Tommy Eleven, Jatuh Bangun Meniti Karir Bisnis Memantapkannya Maju Pada Pileg 2019

0
422
Tommy Yusriyadinata atau akrab disapa Tommy Eleven. Pemilik Eleven Group dan juga Ketua Tidar Kota Bengkulu. [Foto : Dok Pribadi]

RedAksiBengkulu.co.id, BENGKULU – Banyaknya politisi muda di era kini memicu dan memotivasi semangat Tommy Yusriyadinata untuk terjun ke dunia politik. Tommy semakin menjadi percaya diri  dan mematangkan diri untuk terjun ke dunia politik atas dasar selain dari basis pendidikannya memang dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Bengkulu, pengalaman dari pergaulan dan giat bisnis yang sudah dilakukannya sejak menjadi mahasiswa.

Terlepas dari latar belakang ekonomi keluarganya yang berkecukupan, namun Tommy Eleven sapaan akrabnya, adalah remaja yang mandiri dan aktif berwiraswasta. Bahkan sekalipun keluarganya mendukung penuh supaya ia menjadi pegawai negeri, Tommy tetap pada pendiriannya yaitu ingin selalu berwiraswasta.

Awal Tommy berwiraswasta dimulai sejak ia masih menjadi mahasiswa atau sejak 2010 lalu. Ketika itu Tommy menjadi reseller pakaian olahraga. Pola penjualan kaos olahraga dengan sistem pre-order.

Tommy pun mulai megetahui cara mengatur modal dan untung yang didapat. Dia juga harus ekstra keras dalam mencari pelanggannya, karena pada waktu itu ia tidak bisa memperlihatkan produk secara ril alias hanya foto-foto produk. Meski tak berlangsung lama, namun pengalaman ini menjadikan Tommy semakin memahami dan mengerti arti dari sebuah pengelolaan bisnis yang dikelola secara mandiri dengan tidak  memiliki cukup modal.

“Waktu itu dari untung setiap kaos olahraga yang dijual sekitar Rp 15.000/pcs. Itu saya lakukan selama 6 bulan. Paling tidak usaha itu bisa membiayai transportasi kuliah saya”, terang Tommy. 

Kemudian Tommy merintis bisnis warung internet (warnet) tahun 2010. Tatkala ketika itu, internet masih belum sepadat sekarang. Di bisnis ini, Tommy disupport dana oleh orangtua dengan 5 unit PC (Personal Computer) dan perlengkapan warnet lainnya. Hanya saja dalam melakoni bisnis ini cuma bertahan lama selama 1 tahun karena omzet yang masuk tak sebanding dengan cost pengeluaran.

Suasana Eleven Cafe yang ramai dikunjungi pelanggannya yang sebagian besar dari kalangan kawula muda [Foto : Dok.Pribadi]
Selain itu, faktor lain yang menyebabkan warnet tutup karena begitu banyak kendala dan kekurangan bahkan kecurangan dialaminya sehingga menyebabkan warnet jadi tutup. Bahkan di masa ini, Tommy mengalami jatuh hingga di titik terendah karena peliknya masalah yang dihadapi.

“Saya sempat mengalami krisis kepercayaan pada saat saat itu. Problemnya sangat rumit dan pelik. Tapi ketika setengah tahun berjalan sejak buka warnet, dari modal 5 unit PC, PC bertambah menjadi 10 unit. Artinya tetap ada untung dari bisnis ini meski cuma 1 tahun berjalan”, kenang Tommy.

Baca Juga : 
Biografi Tommy Yusriyadinata atau Akrab Disapa Tommy Eleven
Muda dan Produktif, Tommy Usung Semangat Wirausaha

Jatuh bangun Tommy dalam menjalankan roda bisnisnya tak membuatnya patah semangat. Justru kegagalan demi kegagalan menjadi pelajaran berharga baginya supaya dalam menjalani bisnis ke depannya tidak melakukan kesalahan-kesalahan lagi.

