Awas! The Fed Bikin Harga Emas Terjun Bebas?

Author Image

Hadi Wibawa

17 September 2026, 11:46 WIB

Redaksibengkulu.co.id melaporkan, pasar logam mulia global tengah menghadapi tekanan signifikan menyusul keputusan Bank Sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve atau The Fed, yang kembali menaikkan suku bunga acuannya. Kebijakan ini secara langsung memperkuat dolar AS dan mendongkrak imbal hasil obligasi pemerintah Paman Sam, menciptakan sentimen negatif yang diperkirakan akan terus menekan harga emas dunia (XAUUSD). Analis dari Dupoin Futures, Geraldo Kofit, bahkan memprediksi harga emas berpotensi anjlok hingga menyentuh level Rp 2,38 juta per gram.

Geraldo Kofit mengamati bahwa tekanan terhadap harga emas dunia telah kentara sejak perdagangan Kamis (17/9/2026). Dalam analisisnya, pergerakan harian logam mulia ini masih menunjukkan kecenderungan melemah, dengan potensi penurunan lebih lanjut menuju area support krusial di kisaran US$ 4.235 – US$ 4.186 per troy ons, atau setara dengan Rp 2,41 juta hingga Rp 2,38 juta per gram. Ia menegaskan, selama harga emas belum berhasil menembus level resistance US$ 4.318 per troy ons atau Rp 2,46 juta per gram, tren penurunan diperkirakan akan terus berlanjut. Level ini dianggap vital karena penembusan resistance tersebut dapat mengubah dinamika pergerakan harga emas secara signifikan.

Awas! The Fed Bikin Harga Emas Terjun Bebas?
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

"Jika XAUUSD gagal melewati batas US$ 4.318 per troy ons, tekanan jual kemungkinan besar akan terus mendominasi pasar," ungkap Geraldo dalam pernyataan resminya. Ia menambahkan, pergerakan harga emas saat ini sangat sensitif terhadap arah kebijakan moneter AS. Kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin (bps), disertai sinyal kuat akan potensi kenaikan lanjutan tahun ini, menjadi faktor penentu. Suku bunga yang lebih tinggi secara inheren meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar, seperti obligasi AS, sehingga mengurangi minat investor terhadap emas yang tidak menawarkan imbal hasil bunga.

Penguatan dolar AS ke level tertinggi dalam tujuh minggu pasca-keputusan The Fed menjadi beban berat bagi XAUUSD. Geraldo menjelaskan, dolar yang perkasa membuat emas, yang diperdagangkan dalam mata uang tersebut, menjadi lebih mahal bagi investor dengan mata uang lain, secara otomatis menekan permintaan. Selain itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury yield) yang tetap tinggi, dengan yield Treasury 10 tahun di sekitar 5%, semakin memperbesar biaya peluang (opportunity cost) bagi investor yang memegang emas, mengingat logam mulia ini tidak memberikan bunga. "Oleh karena itu, fluktuasi yield obligasi AS menjadi barometer krusial yang akan menentukan arah tekanan harga emas dalam waktu dekat," tegasnya.

Namun, tidak semua indikator fundamental memberikan sentimen negatif. Penurunan harga minyak dunia, misalnya, berpotensi meredakan kekhawatiran inflasi di pasar. Harga energi yang lebih rendah dapat mengurangi tekanan inflasi, yang pada gilirannya bisa memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed di masa mendatang. Geraldo juga menyoroti pentingnya faktor geopolitik. Ketegangan yang terus berlanjut di kawasan Timur Tengah berpotensi memicu peningkatan permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven. "Dalam situasi ketidakpastian geopolitik, banyak investor cenderung mengalihkan dananya ke aset yang dianggap mampu melindungi nilai dari risiko pasar. Sentimen ini berpot

Related Post