Tingginya Deforestasi di TWA Bukit Kaba Ancam Hilangnya Rafflesia

0
260
Habitat Rafflesia di kawasan TWA Bukit Kaba yang terancam akibat perkebunan warga. [Foto : Muhamad Antoni/RedAksiBengkulu]

RedAksiBengkulu.co.id, REJANG LEBONG – Taman Wisata Alam (TWA) Bukit Kaba yang terletak di dua Kabupaten yaitu Rejang Lebong dan Kepahiang Provinsi Bengkulu memiliki luas mencapai 13.490 hektar. Selain kawasan wisata alam, Bukit Kaba tingginya mencapai 1.952 mdpl dan terletak diantara 1020 35’- 1020 45’ Bujur Timur dan 030 30’ – 03o 37’ Lintang Selatan itu juga sebagai kawasan pendakian.

Keanekaragaman flora di TWA Bukit Kaba diantaranya Bunga Kibut atau Bunga Bangkai (Amorphophallus), Bambu (Bamboo sp) dan anggrek. Sedang faunanya yaitu Kucing Hutan (Felis Bengalensis), Siamang (Simpahalangus Syndactylus) dan beberapa jenis burung.

Pada awal April 2018, masyarakat Rejang Lebong mendapatkan kabar baik dari kawasan TWA Bukit Kaba, tepatnya di Desa Air Dingin Kecamatan Sindang Kelingi Rejang Lebong Provinsi Bengkulu. Yang mana di kawasan itu dihadirkan tumbuh dengan sendirinya Bunga Rafflesia.

Tumbuhnya puspa langka yang merupakan ikon Provinsi Bengkulu ini pertama kali diketahui oleh Katuro (40), warga Desa Air Dingin Kecamatan Sindang Kelingi. Mengingat, sejak 20 tahun terakhir, Bunga Rafflesia tidak pernah tumbuh lagi dan sejak 5 tahun terakhir ini Bunga Rafflesia yang belakangan diketahui jenis Rafflesia Arnoldi tumbuh di lahan garapannya seluas lebih dari 2 hektar itu. Hanya saja, baru terpublikasi belum lama ini.

Rafflesia Arnoldi yang mekar bunga di areal perbukitan dengan kemiringan mencapai 60 derajat pada awal April lalu itu mekar sempurna dengan diameter mencapai 60 cm dengan 5 kelopak. Lalu ada satu bongkol calon bunga yang belum mekar. Untuk menuju ke lokasi, butuh waktu 30 menit berjalan kaki menuju lokasi dengan melewati perkebunan warga setempat.

Baca Juga :

TWA Bukit Kaba Jadi Habitat Baru Puspa Langka Dilindungi
Lebih Dari 20 Tahun ‘Hilang’, Bunga Langka Ini Kembali Mekar di TWA Bukit Kaba
Bunga Rafflesia Ternyata Juga Mekar di Desa Ini Untuk Pertama Kalinya
2017, Pemda Kepahiang Seriusi Wacana Ekowisata Puspa Langka Bunga Bangkai dan Rafflesia

Tumbuhan di sekitar Bunga Rafflesia mekar itu didominasi tanaman bambu mengingat kawasan itu merupakan lembah dan berada di pinggiran sungai yang memiliki lebar mencapai 2 meter. Selain Bambu, ada tanaman kopi dan palawija. Sayangnya ketidaktahuan masyarakat sekitar membuat tutupan di sekitar bunga itu terus terbuka.

Katuro si penemu Bunga Rafflesia yang mekar itu dan beberapa petani lain mengaku tidak tahu jika tanaman bambu yang ditebangnya tersebut justru bisa merusak habitat Bunga Rafflesia. Mereka hanya berfikir dengan ditebangnya tanaman bambu, warga yang akan melihat Bunga Rafflesia itu jadi lebih leluasa.

Padahal, menurut Dr Agus Susatya, pakar Rafflesia di Provinsi Bengkulu mengatakan, ketidaktahuan masyarakat yang menebang tanaman lain di sekitar tumbuhnya Rafflesia justru akan mengancam habitat inang Rafflesia tersebut.  Tumbuhnya Rafflesia di TWA Bukit Kaba itu merupakan habitat baru bagi Rafflesia di Kabupaten Rejang Lebong.

Dari beberapa penelitian Agus dan kawan-kawan, bahwa potensi sebaran habitat Bunga Rafflesia di Kabupaten Rejang Lebong selama ini terdapat di kawasan Suban Air Panas di Kecamatan Selupu Rejang yang terakhir mekar pada 2010. Lalu ada juga di kawasan hutan Daerah Aliran Sungai (DAS) Musi di Desa Taba Renah Kecamatan Curup Utara.

Temuan habitat baru bagi Bunga Rafflesia di TWA Bukit Kaba ini perlu adanya tindaklanjut pemerintah dalam menjaga kelestarian habitat Bunga Rafflesia. Perlu juga sosialisasi kepada masyarakat untuk menjaga habitat tersebut serta bekal pengetahuan terhadap puspa langka itu.

Saat ini, lanjutnya, potensi ancaman hilangnya habitat Bunga Rafflesia semakin besar ketika masyarakat tidak bisa menjaga kawasan hutan di sekitar tumbuhnya Bunga Rafflesia. Ditambah lagi, semakin luasnya kawasan pertanian warga secara tidak langsung juga memaksa kawasan hutan tergerus.

Sementara itu, menurut Ahli Tanah dan Air, Razi Putra, mengenai ancaman habitat Bunga Rafflesia yang tumbuh di sekitar areal pertanian warga juga disebabkan dari penggunaan racun kimia yang berlebihan. Dari analisanya menyebutkan, masih tersedianya Karbon Organik dan Organisme tanah meskipun di sekitar tumbuhan inang Bunga Rafflesia sering terpapar pupuk kimia juga dapat memberikan pengaruh terhadap nutrisi tanaman di sekitarnya.

Hanya saja, lanjutnya, yang perlu diwasapadai adalah penggunaan herbisida maupun racun tanaman yang berlebihan bisa mengganggu tanaman di sekitar termasuk pohon inang Bunga Rafflesia. Pengaruh penggunaan racun kimia ini juga perlu ada kajian lagi mengingat curah hujan, dosis racun yang digunakan dan arah lereng.

Selain mewaspadai hal tersebut, tambah Razi Putra, yang juga Alumni Universitas Andalas (Unand) Sumatera Barat ini, alam juga punya kemampuan dalam memperbaiki dirinya sendiri. Tinggal lagi tergantung daya dukung dan daya tampung terhadap beban pencemar di lingkungan. Namun jika lahan perkebunan di sekitar habitat Bunga Rafflesia itu masih didominasi milik warga, masih dalam toleransi terhadap lingkungan, sehingga ancaman terhadap Bunga Rafflesia yang tumbuh di sekitar areal pertanian warga masih sangat kecil risiko ancamannya. Lain hal jika perkebunan itu dikuasi oleh pihak swasta.

Data dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Seksi Konservasi Wilayah I Provinsi Bengkulu menyatakan, Bunga Rafflesia terakhir mekar di kawasan TWA Bukit Kaba pada 1990 silam. Setelah itu tidak pernah ditemukan kembali karena habitatnya banyak rusak oleh aktivitas perambah hutan (illegal logging).

Dituturkan Seksi Konservasi Wilayah I BKSDA, David Huta Hayan, dari total luas kawasan TWA Bukit Kaba, sekitar 50 % rusak dirambah. Artinya kurang lebih 7.000 hektar kawasan TWA Bukit Kaba menjadi rusak. Perambahan tertinggi berada di Kecamatan Muara Kemumu Bukit Menyan Kabupaten Kepahiang hingga di Kecamatan Sindang Dataran Kabupaten Rejang Lebong.

Terkait pengawasan atau pengamanan terhadap Bunga Rafflesia, BKSDA sendiri mengaku kesulitan. Itu dikarenakan kurangnya SDM atau personil polisi hutan. Namun upaya-upaya penyelamatan habitat Bunga Rafflesia Arnoldi harus terus dilakukan dengan berbagai pihak termasuk masyarakat yang berada di sekitar habitat puspa langka itu.

Peran pemerintah daerah juga diperlukan. Karena dengan hadirnya Bunga Rafflesia secara tidak langsung akan meningkatkan Penghasilan Asli Daerah (PAD) dari sektor wisata, tentunya apabila habitat baru di TWA ini akan dijadikan sektor wisata oleh pemerintah daerah, peran menjaga kelestarian hutan di wilayah tersebut untuk ikut serta baik secara pengelolaan yang berbasis lingkungan.

Laporan : Muhamad Antoni

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.