Di 2012, Tommy kembali menjadi reseller. Namun bukan lagi reseller pakaian olahraga melainkan reseller buku-buku terbitan Balai Pustaka. Kesempatan itu dijalani Tommy karena kebetulan sepupunya bekerja di Balai Pustaka Jakarta. Tugas Tommy kala itu menawarkan produk buku Balai Pustaka ke sekolah-sekolah.

“Ada 9 sekolah yang saya tawarkan. Alhamdulillaah ada 1 sekolah yang menerima tawaran kerjasama. Memang tidak ada kendala di usaha ini, tapi saya merasa profit saya kurang dalam pekerjaan ini. Akhirnya saya berhenti”, tutur Tommy.  

Suasana Eleven Cafe yang ramai dikunjungi pelanggannya yang sebagian besar dari kalangan kawula muda [Foto : Dok.Pribadi]
Tak lama kemudian, 2013 Tommy kembali mencoba peruntungan menjadi tenaga honor di kantor pemerintahan. Lagi-lagi tak bertahan lama atau hanya sekitar 3 bulan. Itu karena Tommy merasa pekerjaannya sebagai honorer tidak ada tantangan dan membosankan.

 

“Saya jadi honorer disuruh-suruh fotokopi setiap pagi terus jaga kantor sampai sore. Saya pikir, ini bukan pekerjaan asyik karena tidak ada tantangan dan hanya menunggu menghabiskan waktu tak berguna setiap hari”, kenangnya lagi.

Di 2014, tatkala waktu itu Tommy masih belum menyelesaikan kuliahnya, ia mencoba usaha yang baru dan sama sekali belum ada  pengalaman di bisnis yang barunya itu. Usaha itu adalah warung nasi tapi konsepnya dimodernkan. Ia melihat euphoria masyarakat khususnya kawula muda saat itu hobi nongkrong di warung makan. Membaca peluang itulah, Tommy yang ketika itu dibantu dengan sahabat dan teman mematangkan konsep bisnis barunya dan segera membuka usahanya.

Namun bisnis kali ini benar-benar diseriusi Tommy. Tak tanggung-tanggung, sedikitnya modal awal yang ia keluarkan Rp 20 juta. Bahkan ia rela menjual kendaraannya demi mewujudkan impian bisnisnya.

Suasana Eleven Cafe yang ramai dikunjungi pelanggannya yang sebagian besar dari kalangan kawula muda [Foto : Dok.Pribadi]
Warung makan itu dinamai ‘Cafe Eleven’ yang berdomisili di Penurunan atau tak jauh dari Simpang Lima Kota Bengkulu. Rumah kosong selama 10 tahun yang dipenuhi semak dan ilalang akhirnya mereka sulap jadi tempat tongkrongan kawula muda. Tommy dan sahabatnya pun juga mencoba belajar memanajemen usaha dengan baik sesuai SOP (Standar Operasional Prosedur).

 

“Semua konsep cafe kami pelajari secara otodidak, termasuk menu-menu makan dan minum. Karena masing-masing dari kami tidak ada keahlian khusus. Setelah berjalan, kami jalani SOP meskipun dimulai dengan cara sederhana”, papar Tommy.

SOP yang diterapkan mulai dari planning, branding product, standarisasi menu, penentuan Break Even Point (BEP), strategi promosi dan lainnya. Dari pola ini, Tommy berharap bisa melakukan perubahan sedikit demi sedikit Cafe Elevennya. Di akhir tahun, Tommy dan sahabatnya mengevaluasi usahanya itu dengan menerapkan analisis SWOT. Mengingat, segmen konsumen atau pelanggannya adalah kawula muda yang notabene selalu menginginkan sesuatu hal yang baru, menarik dan unik demi stabilitas pengunjung cafenya.

