Redaksibengkulu.co.id – Konsumen di berbagai wilayah Indonesia dibuat terperangah dengan lonjakan harga cabai, khususnya cabai rawit merah, yang kini menembus angka fantastis Rp 90.000 per kilogram. Fenomena ini, menurut para petani, bukan tanpa sebab. Gangguan produksi akibat cuaca ekstrem dan krisis air menjadi biang keladi utama di balik meroketnya komoditas pedas ini.
Ketua Asosiasi Champion Cabai Indonesia, Tunov Mondro Atmojo, mengungkapkan bahwa tren kenaikan harga ini sudah mulai terasa di tingkat petani sejak pertengahan Agustus lalu. Ia menegaskan, faktor dominan di balik krisis ini adalah ketersediaan air yang menipis akibat cuaca sangat panas dan dampak El Nino. "Penyebab kenaikan ini murni karena faktor cuaca yang mengakibatkan ketersediaan air habis. Tanaman cabai yang sudah kami tanam akhirnya hanya mengandalkan tanaman eksisting yang sedang berproduksi," jelas Tunov kepada redaksibengkulu.co.id.

Kondisi iklim yang ekstrem ini, dengan suhu tinggi dan minimnya pasokan air, menyebabkan pohon cabai mengalami gagal bunga, sehingga produksi bunga baru terhenti. Akibatnya, petani hanya bisa merawat sisa cabai yang masih bertahan di pohon. Tunov bahkan menyuarakan kekhawatiran serius akan penurunan produksi yang signifikan di tingkat produsen. Upaya petani untuk melakukan penanaman kembali seringkali kandas karena bibit tidak mampu bertahan hidup tanpa pasokan air yang memadai. "Keadaan cuaca seperti ini sangat mengkhawatirkan. Stok nasional diperkirakan akan terus berkurang dalam tiga bulan ke depan," tambahnya.
Also Read
Meskipun demikian, Tunov menyebut bahwa pemerintah telah mulai menyalurkan bantuan, seperti pembangunan sumur bor dan pipanisasi di wilayah sentra produksi, meski diakui agak terlambat. Pihaknya juga telah mengambil langkah antisipasi dengan memaksimalkan stok air lahan untuk menanam tanaman baru. "Bantuan pemerintah sudah mulai turun, meski agak terlambat, yaitu sumur-sumur bor dan pipanisasi yang diperuntukkan bagi tanaman cabai di berbagai wilayah sentra," imbuhnya.
Senada dengan Tunov, Ketua Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI), Abdul Hamid, turut mengamini bahwa kenaikan harga cabai ini murni dipicu oleh gangguan produksi di daerah-daerah sentra. Ia menjelaskan, meskipun beberapa daerah di Jawa Timur seperti Jombang, Kediri, dan Blitar masih mampu menghasilkan panen, volumenya dilaporkan sangat minim. Gangguan produksi akibat cuaca ini diprediksi masih akan memengaruhi volume panen hingga bulan Oktober mendatang, sebelum pasokan diperkirakan mulai mencukupi kembali pada November. "Mungkin diperkirakan volume panen, ini masalahnya karena cuaca, diperkirakan sampai dengan Oktober. Tapi pada November sudah cukup," kata Abdul kepada redaksibengkulu.co.id.
Gangguan produksi ini secara langsung menciptakan disparitas harga yang signifikan. Di tingkat petani, harga cabai saat ini berkisar antara Rp 53.000 hingga Rp 65.000 per kilogram. Sesampainya di pasar induk, harga tersebut terkerek naik menjadi Rp 70.000 hingga Rp 75.000 per kilogram. Puncaknya, harga menyentuh angka Rp 90.000 hingga Rp 95.000 per kilogram saat dibeli oleh konsumen akhir di pasar. "Di tingkat petani sekarang sekitar Rp 53.000 sampai Rp 65.000/kg, kalau kita lihat di pasar induk bisa sampai Rp 70.000 sampai Rp 75.000. Kalau ibu-ibu belanja sekitar Rp 90.000 sampai Rp 95.000 lah," jelasnya.
Data dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) Bank Indonesia (BI) turut mengonfirmasi tren kenaikan ini. Kenaikan paling tajam tercatat pada cabai merah keriting yang melesat hingga 9% menjadi Rp 62.950/kg. Sementara itu, cabai rawit merah juga ikut melonjak 7,2% ke level Rp 90.050/kg.




