan kecintaan Allah dari hawa nafsu dan syahwatnya. Keempat, ibadah qurban lebih baik daripada bersedekah dengan uang yang semisal dengan hewan qurban.

 

Laporan : Hendra Afriyanto
Editor : Aji Asmuni

Comments

comments

Facebooktwittermail

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *