2017, Pemda Kepahiang Seriusi Wacana Ekowisata Puspa Langka Bunga Bangkai dan Rafflesia

0
503
Holidin, Penangkar puspa langka berfoto bersama Amorphophallus Mueleri. (Foto : Mongabay/net)

Laporan : Hendra Afriyanto

RedAksiBengkulu.co.id, KEPAHIANG – Wacananya, lokasi penangkaran Puspa Langka Bunga Bangkai Raksasa (Amorphophallus) milik Holidin yang ada di Desa Tebet Monok Kecamatan Kepahiang Kabupaten Kepahiang Provinsi Bengkulu, akan dijadikan kawasan ekowisata. Bupati Kepahiang, Hidayatullah Sjahid pun sudah membahasnya dengan Badan Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Provinsi Bengkulu. Hanya saja belum ditindaklanjuti lebih jauh.

“Wacana ekowisata puspa langka itu sudah kami bangun komunikasi dengan BKSDA. Namun itu baru tahap awal, sebab butuh kajian terlebih dahulu. Dan BKSDA dianggap paling berperan soal itu, mengingat lokasi milik Holidin adalah daerah konservasi alam”, ujar Hidayatullah kepada RedAksiBengkulu.co.id.

Disinggung mengenai kapan kesiapan Pemda Kepahiang akan menindaklanjuti wacana pengelolaan kawasan ekowisata itu, bupati menjawab di 2017 kelak.

“Kita targetkan seluruh lokasi wisata di Kepahiang akan terprogram dan berjalan. Mengingat wisata merupakan salah satu program pemerintah yang mesti ditonjolkan. Termasuk wacana ekowisata akan digarap”, sambung bupati.

 

Baca Juga : Meski Belum ‘Disentuh’ Pemerintah Daerah, Si Penangkar Puspa Langka Ini Dapat Apresiasi dari PLN

 

Dilansir Mongabay.co.id, Peneliti Rafflesia dan Amorphophallus dari Universitas Bengkulu Agus Susatya menuturkan, strategi pengembangan ekowisata berbasis masyarakat dengan pola kemitraan multipihak harus dilakukan dengan pemahaman bahwa masyarakat merupakan bagian dari solusi.

“Intinya, pemberdayaan masyarakat dengan ekowisata. Dalam pelaksanaannya, harus melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, LSM, dan sektor swasta. Tanpa dukungan dan keterlibatan berbagai pihak, upaya konservasi ini akan sulit dilakukan,” ujar Agus.

Sedangkan menurut Ketua Forum Komunikasi Riset dan Pengembangan Rafflesia dan Amorphophallus, Sofi Mursidawati menuturkan, Indonesia bisa belajar dari Malaysia dan Filipina yang lebih dahulu menjadikan ekowisata Rafflesia sebagai wisata unggulan. Untuk Amorphophallus, Indonesia bisa melihat ke sejumlah negara di Eropa seperti Jerman, Belanda dan Inggris yang mampu menarik wisatawan melalui pelestarian bunga ini.

“Belum lama ini Amorphophallus Titanum asal Sumatera di Kebun Raya Inggris berkembang. Informasi yang saya peroleh, sekitar 30 – 40 ribu orang datang untuk melihatnya. Artinya, upaya konservasi Rafflesia Arnoldi dan Amorphophallus Titanum yang merupakan puspa endemik Sumatera (Indonesia) dengan skema ekowisata bermanfaat secara ekonomi bagi masyarakat, pemerintah daerah, dan negara,” kata Sofi sekaligus peneliti LIPI.

 

Baca Juga : Pria Ini Menangkar Bunga Bangkai Raksasa Sudah Nyaris 20 Tahun, Sayangnya Pemerintah Daerah…

 

Di sisi lain, Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya – LIPI, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Pemda Provinsi Bengkulu, dan Dewan Riset Daerah Bengkulu telah menyusun Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Rafflesia Arnoldii dan Amorphophallus Titanum 2015 – 2025. Pendeklarasiannya dilakukan pada International Symposium on Indonesian Giant FlowersRafflesia and Amorphophallus, 14-16 September 2015 lalu di Bengkulu.

Dalam dokumen SRAK disebutkan, pengembangan ekowisata berbasis masyarakat dengan pola kemitraan multipihak digunakan sebagai strategi konservasi. Langkah ini dibangun dengan memperhatikan kondisi habitat, populasi, ancaman kepunahan, dan hasil analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats).

Rafflesia Arnoldi misalnya. Kondisi habitatnya saat ini mengalami penurunan kualitas karena habitatnya yang terdesak. Populasinya saat ini rendah dikarenakan lingkungan spesifik untuknya tumbuh dan berkembang biak sudah terganggu. Faktor lainnya, rusaknya pohon inang, gangguan jamur, dan cuaca terlalu basah merupakan ancaman langsung yang akan merusak bunga yang mengakibatkan hilangnya kesempatan regenerasi.

Untuk Amorphophallus Titanum (Suweg Raksasa), kondisi habitatnya juga mengalami penurunan akibat aktivitas manusia, seperti melakukan alih fungsi lahan. Sedangkan ancaman kepunahannya adalah kebakaran hutan, penggunaan herbisida di kebun masyarakat, penjualan umbi ilegal ke luar negeri dan perburuan burung rangkong yang merupakan satwa pendistribusi biji Amorphophallus Titanum.

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.