Pria Ini Menangkar Bunga Bangkai Raksasa Sudah Nyaris 20 Tahun, Sayangnya Pemerintah Daerah…

0
117
Penangkar puspa langka, Holidin, berfoto dengan Amorphophallus tangkarannya. (Foto : mongabay/net)

Laporan : Hendra Afriyanto

RedAksiBengkulu.co.id, KEPAHIANG – Holidin, adalah Penangkar puspa langka yang berdomisili di Desa Tebat Monok Kecamatan Kepahiang Kabupaten Kepahiang Provinsi Bengkulu. Sudah nyaris 20 tahun ia menggeluti hobi hingga akhirnya ia putuskan untuk melestarikannya dengan cara menangkar puspa langka Bunga Bangkai (Amorphophallus) atau Suweg, Porang tersebut.

Hanya saja, selama itu pula ia berdiri sendiri tanpa ada campur tangan pemerintah. Pasalnya, ketika ditemui RedAksiBengkulu.co.id, dengan menanyakan, apakah selama ini ada perhatian dari pemerintah daerah (pemda), dalam hal ini Pemda Kepahiang ataupun Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bengkulu, Holidin mengaku kewalahan menjawabnya.

Dikatakannya, sudah banyak awak pers yang mendatangi ia dengan perihal sama. Baik itu awak pers lokal bahkan jurnalis media nasional. Hanya saja, ia menjawab seadanya agar tidak ingin ketersinggungan pihak pemerintah daerah.

“Pertanyaan itu selalu ditanya pengunjung. Baik itu pengunjung umum maupun para wartawan. Sekarang, anda (jurnalis RedAksiBengkulu.co.id) yang bertanya. Semua bertanya peran serta pemerintah, ya saya jawab apa adanya saja”, ujar Holidin.

Holidin menjelaskan, 2015 lalu ia pernah mengajukan proposal ke pemerintah daerah untuk mengikuti Simposium Internasional Puspa Langka yang digelar di Bengkulu. Namun proposal yang diajukan Holidin ditolak dan dianggap tidak masuk akal.

“Untuk mengikuti simposium itu, saya mengajukan proposal ke Pemda Kepahiang. Kebetulan R.A Denny yang menjabat Kepala Dispenda Kepahiang waktu itu sudah saya temui. Tapi proposal saya ditolak karena dianggap tidak masuk akal”, kenangnya.

Pun demikian pasrah lantaran belum adanya perhatian pemda, namun pria yang lebih dari separuh umurnya ia abdikan untuk puspa langka itu tak semata-mata menyalahkan pemerintah. Bahkan ia pun tak patah arang untuk terus menekuni dan menangkar Amorphophallus sebanyak 5 jenis Amorphophallus yang ditangkarnya. Yakni Amorphophallus Titanum, Amorphophallus Gigas, Amorphophallus Paeonifolius, Amorphophallus Muelleri dan Amorphophallus Variabilis.

“Saya memang kesannya sudah pasrah saja. Tapi niat baik saya melestarikan puspa langka ini akan terus saya pertahankan,” tutup Holidin. 

Dilansir mongabay.co.id, Holidin yang hanya mengenyam pendidikan SMA dan tidak berlatarbelakang pendidikan botani atau konservasi, lelaki ini mampu menangkar 5 jenis Amorphophallus di kebunnya. Keberhasilannya turut banyak mengundang apresiasi dari berbagai kalangan. Tak heran bila sekarang banyak wisatawan dan peneliti dari dalam dan luar negeri mengunjungi kebun si penjaga sekolah ini sekedar untuk mendengar pengalamannya.

Mula-mula Holidin menangkar Amorphophallus setelah melihat gambar Amorphophallus Titanum atau Bunga Bangkai Raksasa pada uang kertas Rp 500 tahun 1982. Dalam kesederhanaan berpikirnya, Holidin merasa ‘ada sesuatu’ sehingga bunga dalam gambar tersebut perlu dicetak diatas lembaran uang kertas negara. Ia pun mulai belajar menangkarkan Amorphophallus sejak 1998.

Di waktu itu, pula sejak ia terpesona melihat batang dan bunga tanaman tersebut bermekar indah meski berbau kurang sedap tersebut, awal perjuangannya selalu saja ada kendala. Semisal, setiap Amorphophallus Titanum  mekar ada saja orang yang merusaknya.

Holidin pun meminta izin kepada pemilik kebun untuk memindahkan umbi bunga Amorphophallus dan jika mekar agar tidak diganggu-ganggu. Dan untuk memindahkan umbi sebesar 80 kilogram tersebut, ia dibantu 6 orang untuk mengangkutnya dengan karung dan tandu sejauh jarak 500 meter. Evakuasi umbi kala itu, butuh 6 jam agar tidak tergores atau lecet.

Setelah berulangkali proses terjadi, untuk pertamakalinya dalam 5 tahun Amorphophallus yang ditangkarnya mekar pada tahun 2003. Dan untuk saat ini, jenis Amorphophallus Titanum sendiri menyisakan sekitar 50 umbi karena banyak diserang Babi Hutan. Sedang Amorphophallus Gigas sekitar 10 umbi. , Amorphophallus Paeonifolius 3 umbi, Amorphophallus Muelleri 15 umbi dan Amorphophallus Variabilis sekitar 30 umbi.

Jenis Amorphophallus adalah tumbuhan yang termasuk dalam marga talas-talasan (Araceae), dengan bentuk umbil bulat, bulat gepeng hingga silindris memanjang. Jenis Amorphophallus di seluruh dunia diperkirakan sekitar 200 dan 25 diantaranya ada di Indonesia dengan 18 diantaranya endemik. Amorphophallus tersebar di Sumatera, Jawa, Kalimantan hingga Sulawesi.

Tumbuhan ini memiliki fase generatif dan vegetatif secara bergantian. Pada fase vegetatif hanya tumbuh batang daun, pada fase generatif dikenal dengan tumbuhnya bunga. Apabila mengalami penyerbukan bunga akan berubah menjadi buah.

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.