TERJAWAB! Obligasi Danantara Laris Manis, Investor Global Yakin RI

Author Image

Hadi Wibawa

16 Juni 2026, 08:25 WIB

Redaksibengkulu.co.id, Jakarta – Kepercayaan investor global terhadap prospek ekonomi Indonesia kembali terbukti dengan suksesnya penerbitan obligasi oleh Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara). Instrumen utang senilai US$ 1,5 miliar, setara dengan sekitar Rp 26,55 triliun (dengan kurs Rp 17.704), ini laris manis di pasar internasional, menandakan minat kuat dari para pemodal asing.

Rosan Roeslani, Chief Executive Officer (CEO) BPI Danantara, mengungkapkan bahwa obligasi global ini dibanjiri permintaan pesanan (order book) yang sangat kuat, disertai imbal hasil (yield) yang relatif rendah. Ini menjadi indikator jelas tingginya kepercayaan investor. Obligasi tersebut ditawarkan dalam dua tenor, yaitu lima tahun dengan yield 5,35% dan 10 tahun dengan yield 5,95%. Keberhasilan ini bahkan menarik perhatian media internasional sekelas Bloomberg, yang melaporkan dengan judul "Danantara Sells Dollar Bond, a Win for Prabowo After Rout". Lebih lanjut, obligasi ini mengalami kelebihan permintaan (oversubscribe) hingga 3,0 kali, dengan puncak pemesanan mencapai US$ 4,6 miliar atau sekitar Rp 81,40 triliun.

TERJAWAB! Obligasi Danantara Laris Manis, Investor Global Yakin RI
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

"Penerbitan obligasi kami ini memang sangat sukses, baik dari sisi permintaan maupun imbal hasilnya yang relatif rendah," jelas Rosan dalam konferensi pers di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, baru-baru ini. Ia menambahkan, jika investor tidak memiliki kepercayaan, mereka pasti akan menuntut yield premium yang sangat tinggi. "Namun, ini tidak terjadi. Yield yang kami tawarkan bahkan sangat kompetitif," tegasnya.

Melihat tingginya minat investor, Rosan tidak menutup kemungkinan untuk kembali menerbitkan obligasi global, bahkan dengan tenor yang lebih panjang hingga 30 tahun. Menurutnya, hal ini didorong oleh pandangan investor asing terhadap stabilitas pertumbuhan ekonomi Indonesia. "Investor melihat bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia relatif stabil. Meskipun ada fluktuasi yang merupakan bagian dari siklus ekonomi, terutama di tengah ketegangan geopolitik dan geoekonomi global, Indonesia tetap dipandang tangguh," urai Rosan.

Rosan dengan tegas membantah keraguan beberapa pihak yang sebelumnya meragukan daya serap instrumen utang Danantara di pasar. Ia menekankan bahwa imbal hasil obligasi Danantara jauh lebih rendah dari perkiraan pasar. Pada fase book building, yield obligasi ini sempat diproyeksikan berada di kisaran 6% hingga 7%, namun realisasinya mampu ditekan lebih rendah.

"Ini adalah capaian yang luar biasa dan menjadi bukti nyata tingginya kepercayaan investor terhadap Indonesia," pungkas Rosan. Ia menambahkan, "Ini bukan sekadar asumsi, melainkan fakta yang terbukti. Kami telah melakukan penandatanganan pada 11 Juni lalu, dan dana tersebut dijadwalkan akan masuk ke rekening Danantara pada 18 Juni."

Related Post