Yayan, Kembaran Yuyun Yang Mondok di Ponpes Bahrul Maghfiroh Malang Kondisinya Memprihatinkan. Benarkah?

2
87
Yayan (tengah) didampingi orangtuanya. (Foto : net)

Laporan : Rahmadi F

Pelepasan Yayan bersama 2 temannya secara simbolis di ruang Wakil Bupati Rejang Lebong, Iqbal Bastari pada Senin 18 Juli 2016 lalu. (Foto : Dokumentasi RedAksiBengkulu)

RedAksiBengkulu.co.id, REJANG LEBONG – Yayan, kembaran korban kasus tragis  asusila, Yuyun, sebagaimana diketahui sedang menjalani pendidikan di Pondok Pesantren (Ponpes) Bahrul Maghfiroh di Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Yayan bersama 2 rekannya Uus dan Restu telah berangkat mondok pada 20 Juli 2016 lalu

Namun, siapa sangka Yayan selama menjalani pendidikan gratis di pondokan mengalami kendala. Kepada RedAksiBengkulu.co.id, Ibunda Yayan, Yana mengungkapkan, sejak Agustus sampai dengan saat ini anaknya belum membayar uang ‘sekolah’ di pondokan tersebut. Sehingga anaknya harus menerima konsekuensi dari pengurus pondok.

Yana menceritakan lagi, bahwa sejak itulah anaknya harus menjalani sanksi yang diberikan oleh pihak pondok. Yayan harus membersihkan toilet, masjid dan makam (TPU) setiap harinya. Padahal Yayan menjalani pendidikan di pondok pesantren itu gratis alias dibiayai penuh oleh pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Sosial (Kemensos) RI .

Mengetahui kondisi anaknya seperti itu, ibu kandung Yayan jelas sangat terpukul. Yana mengaku kecewa dengan sikap dari Kemensos RI yang terkesan tidak memperhatikan anaknya di Pondok Pesantren Bahrul Maghfiroh itu.

“Belum kering air mata saya mengenang kematian anak saya Yuyun, sekarang ditambah lagi dengan permasalahan yang dihadapi Yayan. Kalau tau kondisi anak saya di pondok itu seperti ini, mending tidak usah dari awal. Saya mau anak saya dan kedua temannya itu dipulangkan saja. Saya masih mampu biaya hidup anak saya,” ucap Yana gemetar.

Yana menambahkan, ia selalu kepikiran dengan anaknya di pesantren, bukan persoalan menjalani sanksi yang diberikan pihak pondok. Namun beban sosial dialami anaknya di hadapan teman-temannya di pondokan.

“Yang saya sedih, anak saya itu harus menerima ejekan, celaan, hinaan dari teman-teman se pondok. Walaupun mungkin maksud teman-temannya itu bergurau, tapi anak merasa minder dari ejekan itu. Sampai-sampai anak saya berkelahi demi membela harga dirinya”, sambung Yana lirih.

Yana pun berupaya mendatangi Dinas Sosial Rejang Lebong berkali-kali untuk meminta pihak pendamping sosial anaknya agar ditindaklanjuti akan tetapi hingga saat ini belum ada hasil yang didapatkan Yana. Hingga akhirnya Yana mencoba untuk meminta bantuan kepada Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Sekretariat Cabang Rejang Lebong.

Ditemui RedAksiBengkulu.co.id, Ketua KPI Sekretariat Cabang Rejang Lebong, Teti Sundari mengatakan, ibunda Yayan sudah membicarakan hal tersebut kepadanya. Teti pun mengaku siap mendampingi permasalahan tersebut.

“Kalau dari cerita Ibu Yana, sangat miris dengan apa yang dialami Yayan. Jelas ini tidak bisa dibiarkan begitu saja karena menyangkut masalah pendidikan anak tersebut. Dan dari permasalahan ini saya nilai ada indikasi penelantaran anak secara tidak langsung”, ujar Teti.

Secara kejiwaan, sambung Teti, baik anak (Yayan) maupun orang tua (Yana dan Yakin , suaminya) mengalami depresi mendalam. Mengingat beban hidup yang dirasakan Yana dan keluarga sangatlah berat. Kematian anak perempuan mereka belum lepas dari ingatan namun sekarang dihadapkan lagi dengan persoalan anak lelakinya yang terindikasi ditelantarkan”, sambung Teti.

Sekedar mengingatkan, keberangkatan Yayan dan 2 rekannya ke Pondok Pesantren (Ponpes) Bahrul Maghfiroh di Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur dilepas langsung oleh Wakil Bupati Rejang Lebong, Iqbal Bastari di ruang kerjanya, Senin (18/7/2016) lalu. Disekolahkannya Yayan ini adalah tindaklanjut dari Menteri Sosial (Mensos) RI, Khofifah Indar Parawansa untuk menyekolahkan kembaran Yuyun ke pondok pesantren saat berkunjung ke rumahnya, sekitar 2 bulan sebelum keberangkatan.

Comments

comments

2 KOMENTAR

  1. Pembohongan publik ini namnya, media hanya menjadi ulat konsumsi rakyat, tidak pernah melihat dengan baik kondisi yang sebenarnya…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.