Redaksibengkulu.co.id – India kini tengah bergerak senyap namun agresif dalam proyek ambisius mengubah batu bara menjadi gas. Langkah strategis ini bukan sekadar inovasi, melainkan respons mendesak untuk mengurangi ketergantungan masif pada impor energi. Dorongan ini semakin menguat pasca-gejolak geopolitik di Selat Hormuz, yang mengancam stabilitas pasokan minyak mentah, LPG, dan bahan baku pupuk global, termasuk ke India.
Dengan cadangan batu bara yang melimpah ruah, gasifikasi menjadi pilihan logis bagi New Delhi. Namun, para pakar energi, seperti yang dilaporkan Channel News Asia (CNA) pada Jumat (19/6/2026), menyoroti tantangan unik dan signifikan yang dihadapi India. Karakteristik spesifik batu bara India, kebutuhan air yang sangat besar dalam proses konversi, keterbatasan alokasi dana, serta kerangka kebijakan yang belum terintegrasi sempurna, menjadi ganjalan utama.

Berbeda jauh dengan pembangkit listrik konvensional yang membakar batu bara secara langsung, teknologi gasifikasi mengubahnya menjadi ‘syngas’ atau gas sintetis. Proses ini, yang sebenarnya telah dikenal selama berabad-abad, melibatkan pemanasan batu bara dan mereaksikannya dengan oksigen serta uap air. Hasilnya adalah syngas, campuran dominan karbon monoksida dan hidrogen. Syngas ini kemudian menjadi bahan baku serbaguna, dapat diolah menjadi pupuk, metanol, dimetil eter (DME) – yang berfungsi sebagai substitusi LPG – gas alam sintetis, hingga hidrogen. Bahkan, emisi karbon dioksida dari proses ini pun berpotensi ditangkap dan diubah menjadi produk bernilai tambah.
Also Read
Kendati demikian, para pakar mengingatkan bahwa gasifikasi batu bara hanya mampu menjadi solusi parsial, bukan pengganti total kebutuhan impor energi. Skala dan diversitas kebutuhan industri yang masif tidak memungkinkan transisi penuh dalam waktu singkat. Atanu Mukherjee, CEO Dastur Energy, sebuah firma konsultan transisi energi, menegaskan bahwa teknologi ini sebaiknya dipandang sebagai pilar penguat ketahanan energi dan perluasan portofolio sumber energi, bukan sebagai jalan pintas untuk mengakhiri ketergantungan impor. Mukherjee menambahkan, butuh waktu 10 hingga 15 tahun bagi Tiongkok untuk membangun industri gasifikasi batu bara hingga mencapai skala raksasa, mengindikasikan bahwa biaya proyek yang tinggi, kompleksitas teknologi, dan durasi pembangunan yang panjang menjadi penghalang utama pengembangan teknologi ini di masa lalu.
Namun, di tengah volatilitas pasokan energi global, minat terhadap gasifikasi batu bara kembali membara. India, sebagai salah satu importir energi utama, berada di garis depan percepatan ini. Bulan lalu, pemerintah India menyetujui paket insentif senilai US$ 3,9 miliar untuk mendorong proyek gasifikasi batu bara. Skema ini menawarkan subsidi hingga 20% dari biaya pembangunan pabrik dan pengadaan mesin baru, dengan harapan menarik investasi swasta berskala besar melalui lelang yang kompetitif. Tujuan utamanya jelas: memperkuat ketahanan energi, memaksimalkan pemanfaatan cadangan batu bara domestik, dan memangkas ketergantungan pada impor bahan bakar, pupuk, serta bahan baku industri kimia.
Tren serupa juga merambah negara-negara Asia lainnya. Tiongkok, misalnya, kini memiliki 13 proyek gasifikasi batu bara yang sedang dibangun atau dalam tahap perencanaan. Ini adalah upaya strategis untuk mengoptimalkan cadangan batu bara domestiknya sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor gas alam. Menurut laporan Bloomberg, dorongan ini kian menguat setelah konflik di Iran mengganggu pasokan energi dari Timur Tengah, menyingkap betapa rentannya Tiongkok terhadap impor minyak dan gas. Konsultan energi OilChem memperkirakan, proyek-proyek Tiongkok ini berpotensi menyumbang syngas setara dengan 12% dari total pasokan gas nasionalnya




