Telan Kondom Berisi Sabu, BNNP Bengkulu Ringkus Sindikat Internasional

Tim Pemberantasan BNNP Bengkulu, menunjukkan barang bukti (BB) 8 bungkus sabu dalam kondom seberat 4 ons (400 gram). Yang mana masing-masing per bungkus seberat 50 gram dan 4 bungkus seberat 2 ons (200 gram) yang diselundupkan dengan modus operandi disimpan di dalam kondom lalu ditelan (Swallow) oleh tersangka. (Foto : Julio Rinaldi/RedAksiBengkulu)

RedAksiBengkulu.co.id, BENGKULU – Tim Pemberantasan Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Bengkulu, kembali berhasil menggagalkan penyelundupan sabu dengan modus operandi disimpan di dalam kondom lalu ditelan (Swallow) oleh tersangka.

Dalam Siaran Pers BNNP Bengkulu yang dipimpin Kepala BNNP Bengkulu, Brigjen Pol. Nugroho Aji menjelaskan, sekitar pukul 20.30 WIB, Sabtu (26/8/2017) lalu, tim pemberantasan BNNP mengungkap penyelundupan narkoba dari China yang merupakan jaringan internasional.

“Modus operandi ini sangat luar biasa bagi tersangka. Karena apabila pelapis narkoba (kondom) yang ditelan pecah, maka tersangka akan mati. Modus seperti ini yang sering dilakukan oleh sindikat Iran dan Nigeria,” ungkap Nugroho, Senin (11/9/2017) di hadapan awak media di Kantor BNNP Bengkulu.

Pengungkapan kasus ini, lanjutnya, didasari pada penyelidikan secara terus-menerus selama 3 bulan oleh Tim Pemberantasan BNNP Bengkulu yang dipimpin Kabid Berantas, AKBP Marlian Ansori.

“Saat tim mengetahui bahwa ada sindikat internasional akan menyelundupkan narkoba jenis sabu dengan cara ditelan, tim bekerjasama dengan pengamanan Bandara Fatmawati Bengkulu untuk melakukan penangkapan terhadap tersangka,” terangnya.

 

Baca Juga :
Di Curup, BNNP Bengkulu Amankan 1 Kg Sabu Milik Sindikat Narkoba Jaringan Internasional
Kepala BNNP Bengkulu : Pelaku Sindikat Narkoba Internasional Diancam Hukuman Mati

 

Adapun kronologis penangkapan, sambungnya, pukul 20.30 WIB pesawat Wings Air mendarat dari Batam dan dilakukan penangkapan terhadap 2 tersangka atas nama, Tarmidi (29) dan Rasyidin (41). Keduanya warga Lhokseumawe, Aceh. Selanjutnya, kedua tersangka dibawa ke Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Kota Bengkulu untuk dilakukan rontgen (ronsen). Hasilnya, didalam perut tersangka positif terdapat sabu yang dimasukkan ke kondom.

“Sabu tersebut berhasil dikeluarkan oleh dokter melalui anus dan disita dari kedua tersangka itu 8 bungkus sabu dalam kondom seberat 4 ons (400 gram). Yang mana masing-masing per bungkus seberat 50 gram. Sedang satu tersangka membawa 4 bungkus seberat 2 ons (200 gram)”, paparnya.

Kemudian, pengembangan dari kedua tersangka diketahui penyelundupan sabu itu atas perintah M Fadli alias Uli. Lalu, tim melakukan penangkapan terhadap Uli di salah satu hotel di Bengkulu.

“Uli diperintah oknum Napi Lapas Bentiring Bengkulu berinisial KR yang bertindak selaku pengendali dan pemodal. Tersangka KR mengendalikan dengan menggunakan handphone dari dalam Lapas,” terangnya.

Adapun jalur penyelundupan, oknum Napi KR memesan sabu dari Mr X yang merupakan Warga Negara Asing (WNA) di China yang sudah masuk Daftar Pencarian Orang (DPO), melalui tersangka Uli. Selanjutnya, sabu dikirim melalui Malaysia diselundupkan ke Indonesia melalui kapal nelayan di pelabuhan gelap di Lhokseumawe, Aceh. Sabu pun diterima oleh kedua tersangka Tarmidi dan Rasyidin sebanyak 4 ons.

Oleh kedua tersangka, sabu tersebut ditelan dan tersangka menuju Bandara Kualanamu, Medan, dengan menggunakan bus. Dari Medan, kedua tersangka menuju Batam dengan menggunakan pesawat Citilink. Lalu, dari Batam ke Bengkulu tersangka menggunakan pesawat Wings Air. Sesampainya di Bandara Fatmawati, dilakukanlah penangkapan oleh Tim Pemberantasan BNNP Bengkulu.

Diketahui, oknum KR memesan sabu tersebut sebanyak 1,2 kg dan memerintahkan kepada tersangka untuk mengirimkan sebanyak 3 kali dengan modus ditelan (Swallow).

Atas kasus tersebut, para tersangka dikenakan pasal 114 ayat (2) junto Pasal 132 ayat (1) subsider Pasal 112 ayat (2) junto Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Sedangkan ancaman hukumannya yakni minimal 5 tahun penjara dan maksimal hukuman mati.

 

 

 

 

 

 

Laporan : Julio Rinaldi
Editor : Aji Asmuni

 

Comments

comments

Facebooktwittermail

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *