Perempuan PKNI Bengkulu Suarakan Dekriminalisasi Terhadap Korban Napza

0
135

Momentum Hari Perempuan Sedunia, Perempuan PKNI Bengkulu menggelar aksi di depan Istana Merdeka, Jakarta. Kamis (8/3/2018). [Foto : ist]
RedAksiBengkulu.co.id, JAKARTA – Kamis (8/3/2018) diperingati International Women’s Day (IWD) atau Hari Perempuan Sedunia. Pada momentum itu, para perempuan yang tergabung dalam Persaudaraan Korban Napza Indonesia (PKNI) – Bengkulu menggelar aksi di depan Istana Merdeka, Jakarta.

Koordinator Wilayah PPKN-Bengkulu, Pevi Dahlia, meneriakkan beberapa tuntutan mengingat selama ini perempuan kor­ban Napza mengalami banyak bentuk diskriminasi dari banyak pihak. Tuntutan tersebut diantaranya, minta dihapuskan stig­ma dan diskriminasi terhadap perempuan korban Napza. Kemudian pemerintah dituntut penuhi hak kesehatan bagi perempuan korban Napza sampai di dalam lapas. Bangun dukungan psiko­sosial bagi perempuan korban Napza.

Selanjutnya, menuntut pelibatan perempuan korban Napza dalam menyusun kebijakan hukum dan rehabili­tasi. Hapuskan pasal karet Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dan R KUHP. Lalu, praktikkan dekriminal­isasi korban Napza dalam sistem peradilan pidana dan hapuskan kekerasan terhadap perempuan korban Napza dari negara dan masyarakat. Tuntutan tersebut disusun karena dari pengalaman perem­puan korban Napza.

“Kebijakan UU tentang Narkotika dinilai belum berpihak kepada perempuan pengguna Napza. Kami menginginkan hapus stigma ganda dan diskriminasi terhadap hak-hak kesehatan perempuan korban Napza”, kata Pevi.

Di rezim Jokowi-JK ini, lanjutnya, mereka meminta untuk segera melakukan dekriminalisasi di Indonesia. Serta berharap Jokowi-JK melihat isu atau permasalahan ini dengan perspektif yang lebih luas. Pemangku kebijakan dimohonkan juga untuk memutuskan, bahwa penjara bukan solusi bagi pengguna dan pecandu Napza di Indonesia.

Perem­puan korban Napza juga masih sering mendapati pelecehan dan kekerasan yang dilakukan oleh oknum aparat. Diantaranya kekerasan secara ver­bal seperti dihina, dicaci-maki bahkan ada yang dilecehkan secara fisik seperti dipukul, ditendang dan ditampar. Tidak sedikit juga mereka mengalami pelecehan secara seksual oleh aparat khususnya dalam proses penangka­pan.

“Pelecehan atau kekerasan yang dialami perempuan pengguna Napza oleh oknum aparat penegak hukum juga masih sering terjadi”, sambungnya.

Untuk diketahui, International Women’s Right Action Watch (IWRAW) Asia Pasifik adalah sebuah organisasi yang bekerjasama dengan 140 negara di dunia selama 22 tahun terakhir dalam upaya merealisasikan kesetaraan hak-hak perempuan di tingkat internasional. Sedang keterlibatan perempuan Persaudaraan Korban Napza Indonesia (PKNI) adalah, yang mana PKNI memiliki anggota kelompok simpul dan vocal point di 20 provinsi. PKNI bekerjasama dengan IWRAW Asia Pasific dan bekerjasama dengan Eurasian Harm Reduction Network (EHRN) di Vilnius, Lithuania.[Rilis]

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.