Setahun berlalu, di 2015 Cafe Eleven mulai merekrut 2 karyawan. Selain itu, Cafe Eleven mulai mengembangkan usaha dengan berbagai komunitas yang ada di Kota Bengkulu dan mengadakan even-even, seperti live music, nonton bareng. Alhasil, dampaknya cukup membuat Tommy dan sahabatnya puas atas kerja keras mereka selama ini. Yang bikin Tommy bahagia lagi, yang mana di tahun ini ia bisa menyelesaikan kuliahnya.

“Sempat beberapa perusahaan mendatangi kami, salah satunya perusahaan terbesar di dunia yaitu Google. Ada juga pihak sponsorship mengajak kerjasama branding. Ada dari perusahaan rokok, perbankan dan otomotif”, terangnya.

2016, Cafe Eleven menambah karyawan menjadi 7 orang. Sejak menggunakan strategi promosi di medsos, alhasil usaha ini sudah memiliki pengikut hingga 12.000 follower di instagram. Dan rata-rata viewers di setiap postingan mencapai 2.000. Di tahun itu juga, Eleven memantapkan style-nya di segmen musik, Eleven Music On menjadi tagline yang melekat hingga kini. Sehingga mindset bagi kawula muda di Kota Bengkulu, Eleven tempat nongkrongnya anak-anak musik di Kota Bengkulu.

Bengkel cucian mobil Eleven Carwash di Sawah Lebar yang belakangan juga dirintis Tommy. [Foto : Dok.Pribadi]
Di Tahun 2017, Tommy mengembangkan usahanya namun dibidang lain, yakni pencucian mobil. Namanya Eleven Carwash yang beralamat di Sawah Lebar. Di bengkel cucian ini Tommy memiliki karyawan 8 orang. Dalam menata bisnisnya di sini, meski sedikit beda dengan manajemen cafe, namun Tommy tetap menerapkan pola strategi promosi yang sama seperti di cafe. Tommy bersyukur hingga kini kedua bisnis yang dilakoninya itu masih berjalan dengan stabil.

 

Di sisi lain, Tommy juga aktif di organisasi sejak di Kampus Universitas Bengkulu. Itu dibuktikan Tommy dengan mengikuti beberapa organisasi kampus, non kampus dan komunitas. Diantaranya, seperti menjadi Pengurus Himpunan Mahasiswa Negara (Hima Admira) Fisip Unib, DPM Unib. Tommy juga sebagai Kader HMI, bahkan Tommy pernah mewakili Unib untuk mengikuti Konferensi Nasional di Universitas Indonesia.

Bengkel cucian mobil Eleven Carwash di Sawah Lebar yang belakangan juga dirintis Tommy. [Foto : Dok.Pribadi]
Baginya, pergaulan dan berorganisasi adalah sebagai modal dasar untuk masuk ke organisasi partai. Kini, Tommy pun telah memantapkan hatinya di Partai Gerindra dengan mengawalinya di Tunas Indonesia Raya (Tidar) sebagai Ketua PC Kota Bengkulu sejak 2016 hingga sekarang. Yang mana Tidar merupakan salah satu organisasi sayap Partai Gerindra yang ditujukan untuk anak muda (berusia 17-35 tahun). Di partai ini juga yang kini telah merestuinya untuk sebagai perahu untuk pencalonannya menuju kursi legislatif pada Pemilihan Legilslatif (Pileg) 2019 mendatang.

 

Tommy berharap kepada seluruh masyarakat Kota Bengkulu khususnya Daerah Pemilihan (Dapil) IV yaitu Kecamatan Ratu Agung dan Ratu Samban dengan Nomor Urut 2 untuk mendukungnya menuju legislatif. Tommy berkeinginan, keberhasilan jalan hidupnya dalam menjadi wirausahawan muda akan ditularkannya kepada masyarakat. Dalam hal ini, Tommy akan berjuang, mendukung usahawan muda dalam mengembangkan bisnisnya. Ini tak lain demi kesejahteraan bersama masyarakat Kota Bengkulu sehingga Kota Bengkulu menjadi kota yang geliat bisnisnya lebih baik dan lebih berkembang.

 

Laporan : Julio Rinaldi

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.