Redaksibengkulu.co.id – Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) mengeluarkan peringatan serius. Produksi gandum global diproyeksikan anjlok drastis pada periode 2026/2027. Penyebab utamanya adalah cuaca ekstrem yang melanda negara-negara produsen utama seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa, mengancam stabilitas pasokan pangan dunia dan berpotensi memicu gejolak harga.
Berdasarkan laporan Food Outlook edisi Juni 2026, FAO memperkirakan total produksi gandum global untuk periode Juli 2026 hingga Juni 2027 hanya akan mencapai 810,9 juta ton. Angka ini menandai penurunan signifikan sebesar 3,8% dibandingkan rekor tertinggi yang sempat dicapai pada tahun 2025. Sebuah kemunduran yang cukup mengkhawatirkan bagi pasar komoditas pangan.

Laporan tersebut merinci bahwa penyusutan hasil panen ini sebagian besar dipicu oleh kondisi cuaca buruk dan hasil panen yang lebih rendah di negara-negara eksportir utama. Selain itu, masalah margin keuntungan yang menyusut juga membuat para petani di beberapa wilayah kurang bergairah, mengurangi minat untuk menanam lebih banyak. Faktor-faktor ini secara kolektif menyebabkan menyusutnya luas area tanam dan memangkas prospek hasil panen secara signifikan.
Also Read
Di Amerika Serikat, misalnya, kondisi ini telah menyebabkan menyusutnya luas area tanam dan memangkas prospek hasil panen secara signifikan. Situasi serupa juga membayangi Australia, negara eksportir gandum kunci lainnya, yang pada akhirnya akan membatasi volume ekspor gandum ke pasar global. Pembatasan ini tentu saja akan berdampak domino pada negara-negara importir.
Dampak langsung dari kondisi ini sudah mulai terasa. FAO mencatat bahwa harga gandum internasional terpantau terus merangkak naik dan menguat dalam beberapa bulan terakhir. Kenaikan ini didorong oleh pembatasan pasokan dari eksportir utama dan ketidakpastian cuaca, terutama kekeringan parah yang melanda Amerika Serikat. Para pelaku pasar kini memantau ketat perkembangan cuaca dan kebijakan ekspor dari negara-negara produsen.
Meski demikian, FAO memproyeksikan bahwa pergerakan harga gandum di pasar global kemungkinan masih akan relatif terkendali dalam jangka pendek. Hal ini disebabkan oleh pasokan yang masih cukup aman di beberapa wilayah, khususnya Asia, ditambah dengan melemahnya permintaan impor dari beberapa kawasan. Kondisi ini memberikan sedikit ruang bernapas di tengah kekhawatiran global.
Secara keseluruhan, perdagangan gandum global diperkirakan menyusut sebesar 3,3%, menjadi 199,1 juta ton. Penurunan volume perdagangan ini terjadi karena negara-negara di Afrika Utara, Timur Tengah, dan sebagian Asia mulai mengerem pembelian impor. Mereka kini diuntungkan oleh peningkatan produksi domestik dan stok sisa (carryover stocks) yang melimpah, mengurangi ketergantungan pada pasokan internasional yang kini lebih mahal dan tidak pasti.




