India Jual BUMN Rp150 T: Strategi Darurat Atasi Defisit!

Author Image

Hadi Wibawa

8 Agustus 2026, 20:25 WIB

Redaksibengkulu.co.id, Jakarta – Menghadapi defisit fiskal yang terus membayangi selama bertahun-tahun, pemerintah India mengambil langkah drastis dengan menjual sebagian besar saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ke publik. Kebijakan ini ditempuh untuk mengumpulkan dana segar dan menjaga laju pertumbuhan ekonomi di tengah tekanan inflasi serta kendala fiskal yang kian berat. India menargetkan pengumpulan dana hingga Rp 150,33 triliun dari aksi korporasi ini.

Meskipun dikenal sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di antara kekuatan ekonomi global, India tidak luput dari ancaman perlambatan. Tekanan inflasi dan defisit fiskal yang melebar berpotensi menghambat pengeluaran pemerintah, sehingga divestasi BUMN menjadi pilihan strategis untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi tetap berjalan.

India Jual BUMN Rp150 T: Strategi Darurat Atasi Defisit!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Sejak awal tahun, pemerintah India telah melepas saham di setidaknya 10 perusahaan, meskipun kondisi pasar saat ini sedang lesu. Daftar perusahaan yang sahamnya dilepas meliputi nama-nama besar seperti Cochin Shipyard, Indian Railways Finance Corp (IRFC), NHPC, dan Coal India. Langkah terbaru yang paling signifikan adalah penjualan 6,5% saham di perusahaan asuransi jiwa terkemuka, Life Insurance Corporation of India (LIC). Dari transaksi ini, India berhasil meraup sekitar US$ 3,3 miliar atau setara Rp 59,06 triliun.

Penjualan saham LIC ini menarik minat investor berkat diskon 10% yang ditawarkan, membuat penawaran pembelian melampaui target yang ditetapkan. Secara keseluruhan, menurut data dari Prime Database, penyedia intelijen pasar India, aksi penjualan saham BUMN ini telah mengumpulkan lebih dari US$ 6,5 miliar atau sekitar Rp 116,33 triliun. Angka ini merupakan salah satu pengumpulan dana tertinggi dalam lebih dari satu dekade terakhir.

Para ahli menilai, pemerintah India berada di jalur yang tepat untuk mencapai target tahunan penggalangan dana sebesar 800 miliar rupee atau US$ 8,4 miliar (Rp 150,33 triliun) melalui berbagai penjualan saham BUMN. Hingga kini, lebih dari 65% target divestasi tahunan telah terpenuhi, menunjukkan komitmen kuat pemerintah dalam mengatasi tantangan fiskal.

Anubhuti Sahay, Kepala Riset Ekonomi India di Standard Chartered Bank, menyoroti pentingnya strategi ini. "Memanfaatkan hasil divestasi adalah strategi yang sangat bagus," ujarnya. Sahay menjelaskan bahwa selama bertahun-tahun, India jarang memenuhi target divestasi karena situasi fiskal yang relatif "nyaman". Namun, kini dengan risiko penurunan pendapatan dan peningkatan pengeluaran akibat beban subsidi yang lebih tinggi, penjualan saham ini ibarat "memanfaatkan aset berharga keluarga pada saat dibutuhkan."

Dana yang terkumpul dari divestasi ini diharapkan menjadi bantalan penting bagi India dalam menghadapi tantangan ekonomi makro yang semakin berat di masa mendatang, memastikan stabilitas fiskal dan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi negara tersebut.

Related Post