Air Terjun Batu Betiang, Warisan Dunia Yang Tersembunyi  Di Hutan Rejang Lebong

Laporan : Aji Asmuni

RedAksiBengkulu.co.id, REJANG LEBONG – Di hutan sebelah Utara Barat Laut (UBL) Kabupaten Rejang Lebong mengarah ke Kabupaten Lebong Provinsi Bengkulu, ada warisan dunia yang sangat mengagumkan dan belum tereksplor. Lokasi persisnya berada di hutan kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Warisan dunia itu adalah Air Terjun Batu Betiang.

Dinamakan Batu Betiang karena nuansa alam di sekitar air terjun itu kiri kanannya ‘dipagari’ bebatuan menyerupai tiang balok raksasa yang tersusun rapi. Sedang bebatuan di aliran sungai di area Air Terjun Batu Betiang itu menyerupai dadu dan persegi panjang. Tekstur permukaan batu itu tidak seperti batu pada umumnya tidak beraturan, namun rata dan rapi.

Ketinggian Air Terjun Batu Betiang tidak begitu tinggi, kurang lebih 2,5 – 3 meter. Namun tinggi dinding batu di sisi kanan diperkirakan lebih dari 10 meter. Penglihatan mata, dinding itu terbentuk dari batu-batu persegi panjang yang disusun ke atas nan rapi. Sedang di sisi kiri, bebatuannya tidak menjulang tinggi namun berbentuk undak-undakan. Di sisi kiri Air Terjun Batu Betiang itu juga sedikit gelap karena sepertinya tidak terkena cahaya matahari.

Akses masuk pengunjung dari Dusun Merasi Desa Babakan Baru Kecamatan Bermani Ulu Raya (BUR) Kabupaten Rejang Lebong. Nah, bagi pengunjung pertama kali pergi ke Air Terjun Batu Betiang, perjalanan dari Kota Curup butuh waktu sekitar 2,5 – 3 jam.

Berkendara dari Kota Curup menuju Dusun Merasi Desa Babakan Baru, butuh waktu sekitar 25 – 30 menit. Sesampainya di dusun, kendaraan di parkir. Untuk menuju lokasi Air Terjun Batu Betiang, dilanjutkan berjalan kaki sekitar 2 jam.

Aliran sungai dari Air Terjun Batu Betiang. (Foto : Aji Asmuni/RedAksiBengkulu)

Pengalaman RedAksiBengkulu.co.id ketika mengunjungi Air Terjun Batu Betiang, dari dusun, pengunjung akan memasuki kawasan persawahan atau ladang warga. Dari bentangan sawah itu terlihat jelas di depan mata, bukit dan hutan yang akan dilalui. Selama perjalanan menuju lokasi Air Terjun Batu Betiang, lebih didominasi dataran. Namun pastinya tetap ada beberapa tanjakan atau pendakian yang cukup membuat lelah.

Akses jalannya pun sudah terbuka dari dusun hingga lokasi Air Terjun Batu Betiang. Maksudnya, jalan setapak membelah rimba sangat jelas. Setengah perjalanan, pengunjung akan menemui aliran Sungai Sulup namanya, yang hulu airnya dari Air Terjun Batu Betiang tersebut.

Arusnya cukup deras dan tentunya air bening dan dingin. Bebatuan besar dan sedang juga menghiasi aliran sungai. Sudah terbayang kan betapa segarnya jikalau kita mandi di sungai atau Air Terjun Batu Betiang tersebut ?

 

Konon, Nama Batu Betiang Ada Kaitannya dengan Legenda Si Pahit Lidah

Dinding air terjun terbentuk dari batu-batu persegi panjang yang disusun ke atas nan rapi. (Foto : Aji Asmuni/RedAksiBengkulu)

Diceritakan Sri, warga Desa Babakan Baru, dari pengetahuan yang ia ketahui tentang asal mula nama Batu Betiang itu dari cerita tetua di desanya. Dituturkannya, dinamakan Batu Betiang, dahulu ada penduduk pribumi yang berkebun di hutan tersebut. Sebut saja profesi dari sosok dalam legenda Air Terjun Batu Betiang itu sebagai petani. Sayang, Sri tidak mengetahui nama dari sosok dalam legenda Si Pahit Lidah tersebut.

Disebut-sebut, sosok dalam legenda Si Pahit Lidah itu terkenal sangat gigih bekerja. Saking gigihnya, sosok itu sangat betah di ladang dan jarang pulang ke dusunnya. Hingga suatu hari sosok itu menurut ceritanya sedang ingin mendirikan sebuah bangunan. Hanya saja, ada 2 versi yang beredar apa yang sedang dibangun di Air Terjun Batu Betiang kala itu.

Versi pertama, ada yang menyebutkan jika sosok petani itu ingin membangun tiang penggerak kincir air untuk mesin penumbuk padi. Versi lainnya ada yang menyebutkan, sedang membuat tiang untuk membendung sungai.

Suatu ketika, datang warga lain dari dusunnya mendekati sosok petani yang sedang bekerja itu menegur untuk mengajaknya pulang ke dusun, namun ia tidak menggubris. Warga pun tidak kepanjangan akal untuk mengajaknya pulang ke dusun dengan mengucapkan ‘pulanglah, anak kau mati’.

“Padahal anaknya belum mati dan maksud hati warga tersebut hanya bergurau supaya petani itu pulang ke dusun,” cerita Sri yang sudah puluhan tahun berkebun di dekat Air Terjun Batu Betiang.

Batu-batu menyerupai dadu dan persegi panjang. (Foto : Aji Asmuni/RedAksiBengkulu)

Mendengar kalimat itu, sosok petani itu terkejut hingga ia kembali mengucapkan kembali kalimat tersebut. ‘Apa! anak aku mati?’. Ia pun bergegas pulang ke dusun. Namun sesampainya di dusun, anaknya yang tadinya masih sehat wal ‘afiat, jadi mati.

“Mungkin itulah dia (sosok petani) disebut-sebut si Pahit Lidah. Karena apa yang diucapkannya benar-benar terjadi,” ujar Sri yang tinggal di Simpang Desa Babakan Baru itu.

Sekilas, begitulah legenda Air Terjun Batu Betiang. Pun demikian, belum ada bukti nyata apakah batu menyerupai balok-balok besar tersusun rapi yang menjadi dinding Air Terjun Batu Betiang itu peralihan wujud dari kayu? Atau, memang karakter batu tersebut sudah tercipta sejak bumi ini ada?

Comments

comments

Facebooktwittermail

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *