TWA Bukit Kaba Jadi Habitat Baru Puspa Langka Dilindungi

0
93
Rafflesia Arnoldii yang tumbuh di kawasan TWA Bukit Kaba. [Foto : Muhamad Antoni/RedAksiBengkulu]

RedAksiBengkulu.co.id, REJANG LEBONG – Temuan bunga Rafflesia Arnoldi di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Bukit Kaba di Kecamatan Selupu Rejang Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu jadi habitat dan potensi baru dari keberadaan bunga tersebut. (Baca : Lebih Dari 20 Tahun ‘Hilang’, Bunga Langka Ini Kembali Mekar di TWA Bukit Kaba)

Agus Susatya, salah seorang pakar Rafflesia di Bengkulu mengatakan, potensi Bunga Rafflesia sendiri khususnya di Rejang Lebong terdapat di kawasan wisata Suban Air Panas di Kecamatan Selupu Rejang dan di kawasan hutan aliran Sungai Musi di Kecamatan Curup Utara. Menurut dia, Rafflesia yang ditemukan di kawasan TWA Bukit Kaba merupakan habitat baru.

“Kalau jenisnya yang di TWA Bukit Kaba itu Rafflesia Arnoldii. Selama penelitian saya, memang wilayah itu belum pernah ditemukan Rafflesia. Terakhir, 2010 lalu di kawasan wisata alam, Suban Air Panas,” kata Agus kepada RedAksiBengkulu.co.id, Jumat (6/4/2018).

Agus yang juga selaku Dosen Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu menjelaskan, penyebaran Rafflesia di Provinsi Bengkulu hampir merata di setiap kabupaten. Yang paling sering mekar di Kabupaten Bengkulu Tengah (Benteng), Seluma dan Kaur.

Baca Juga : Bunga Rafflesia Ternyata Juga Mekar di Desa Ini Untuk Pertama Kalinya

Ditambahkannya, di Kabupaten Rejang Lebong jenisnya lebih banyak Arnoldii dan tidak menutup kemungkinan jenis lainnya juga akan tumbuh di wilayah itu. Sedang di Kabupaten Lebong, ada dua jenis spesies Rafflesia, yakni Arnoldi dan Hasseltii.

“Kalau di Kabupaten Kaur, jenis Arnoldi dan Bengkuluensis. Di Bengkulu Tengah, Arnoldi dan Gadutensis,” tambah dia.

Lebih lanjut diterangkannya, dari hasil penelitiannya dan kawan-kawan terhadap bunga terbesar di dunia itu, di Provinsi Bengkulu terdapat 5 jenis Rafflesia. Yakni Rafflesia Bengkuluensis, Arnoldii, Hasseltii, Gadutensis dan baru-baru ini ditemukan jenis baru yang telah masuk dalam urutan 15 di Indonesia, yaitu Rafflesia Kemumu. Rafflesia Kemumu sudah dipublikasikan dalam Jurnal Phytotaxa, edisi 27 Oktober 2017.

“Harus ada sosialisasi dan edukasi pada penduduk lokal agar habitat Rafflesia terjaga dan bisa tumbuh terus di wilayah itu. Termasuk peran BKSDA dalam menjaga habitat baru tersebut,” kata Agus.

 

Tentang Rafflesia

Dikutip dari wwf.or.id, Rafflesia Arnoldi atau Padma raksasa merupakan tumbuhan parasit obligat yang tumbuh pada batang liana (tumbuhan merambat) dari genus Tetrastigma. Spesies Rafflesia yang lainnya juga memiliki inang yang sama. Rafflesia Arnoldi pertama kali ditemukan pada 1818 di hutan tropis Sumatera oleh seorang pemandu yang bekerja pada Dr. Joseph Arnold yang sedang mengikuti ekspedisi Thomas Stanford Raffles. Sehingga tumbuhan ini diberi nama sesuai sejarah penemunya yakni penggabungan antara Raffles dan Arnold.

Rafflesia Arnoldi tidak memiliki daun sehingga tidak mampu melakukan fotosintesis sendiri dan mengambil nutrisi dari pohon inangnya. Bentuk yang terlihat dari bunga Rafflesia ini hanya bunganya yang berkembang dalam kurun waktu tertentu. Keberadaannya seakan tersembunyi selama berbulan-bulan di dalam tubuh inangnya hingga akhirnya tumbuh bunga yang hanya mekar seminggu.

Rafflesia merupakan identitas Provinsi Bengkulu dan sebagai salah satu puspa langka dari tiga bunga nasional Indonesia mendampingi Puspa Bangsa, Melati Putih (Jasminum Sambac) dan Puspa Pesona, Anggrek Bulan (Phalaenopsis Amabilis) berdasarkan Kepres Nomor 4 Tahun 1993 tentang Satwa dan Bunga Nasional.

 

Deskripsi Morfologis

Rafflesia Arnoldi memiliki bunga yang melebar dengan 5 mahkota bunga. Bunga menjadi satu-satunya bagian tumbuhan yang terlihat dari Rafflesia Arnoldii, karena tidak adanya akar, daun dan batang. Satu bunga terdiri dari 5 kelopak kasar yang berwarna oranye dan berbintik-bintik dengan krim berwarna putih. Pada saat bunga mekar, diameternya dapat mencapai 70 hingga 110 cm dengan tinggi mencapai 50 cm dan berat hingga 11 kg.

Rafflesia Arnoldi memiliki organ reproduksi, yaitu benang sari dan putik dalam satu rumah yang terdapat di bagian tengah dasar bunga yang berbentuk melengkung seperti gentong. Proses penyerbukan pada bunga ini dibantu oleh serangga yang tertarik pada bau bunga yang menyengat. Kuncup-kuncup bunga terbentuk di sepanjang sela-sela batang dengan masa pertumbuhan bunga dapat memakan waktu sampai 9 bulan dan masa mekar sekitar 5-7 hari, kemudian Rafflesia akan layu dan mati.

 

Ekologi dan Habitat

Persebaran dan habitat Rafflesia tersebar di hutan pegunungan bawah Jawa Barat, hutan dataran rendah di sepanjang Pantai Selatan Jawa Barat dan Jawa Tengah hutan dataran rendah Taman Nasional Meru Betiri, serta hutan tropis di Pulau Sumatera.

Beberapa lokasi yang sering ditemui tumbuh Rafflesia Arnoldi antara lain di Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), Pusat Pelatihan Gajah Seblat di Kabupaten Bengkulu Utara dan di Padang Guci Kabupaten Kaur Provinsi Bengkulu. TNBBS sendiri telah ditetapkan sebagai pusat konservasi tumbuhan ini. Hingga saat ini Rafflesia belum berhasil dikembangbiakkan di luar habitat aslinya.

Dari sekitar 30 jenis Rafflesia di seluruh dunia, hanya satu spesies yang dianggap terancam punah, yakni Rafflesia Magnifica yang tumbuh di Filipina. Salah satu jenis Rafflesia yang sudah bisa tumbuh di luar habitatnya adalah Rafflesia Padma.

Laporan : Muhamad Antoni

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here