Bukan Bali! Ini Dia Mesin Ekonomi Baru Indonesia!

Author Image

Hadi Wibawa

14 Juni 2026, 23:25 WIB

Redaksibengkulu.co.id – Ketua Fraksi PKS MPR RI, Tifatul Sembiring, melontarkan kritik terhadap dominasi fokus pemerintah pada pengembangan ekonomi di Kawasan Selatan, khususnya Bali. Menurutnya, potensi ekonomi luar biasa yang tersembunyi di wilayah Utara Indonesia, meliputi sektor pariwisata, perdagangan, dan jasa, belum tergarap optimal. Sebagai respons, Tifatul mengusulkan sebuah strategi baru yang disebutnya "Ekonomi Utara", sebuah konsep yang diharapkan dapat menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi bangsa.

Gagasan ini disampaikan Tifatul dalam Lokakarya Akademik Fraksi PKS MPR RI Tahun 2026 yang berlangsung di Batam, Kepulauan Riau, pada Sabtu (13/6/2026). Acara tersebut secara spesifik mengupas potensi ekonomi Karimun, Kepulauan Riau. Tifatul menyebut sejumlah wilayah yang berpotensi menjadi pilar utama "Ekonomi Utara", di antaranya Aceh, Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Maluku Utara, hingga Papua. Ia menyoroti posisi strategis wilayah-wilayah ini yang berhadapan langsung dengan negara-negara berpenduduk lebih dari 3 miliar jiwa, sebuah pasar raksasa yang belum dimanfaatkan maksimal.

Bukan Bali! Ini Dia Mesin Ekonomi Baru Indonesia!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Salah satu titik krusial yang disoroti adalah Karimun, Kepulauan Riau, yang memiliki keunggulan geografis luar biasa karena kedekatannya dengan Selat Malaka. Jalur pelayaran ini merupakan salah satu yang tersibuk di dunia, di mana lebih dari 95% kapal yang melintasi Samudra Pasifik ke Atlantik atau sebaliknya melewati koridor vital tersebut. Tifatul menyoroti bagaimana Singapura, meskipun memiliki wilayah yang kecil, berhasil meraup keuntungan berlipat ganda dari Selat Malaka.

"Di sini ada Selat Malaka yang sangat strategis. Selama ini Singapura yang mengambil keuntungan lebih banyak dari kapal-kapal yang lewat," jelas Tifatul dalam keterangan tertulisnya pada Minggu (14/6/2026). Ia membandingkan arus peti kemas Singapura yang mencapai 41,12 juta TEU pada tahun 2024, bahkan naik menjadi 65 juta TEU setelah penutupan Selat Hormuz, dengan Pelabuhan Batu Ampar di Batam yang hanya sekitar 797 ribu TEU setahun. "Mereka berlipat-lipat. Padahal Singapura negaranya kecil, tetapi bisa memanfaatkan jalur strategis ini," imbuhnya, menunjukkan kesenjangan pemanfaatan potensi.

Tifatul meyakini, apabila konektivitas transportasi di wilayah Utara Indonesia dibangun secara optimal, minat masyarakat dan wisatawan untuk berkunjung akan meningkat drastis. Terlebih, daerah-daerah di Utara Indonesia juga dianugerahi keindahan alam yang tak kalah memukau dari Bali. "Kalau koneksi transportasinya bagus, tentu orang akan berbondong-bondong datang. Dari sisi keindahan alam, daerah-daerah Utara tidak kalah cantik. Ada Danau Toba, ada Sabang, pantai-pantai di Aceh seperti Lhoknga, Danau Singkarak, Danau Maninjau, Bunaken, Raja Ampat, dan Maluku Utara," paparnya.

Pengembangan Karimun, menurut Tifatul, harus diarahkan pada sektor yang mampu memberikan dampak ekonomi cepat, khususnya pariwisata. Ia mencontohkan, devisa pariwisata Indonesia pada tahun 2024 baru mencapai sekitar Rp 64 triliun, angka yang sangat jauh dibandingkan Malaysia yang telah menembus Rp 406 triliun. Angka ini, katanya, menunjukkan bahwa pariwisata adalah sektor strategis yang perlu digarap serius karena mampu menghadirkan perputaran uang secara langsung melalui belanja wisatawan.

"Fokuslah pada sektor yang bisa cepat meningkatkan ekonomi Karimun, terutama pariwisata, kuliner, hotel, hiburan, transportasi, dan konektivitas. Di mana banyak orang datang, di situ ada uang yang berputar. Karimun harus punya sesuatu yang bisa dipasarkan secara digital, punya kuliner khas, kawasan menarik, desa wisata, yang bisa dipasarkan," tegas Tifatul.

Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad, menyambut baik dan mengamini gagasan Tifatul Sembiring. Ia menegaskan bahwa Kepri memiliki posisi yang sangat strategis dalam pengembangan ekonomi nasional. Letak geografis Kepri yang berada di jalur perdagangan internasional serta berdekatan dengan Singapura dan Malaysia menjadi modal penting untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi regional. "Selat Malaka adalah jalur ekonomi dunia, salah satu dari 10 checkpoint dunia. Setiap tahunnya dilalui sekitar 80 ribu kapal dan 70 juta kontainer. Kepri harus mampu mengambil manfaat lebih besar dari arus perdagangan internasional tersebut," tegas Ansar.

Kepulauan Riau sendiri telah menyiapkan sejumlah potensi investasi melalui pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Beberapa di antaranya adalah KEK Bintan Galang Batang yang fokus pada industri pengolahan smelter bauksit, KEK Batam Nongsa Digital Park sebagai pusat ekonomi digital dan jembatan IT Indonesia-Singapura, serta KEK Batam Aero Technic untuk layanan perawatan dan perbaikan pesawat. Selain itu, ada KEK Tanjung Sauh yang diarahkan untuk produksi, pengolahan, logistik, distribusi, dan energi, serta KEK Pariwisata Kesehatan Internasional Batam yang diproyeksikan menjadi pusat layanan kesehatan dan pariwisata medis bertaraf internasional.

Related Post