Astaghfirullaah Sudah Sekitar 20 Tahun Tinggal Di Gubuk Reot Baru Tadi Dibantu Dinsos




ASTAGHFIRULLAAH !! Sudah Sekitar 20 Tahun Tinggal di Gubuk Reot, Baru Tadi Dibantu Dinsos

Aji Warni yang kondisinya kini mengalami kebutaan tinggal di gubuk di tepi jurang. (Foto : ist)

RedAksiBengkulu.co.id, KEPAHIANG – Di Dusun 8 Desa Daspetah 1 Kecamatan Ujan Mas Kabupaten Kepahiang Provinsi Bengkulu, tinggal kakek dan nenek di sebuah gubuk darurat ukuran 2 x 3 meter. Sang kakek bernama Aji Warni sedang sang nenek bernama Ambar.

Usia mereka diperkirakan lebih dari 60 tahun. Mereka juga tidak punya anak. Sang kakek berasal dari Kabupaten Musi Rawas. Sedang istrinya berasal dari Kepahiang. Keduanya tidak mampu berbuat apa-apa dan untuk bertahan hidup mereka hanya mengandalkan pemberian makanan dari orang-orang terdekat dari gubuk mereka.

Mirisnya, ternyata sepasang kekasih yang sudah uzur itu sudah menempati gubuk reot yang terbuat dari triplek, papan, bambu serta seng bekas itu sudah sekitar 20 tahun di lahan-lahan kebun milik warga. Yang membuat sedih lagi, sang kakek kini kondisinya mengalami kebutaan, sedang sang nenek mengalami gangguan kejiwaan.

“Setahu aku sudah sekitar 20 tahun mereka hidup begini. Mereka memang berpindah-pindah tinggal di Daspetah ini. Baru tadi ada bantuan dari Dinas Sosial Kepahiang datang kasih bantuan karpet, selimut dan sembako”, kata warga setempat, Edi Susanto.

Lahan yang dibangun gubuk kakek dan nenek itu kini milik H Rafit. Edi mengaku prihatin dan iba karena posisi bangunan gubuk di bawah pohon Kayu Surian itu persis di bibir jurang.

“Paling jarak gubuk sama jurang itu sekitar 2 meter lagi. Pernah waktu itu hujan deras, dahan pohon patah. Untung tidak menimpa gubuk itu”, sambung Edi.

Terpisah, ketika dikonfirmasi RedAksiBengkulu.co.id, Kepala Desa Daspetah 1 Hendar Husin membenarkan jika kakek dan nenek itu berdomisili di desanya.

“Dia Memang sudah lama mereka tinggal di sini. Tapi tidak jelas laporanya ke desa. KTP (Kartu Tanda Penduduk), KK (Kartu Keluarga) tidak ada, buku nikah juga tidak ada. Jadi kami tidak bisa berbuat apa apa”, kata Hendar ketika ditelepon.

Hendar mengakui selama ia menjabat kades selama 4 tahun ini belum pernah sama sekali mengusulkan bantuan untuk kakek dan nenek tersebut dengan alasan buku jiwa mereka tidak ada.

“Kami sudah lakukan pendataan masyarakat miskin. Tapi khusus kakek dan nenek itu memang tidak dimasukkan karena mereka tidak ada KK atau lainnya”, demikian Hendar.

 

 

 

 

 

 

Laporan : Hendra Afriyanto

Editor : Aji Asmuni

Facebooktwittermail




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *